Happy Birthday Sahabatku; Neta S Pane

Yon Moeis. (Foto Doc Pribadi).

Oleh Yon Moeis.

SEHARUSNYA KITA
BERANGKAT KE KOTA MASOHI …. “.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — NETA, sahabatku, nanti malam kami akan kumpul. Bukan di sop kambing langganan kita di depan Terminal Rawamangun, bukan pula di rumah makan Padang “Sederhana”, dan bukan pula di cafe Hotel Ambhara, Kebayoran Baru. Tapi di “Kandang Ayam”; rumah kita; tempat kita mencari dan menemukan kepastian-kepastian.

Malam nanti, saya dan teman-teman, kumpul untuk mengirim doa tuk Neta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kita “memaksa” Neta meniup lilin sambil berebut menyanyikan “happy birthday to you” — lagu yang ditulis Mildred Hill, guru Taman Kanak-Kanak di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, dan, selanjutnya berdoa bersama sebelum menikmati makan malam. Malam nanti, kami akan “menghadirkan” Neta.

Neta, seharusnya pula kita berangkat ke Masohi; kota di Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Kota yang terletak di tepian Teluk Elpaputih, di selatan Pulau Seram, itu, penuh dengan keindahan-keindahan. Kita sudah berencana menikmati malam sambil makan ikan bakar di sana.

Ke Masohi adalah rencana lama kita tuk memenuhi ajakan bang Sihar Sitorus. Tapi selalu tertunda karena situasi tak memungkinkan. Bahkan bang Sihar menawarkan kita berangkat dengan “private jet”.

Neta, aku bangga karena Neta mengingatkan aku; bahwa kita bukan manusia-manusia mumpung. Aku ingat bagaimana cara Neta menolak diberangkatkan dengan “PJ” tawaran bang Sihar. “Tidak usahlah kita berangkat naik pesawat pribadi, terlalu mewah tuk kita. Kita tunggu situasi membaik saja.”

Neta, sahabatku, aku tuang kembali tulisan tahun lalu tuk memperingati ulang tahun Neta. Betapa bangga aku dengan Neta.

LELAKI BERHATI SINGA

NETA Saputra Pane — ibarat pemain sepak bola, dia termasuk libero terbaik dunia, bisa sejajar dengan Franz Beckenbauer, Ronald Koeman, dan Franco Baresi. Permainan dan “gerakan tanpa bola” Neta, mengagumkan. Akurasi umpan Neta terjaga dengan baik. Dia mengawal pertahanan tidak dengan menyakiti kaki lawan.

BACA JUGA :  Imajinasi.

Tapi, bukan berarti Neta tidak bisa bermain keras. Dia memanfaatkan lebar lapangan dengan sempurna dan, sesekali lawan dibuat kecut hati jika dia sudah berada di jantung pertahanan lawan.

Semua itu, setidak-tidaknya, saya lihat setiap kali menemani dia makan; di warung pinggir jalan atau di hotel mewah. Neta menikmati setiap suap yang ia kunyah dan tidak pernah menyisakan makanan di piring, sekali pun hanya sebutir nasi.

Neta Pane adalah kawan yang menyenangkan. Sahabat yang mengasyikkan. Kemana pun kami pergi, dia tetap mematuhi protokol pertemanan.

Neta Saputra Pane — dia lahir di Medan, 18 Agustus 1964 — adalah putra terbaik Endar Pane dan Tapi Rumondang Siregar — orang tua yang ia hormati dan sayangi.

Karier jurnalistik Neta dimulai di Harian Merdeka pada 1984 dan menjadi Redaktur Pelaksana termuda di koran milik BM Diah, itu, pada 1991. Kemudian singgah di Harian Terbit sebagai Asredpel, Tabloid Aksi menduduki kursi Redpel, dan Wapempred di SK Jakarta.

Pada 1989, Neta mendirikan Indonesia Police Watch (IPW). Sebagai ketua presidium, Neta aktif sebagai nara sumber. Neta menulis sejumlah buku; “Jangan Bosan Kritik Polisi” dan “Sejarah dan Kekuatan ‘Gerakan Aceh Merdeka’, Solusi, Harapan, dan Impian”.

Neta yang ketika SD dan SMP menjadi loper koran itu, kadangkala membuat kuping banyak orang panas, terutama jika dia sudah bicara masalah-masalah kepolisian yang, saya sebut, Neta tiba-tiba mengaum karena ada singa di hatinya.

Untuk urusan polisi dan wanita, saya dan Neta berbeda; ilmu saya tidak nyampe. Tapi, tuk urusan kuliner, kami satu perasaan.

“Neta, sahabatku, happy birthday, dengarlah doa kami; kawan-kawan yang mencintai Neta yang, sangat menyesal Neta pergi karena tidak bisa berbuat apa-apa dan, seolah membiarkan Neta pergi begitu saja … ” (Bb-69)

BACA JUGA :  Hai Kawan, Percayalah: Pers & Wartawan Never Die.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *