Watchdoc Raih Ramon Magsaysay Award.

Foto Doc Watchdoc Documentary.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Ramon Magsaysay Award Foundation mengumumkan Watchdoc Documentary Maker berhak menerima penghargaan Ramon Magsaysay untuk kategori “Emergent Leadership.

Penghargaan ini diberikan karena melalui karya film dokumenter, Watchdoc dinilai mampu mengedepankan beragam isu, baik sosial, lingkungan, maupun hak asasi manusia ke hadapan publik. Watchdoc juga dinilai telah berkontribusi memberi perhatian terhadap kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

Bersama Watchdoc, ada empat penerima penghargaan Ramon Magsaysay dari berbagai negara di Asia. Ada ilmuwan Firdaus Qadri dari Bangladesh yang mengembangkan vaksinasi berbagai penyakit, dan Amjad Saqib dari Pakistan yang menciptakan kredit berbunga nol persen untuk jutaan warga miskin.

Sementara dari Filipina, seorang nelayan bernama Roberto Ballon juga memperoleh penghargaan ini atas usahanya menyelamatkan mata pencaharian ribuan nelayan lewat gerakan konservasi laut dan pesisir.

Lalu Steven Muncy yang puluhan tahun bekerja untuk pengungsi perang, bencana alam, hingga konflik sosial di negara-negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Laos, Thailand, dan Filipina.

Penghargaan Ramon Magsaysay diambil dari nama Presiden Filipina yang tewas dalam kecelakaan pesawat di tahun 1957. Ia dianggap telah membawa Filipina ke masa keemasan dengan iklim demokrasi yang baik dan bebas korupsi.

Beberapa tokoh pernah menerima penghargaan yang kerap disebut sebagai “Hadiah Nobel Versi Asia” ini, seperti Dalai Lama dari Tibet pada tahun 1958 atau Bunda Teresa pada tahun 1962.

Sementara dari Indonesia ada sejumlah nama seperti Gubernur Jakarta Ali Sadikin (1971), Gus Dur (1993), Pramoedya Ananta Toer (1995), serta KPK (2013).

Penghargaan Ramon Magsaysay menggenapi penghargaan internasional sebelumnya yang telah diterima Watchdoc, yakni Gwangju Special Prize for Human Rights, Korea di awal tahun 2021.

Watchdoc adalah rumah produksi audio visual yang berdiri sejak 2009. Telah memproduksi 165 episode dokumenter, 715 feature televisi. Dalam film dokumentarinya acap membuat tak nyaman kekuasaan. (G20).

BACA JUGA :  Setiawan: Pengembangan BRT di Kawasan Cekungan Bandung Kurangi Kemacetan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *