Tommy F. Awuy; Retak- Rekat Adalah Sifat Dasar Bangsa Indonesia.

Tommy F. Awuy (Foto Doc Istimewa).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Realitas sosiologis, atau sifat dasar bangsa Indonesi adalah terpecah-pecah, atau retak sekaligus ajaibnya, merekat dengan sendirinya.

Demikian dikemukakan pengajar filsafat Universitas Indonesia, Tommy F. Awuy. Menurut Tommy yang saat ini menetap di Bali, filsafat “retak-rekat” sangat menjelaskan ontologi sosiologis bangsa Indonesia kiwari.

Karena itulah, keretakan merupakan kondisi obyektif bangsa Indonesia. Sebuah nation yang terdiri dari ratusan etnik, bahasa, agama, tradisi dan budaya tidak mungkin ada tanpa ada keretakan.

Keberagaman bangsa Indonesia merupakan serpihan-serpihan yang potensial menimbulkan keretakan. Dengan kata lain keretakan adalah nature, atau sunnatullah bangsa Indonesia.

Namun demikian Tommy juga mengingatkan bahwa di sisi lain bangsa ini jugam nature merekatkan. Nature merekatkan ini sebagai respon alamiah terhadap kondisi retak yang ada dalam bangsa Indonesia.

Dialektika rekat-retak ini, sebagaimana dicatat Al Zastrouw Ngatawi, selalu mewarnai dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia sejak negeri ini berdiri. Sebagai bangsa yang sedang dalam proses menjadi (on going process), sampai saat ini bangsa Indonesia,  masih berkutat dalam tarik menarik antara daya rekat dan retak ini.

Kesadaran atas ontologi rekat-retak ini, masih menurut Ngatawi, tampaknya disadari oleh para pendiri bangsa ini.

    Tommy F. Awuy (Foto Doc Pribadi).

Karena sadar bahwa realitas obyektif bangsa Indonesia memiliki potensi retak, maka  dengan segala upaya mereka mencari titik temu dan kekuatan yang bisa merekatkan keretakan tersebut. Mereka menggali beberapa potensi kultural, sistem nilai yang bisa merajut keberagaman, sekaligus menjadi alas dan bingkai berbagai serpihan kebangsaan itu.

Secara konsepsional ideologis mereka menemukan Pancasila sebagai bingkai perajut dan tapak alas kebangsaan.

BACA JUGA :  Baznas dan UPZ Bank Permata Bantu Kelompok Rentan Melalui Program Cash for Work

“Penanda “rekat” dari ontologi retak sejarah Indonesia. Arak dicampur kopi merupakan perangsang bangkitnya “taksu”, enerji-kreatif demi karya seni, lukis, tari, teater, film, dan lain-lain. Bangsa-negara yang unggul peradabannya karena hasil senggama alkohol dengan kopi. Ragu? Silakan datang ke Bali untuk produksi perekat,” kata Tommy F Awuy berfilosofi, antara berkelakar dan serius, Kamis (5/8/2021) di Bali. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *