Fintech Dorong Perubahan di Indonesia.

Foto Doc Istimewa.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Financial technology (fintech) telah mengubah cara berpikir, perilaku dan kebiasaan masyarakat pada masa kini. Meningkatnya penetrasi internet telah menjadi stimulus tumbuhnya fintech di Indonesia.

Hal tersebut menjadi benang merah yang terangkum dari acara Digital Talkshow dan bedah buku Ekosistem Fintech di Indonesia yang digelar secara virtual oleh Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula),Semarang, Kamis (26/8/2021).

Dalam diskusi itu, hadir duet penulis buku Prof Ilya Avianti dan Triyono Serta dosen Unissula Dr Mutamimah. Turut pula memberikan sambutannya Rektor Unissula, Drs. Bedjo Santoso MT PhD.

“Fintech dalam beberapa dekade ini telah menjadi industri yang berkembang di Indonesia. Potensi ratusan juta penduduk Indonesia disertai dengan penetrasi internet yang hampir mencapai angka 75 persen terus mendukung pertumbuhan fintech, khususnya di masa pandemi Covid-19,” kata Rektor Unissula dalam kata sambutannya.

Bedjo menyebut pertumbuhan drastis dari fintech itu bisa dilihat dari jenis peer-to-peer lending (P2P). Menurut data, kata dia, fintech ini tumbuh drastis dan meningkat 91 persen di masa pandemi.

“Bahkan mencapai Rp 181 triliun sampai dengan Mei 2021. Maka, pasar fintech sudah luar biasa dengan adanya transaksi keuangan berbasis digital ini,” ujarnya.

Ilya menjelaskan kehadiran dan peran fintech ini telah membantu masyarakat Indonesia menjadi melek keuangan.

Dalam hal ini, kata dia, masyarakat menjadi mampu memanfaatkan jasa keuangan yang pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Di sinilah fintech itu dikatakan sebagai game-changer karena mampu mengubah cara pikir, perilaku, serta kebiasaan masyarakat,” jelas guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran ini.

Dalam kesempatan tersebut, Ilya juga menjelaskan inklusi keuangan sebagai satu kondisi di mana masyarakat memiliki akses pada layanan keuangan yang aman. Namun, terdapat juga literasi keuangan yang menggambarkan bagaimana masyarakat kita paham terhadap industri keuangan.

BACA JUGA :  Diskusi Bersama BPOM; Tidak Ada Toleransi untuk Kemasan Mengandung BPA bagi Bayi, Balita dan Janin.

Menurutnya, masyarakat Indonesia seringkali lupa memanfaatkan perbankan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pada tahun 2019, literasi keuangan masyarakat Indonesia meningkat 38 persen seiring dengan inklusi keuangan yang juga meningkat 76,19 persen,” jelas Ilya.

Triyono memaparkan ekosistem keuangan fintech dan perubahan perilaku masyarakat terhadap pertumbuhan FinTech yang identik dengan inovasi di masa yang akan datang.

Ia mengilustrasikan fintech itu seperti sebuah ekosistem keuangan layaknya danau kecil yang ada di sebuah hutan.

“Fintech perlu hidup dalam ekosistem yang cocok. Pohon-pohon (lembaga keuangan) adalah pasar modal, asuransi, dan perbankan. Terdapat juga ikan-ikan atau kura-kura (nasabah) yang mengelilingi. Maka, fintech berperan di tengah-tengah dan menjadi hidup dengan adanya lembaga keuangan dan penyedia teknologi guna memperkaya ekosistem ini,” jelasnya, yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Group Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini.

Dalam melihat ekosistem fintech di Indonesia ini, Triyono membaginya ke dalam tiga bagian, yaitu banking, crowdfunding, dan payments. Fintech ini, kata dia, sebenarnya spesies baru yang datang di ekosistem keuangan.

“Dengan berkolaborasi dengan super apps, big tech, artificial intelligence, dan blockchain, maka akan bisa berkembang lebih pesat dan memberi kontribusi lebih besar lagi,” kata Triyono.

Pada sesi terakhir, Dr. Mutamimah, memberikan apresiasi terhadap buku Ekosistem Fintech di Indonesia yang dituliskan oleh Ilya Avianti dan Triyono ini. Ia mengatakan sebelum adanya buku ini, informasi terkait fintech di internet itu banyak terpotong dan tidak lengkap. Ia menambahkan, isi dari buku ini sangat menarik dan komunikatif.

“Buku ini disajikan menggunakan bahasa yang ringan sehingga pembaca mampu mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Riset-riset yang dipaparkan dalam buku merupakan riset terbaru dan lengkap,” kata Mutamimah dalam membedah buku berdasarkan tampilan, substansi, serta simpulannya.

BACA JUGA :  Doa Ganjar untuk Jokowi : Sehat Selalu, Terus Berkarya dan Gemati pada Rakyat

Adanya pandemi Covid-19 ini, kata Mutamimah, telah memaksa masyarakat Indonesia untuk mengubah pola pikir dan cara bertindak.

Saat ini, sebagian besar kegiatan dilakukan dengan basis teknologi diiringi dengan pertumbuhan penggunaan internet yang semakin cepat. “Di sinilah terjadi dukungan yang sangat penting terhadap pengetahuan fintech untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Kegiatan bincang ekonomi bertajuk “The Power of FinTech Became Game Changer and New Hope For Financial Industry” ini sesungguhnya sebagai ikhtiar dari Unissula untuk memperingati Gebyar Muharram 1443 H. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *