Jaga Jarak Menjadi Self Protection, Pertahankan Kapasitas Angkut KA:Oleh Budi Nugraha

BEPERGIAN dengan kereta api (KA) memang sangat menyenangkan, di siang hari sepanjang perjalanan kita dapat menikmati indahnya ragam panorama alam, aneka romantika kehidupan masyarakat, serta melihat dan mengenali sebagian wajah kota yang dilalui. Tidak hanya di Jawa, juga di Sumatera – terlebih kalau proyek Trans Sumatera Railways selesai dikerjakan – bahkan juga bakal ada layanan angkutan KA Trans Sulawesi dan Trans Kalimantan.

Perjalanan malam hari memang tak dapat melihat dengan jelas ketiga hal di atas. Tetapi jangan lupakan, dengan layanan KA masa kini yang kian nyaman – baik kelas Eksekutif, Bisnis maupun Ekonomi – memungkinkan pengguna jasa KA menikmati tidur yang nyenyak, bahkan jelang tiba di stasiun tujuan dapat menyegarkan badan dengan mandi di toilet yang tersedia. Kalangan pembisnis dapat merasa segar (fresh) saat turun dari KA dan menemui kliennya di kota tujuan. Artinya pengguna layanan KA dalam perjalanan malam hari dapat bebas dari biaya akomodasi (hotel) di kota tujuan.

Wajar kalau jumlah penumpang KA mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data yang penulis kutip dari situs www.bps.go.id, jumlah penumpang KA selama tahun 2011 – 2018 meningkat setiap tahunnya. Tetapi sayang sekal – what a pity – trend peningkatan itu terhenti pada tahun 2019 sampai tahun 2021 setelah Pandemi Covid-19 sebagaimana terlihat pada Tabel berikut ini.

Dari data di atas, sepanjang tahun 2011 – 2018 pada tahun 2014 memperlihatkan peningkatan jumlah penumpang paling spektakuler, sebesar 25,8 %. Kalau dihitung pertumbuhan selama periode tersebut rata-rata peningkatannya sebesar 11,63 % pertahun. Rata-rata jumlah penumpang selama periode ini adalah 49.160 Ribu perbulan.

Sayang sekali, setelah mewabahnya Covid-19, tahun 2019 jumlah penumpang KA mengalami penurunan sebesar 2,15 % dibandingkan tahun 2018, bahkan pada tahun 2019 penurunan itu menjadi lebih besar lagi pada tahun 2020 yaitu sebesar 54,94 % dari jumlah penumpang tahun 2019.
Ini akibat mewabahnya Covid-19, yang menghadapkan PT KAI dengan sejumlah aturan yang disebut Protokol Kesehatan (Prokes) untuk mencegah penularan wabah Covid-19. Ruang gerak PT KAI untuk meningkatkan jumlah penumpang KA menjadi sempit. Prokes Covid-19 telah mengurangi kapasitas angkut karena adanya tempat duduk yang harus dikosongkan sesuai syarat social distancing dan adanya beberapa perjalanan KA jarak jauh yang terpaksa dibatalkan,

Di sisi lain sejumlah peraturan yang terkait dengan pencegahan penularan Covid-19, juga berdampak pada penurunan animo masyarakat untuk bermobilitas. Maklum, banyak hal yang harus menjadi pertimbangan untuk bermobilitas. Aneka biaya untuk pemenuhan persyaratan bermobilitas, terkadang lebih besar dari biaya transportasinya. Terlebih saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), jumlah penumpang yang naik KA mengalami penurunan drastis pada tahun 2020.

BACA JUGA :  J&T Express Gelar Program Kompetisi dan Inkubator bagi Pebisnis Muda

Bahkan data semester I Tahun 2021 rata-rata jumlah penumpang perbulan 81.941 : 6 = 13.656 Ribu. Bandingkan dengan rata-rata jumlah penumpang tahun 2018 sebesar 422.169 : 12 = 35.181 Ribu penumpang perbulan. Jumlahnya menurun drastis (35.181–13.656) / 35.181 x 100 % = 61 % penurunannya. Dan entah sampai kapan semua ini akan berakhir, sehingga sangat diharapkan agar kita semua dapat berpikir ulang – rethinking – untuk kemungkinan melakukan rasionalisasi Prokes Covid-19.

Rethinking …….

Tulisan ini bukan bermaksud memandang ringan Prokes Pencegahan Covid-19, tetapi mengajak kita semua untuk berpikir dan memikirkan ulang atas sejumlah aturan pencegahan Covid-19. Sebab, aneka aturan yang diberlakukan selama ini tidak hanya membatasi survivenya PT KAI dan sejumlah perusahaan pengangkutan lainnya, tetapi juga mendorong kemungkinan kebangkrutan yang dapat mengancam perekonomian nasional.

Terlebih ketika implementasi sejumlah aturan juga berdampak pada social resistance, yang dapat memicu konflik bahkan menimbulkan kerawanan atau kerusuhan sosial. Rethinking menjadi sesuatu yang urgen – memiliki urgensi yang tinggi – untuk mencegah terjadinya keterpurukan perekonomian nasional. Mencegah penularan wabah Covid-19 memang penting, tetapi cara pencegahan juga harus dipilih yang dampak buruknya paling minim. Ayo, rethinking….!!

Ayo kita analisis Prokes 3M, mencuci tangan dengan air yang mengalir, memakai masker dan menjaga jarak antar sesama. Kalau sudah memenuhi dua M, mencuci tangan dan memakai masker, apa tidak bisa menghilangkan kewajiban M yang ketiga, menjaga jarak ?. Atau menggantikannya dengan yang lain, sehingga tidak berdampak pada penurunan kapasitas angkut KA dan jumlah penumpang yang diangkut tetap mengalami pertumbuhan.

Kemudian, Ayo kita analisis juga persyaratan administratif untuk berpergian. Rapid Test dengan mengukur suhu badan saja apa tak cukup ? Kenapa masih memerlukan dokumen hasil pemeriksaan antigen, yang masa berlakunya juga dibatasi. Padahal untuk mendapatkan hasil pemeriksaan perlu biaya, bukan gratis. Biayanya sering kali lebih mahal dari ongkos angkutannya. Bukankah hal ini menjadi pemicu turunnya minat masyarakat untuk bermobilisasi.

Aprreciate to PT KAI ……….

Dera “derita” yang dialami memang tetap membuat jajaran PT KAI tegar. Kerugian dari menurunnya jumlah penumpang KA, selama masa Pandemi Covid-19, beban sejumlah biaya tambahan untuk melayani penumpang KA. Mempersiapkan peralatan “dekontaminasi” pada setiap pintu masuk dan keluar stasiun, “sterilisasi” sarana dengan penyemprotan cairan disinfektan, melengkapi alat pelindung diri (APD) bagi petugas frontliner, bahkan menyediakan “kithealthy” berupa “face shield” dan tisue gratis pada penumpang KA jarak jauh tidak membuat manajemen berkeluh kesah.

PT KAI juga menyediakan fasilitas pelayanan pemeriksaan kesehatan – test negatif Covid-19 – pada calon penumpang KA. Ada 83 stasiun di Jawa dan Sumatera yang difasilitasi pemeriksaan Rapid Test Antigen, serta 12 stasiun menyediakan layanan Vaksinasi, sementara pada sejumlah stasiun di Jawa dan Sumatera yang melayani angkutan penumpang juga dipersiapkan alat pendeteksi suhu badan calon penumpang.

BACA JUGA :  Webinar Literasi Keuangan “Berani Mimpi, Mulai Aksi”, Komitmen BCA Berikan Edukasi Keuangan Bagi Generasi Muda  

Semua ini merupakan wujud “pagar betis” pihak PT KAI dalam mencegah penularan Cofid-19, sehingga selama masa Pandemi tidak pernah terjadi penumpang KA yang terpapar Covid-19. Bahkan pada tahun 2021 PT KAI berkomitmen terus meningkatkan daya tahan perusahaan di masa pemulihan ekonomi pada era pandemi Covid-19 yang masih mewabah. Berbagai langkah yang akan dilakukan meliputi transformasi digital, organisasi, dan proses bisnis.

“Di masa pandemi kita bekerja extraordinary, tidak seperti biasa. Kami optimis dapat bangkit dan terus bertumbuh di tahun ini dengan berbagai langkah yang Adaptif, Solutif, dan Kolaboratif untuk Indonesia,” ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo, sebagaimana dipublikasikan Public Relations KAI melalui situs www.kereta-api.co.id.

Wujud kongkrit atas statement ini, PT KAI senantiasa patuh pada apa yang diinstruksikan Satgas Covid-19. Sebagaimana dilansir Traveloka selaku mitra bisnis PT KAI, mulai 26 Juli 2021 hingga waktu yang ditentukan kemudian ditetapkan 8 syarat yang harus dipenuhi calon penumpang KA, sehingga “pagar betis” yang dibuat PT KAI semakin rapat.

Wajar kalau banyak pihak mengapresiasi PT KAI yang dalam derita masih tetap tegar, bahkan masih peduli melakukan “gebyar” tanggung jawab sosial melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). “Program Rail Clinic” Bakti sosial pelayanan pengobatan gratis serta sosialisasi tentang pandemi Covid-19 dan upaya pencegahannya, pembagian masker, face shield, dan vitamin kepada penumpang di stasiun dan masyarakat di sekitar proses bisnis kereta api merupakan salah satu wujud CSR yang dilakukan.

Selain melalui Program Rail Clinic, juga ada beberapa program yang sesuai dengan prinsip Creating Shared Value (CSV) sekaligus mengadopsi ISO 26000. Program bagi masker gratis, program bantuan sarana pendidikan di masa pandemi Covid-19, program bagi sembako senilai Rp1 miliar, dan program peningkatan pariwisata pesona Indonesia, berupa pembangunan toilet wisata di Kawasan Gunung Bromo untuk mendukung dan meningkatkan wisata di Indonesia.

Urgensi rasionalisasi ……….

Meskipun demikian, mengingat masa Pandemi Covid-19 ini belum dapat dipastikan kapan akan berakhir, maka sejalan dengan rethinking di atas, untuk mencegah keterpurukan perekonomian nasional, rasionalisasi Prokes Covid-19 menjadi sesuatu yang urgen dilakukan. Tentunya wajib diikuti dengan lebih merapatkan lagi “pagar betis” yang sudah ada selama ini.

Hal yang paling utama untuk dirasionalisasi adalah menjaga jarak sebagai M ketiga dari 3M, Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga Jarak. Sebab kalau 2M pertama dan kedua sudah dilakukan seseorang, kita haruslah meyakini pada diri mereka sudah tidak ada lagi virus Covid-19. Kalau masing-masing orang sudah kita yakini steril dari virus Covid-19, kenapa harus jaga jarak yang berdampak pada penurunan jumlah penumpang KA, tidak rasional kan !!.

BACA JUGA :  Menko : Pemerintah Percaya Produk Riset dan Inovasi Mampu Dorong Pergerakan Perkonomian

Untuk memperkuat keyakinan bahwa Memakai masker dan Mencuci tangan sudah steril, bila perlu M ketiga yang semula Menjaga jarak diganti dengan Melindungi diri (self protection). Caranya, setiap orang yang akan naik KA disyaratkan membawa hand-sanitizer, memakai baju lengan panjang atau memakai jacket, serta memakai sarung tangan, sehingga “pagar betis” untuk mencegah penularan virus Covid-19 semakin rapat dan ketentuan jaga jarak menjadi tidak rasional.

Selanjutnya persyaratan administratif – menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19 dari hasil tes rapid antigen maksimal H-1 atau PCR maksimal H-2, menunjukkan kartu atau sertifikat vaksin minimal 1 dosis, apakah semua ini rasional ? Apakah tidak cukup dengan pemeriksaan suhu badan, sepanjang suhu badan tidak lebih 37,3 °C, ya tidak rasional lagi mempersyaratkan dokumen bebas Covid-19 dan sertifikat vaksin.

Kalau seseorang sudah mencuci tangan, memakai masker dan melindungi diri – membawa hand-sanitizer, memakai baju lengan panjang atau memakai jacket, serta memakai sarung tangan – ya kita harus meyakini bebas Covid-19. Sementara di atas KA – yang senantiasa disterilkan dengan menyemprotkan cairan disinfectan – juga harus diyakini bebas dari virus Covid-19. Rasionalisasi persyaratan dokumen ini akan meringankan prosesi pemeriksaan di pintu masuk.

***********

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, tulisan ini bukan bermaksud memandang ringan Prokes Pencegahan Covid-19, tetapi mengajak kita semua untuk berpikir dan memikirkan ulang sejumlah aturan pencegahan Covid-19. Sebab, aneka aturan yang diberlakukan selama ini tidak hanya membatasi survivenya PT KAI dan sejumlah perusahaan pengangkutan lainnya, tetapi juga mendorong kemungkinan kebangkrutan yang berdampak ancaman pada perekonomian nasional.

Selayaknya kita mengapresiasi insan KAI yang tetap tegar, siap berkerja secara extraordinary, mengambil langkah yang Adaptif, Solutif, dan Kolaboratif. Melakukan “pagar betis” mencegah penularan Covid-19, sehingga belum pernah ada penumpang KA yang terpapar Covid-19. Ayo, rasionalisasikan “jaga jarak” menjadi “self protection” untuk mempertahankan kapasitas angkut KA. Melalui rasionalisasi kita hentikan derita PT KAI tanpa menunggu berakhirnya Pandemi Covid-19. SemogaSemoga. (Budi Nugraha/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *