Pengertian Kritik Film dalam Lomba Kritik Film FFI 2021 Mendapat Kritik Tommy F. Awuy.

Foto Doc Istimewa.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Pengajar Filsafat di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Atmajaya, Tommy F. Awuy harus turun gunung meluruskan pemahaman kritik film yang menurutnya tidak pas.

Tersebab kritik film dalam pemahaman panitia penyelenggara FFI 2021 dijelaskan bahwa; Apa Itu Kritik Film? “Kritik film merupakan seni mengulas, menganalisis, membandingkan, atau mengevaluasi film dengan meninjau aspek naratif dan unsur-unsur sinematik. Karya dapat membahas isu sosial, kultural, dan politik baik dalam bentuk tulisan maupun non-tulisan“.

Pemahaman di atas seketika ditanggapi Tommy F.Awuy dengan mengatakan, “Oh kritik film itu adalah seni mengulas,…….tooh,” katanya di Jakarta, Selasa (3/8/2021).

Tommy melanjutkan, seharusnya penjelasan apa itu kritik film yang sebenarnya, tidak seperti itu.

Menurut dia, kritik diambil dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “krinein“. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia krinein artinya mengupas, membelah, menggali, sesuatu (kasus, masalah) hingga sampai ke dasar atau akar persoalan.

Dalam bahasa Latin “akar” itu adalah “radix” (radikal). “Kritik adalah aktivitas pikiran untuk menggali sebuah masalah hingga ke akarnya,” katanya menekankan.

“Kalau dari pengertian ini, kritik film adalah sebuah aktivitas menggali sebuah film untuk mendapatkan pemahaman hingga ke akar-akarnya. Menggali secara radikal. Aktivitas menggali itu tentu dengan cara bertanggung jawab menggunakan metode tertentu,” katanya lebih lanjut.

Dalam bidang akademis yang popular sekarang, menurut Tommy, adalah menggunakan interpretasi hermenetika dan semiotika. “Banyak tulisan yang bisa kita temui dengan topik “hermenetika film” dan semiotika film,” tekannya.

Segendang sepenarian, sutradara dan penggiat perfilman Adisurya Abdy membagi kritikus film pada dua kelompok. Yaitu, Kritikus film yang bergaul dengan para pembuat film, atau Seseorang yang sama sekali berada di luar dari lingkungan film itu sendiri.

BACA JUGA :  Kadin Gelar Vaksinasi Massal Gratis untuk 10 Ribu Orang.

Dari kedua katagori kritikus film tersebut, ada satu yang pasti dan harus dipatuhi menjadi dasar kerangka berfikir, yaitu melihat film secara subyektif lalu menilainya secara obyektif.

“Subyektif yang dimaksud adalah bahwa kritikus film itu adalah seorang yang menyukai seseorang atau sesuatu yang ada dan menjadi bagian dalam film yang ditontonnya, lalu kemudian secara obyektif seorang kritikus film akan mengkaji secara teoritis dan keilmuan tentang film yang ditontonnya itu. Baik secara keseluruhan maupun secara parsial, terserah bagian apa yang menjadi konsen intelektual yang dimilikinya untuk menganalisa dan mengulasnya,” kata Adisurya.

Dia melanjutkan, mengeritik sebuah karya film bukanlah untuk merendahkan seseorang atau mempermalukan seseorang. Melainkan justru untuk memberikan masukan – masukan positif yang membangun, agar sang pembuat film atau insan – insan film yang mewakili disiplin ilmu film dan terlibat didalam proses pembuatannya, menjadi lebih baik dan kian berkembang seiring dengan waktu berjalan.

“Seorang kritikus film akan mengulas yang penting untuk diulas. Kritikus film harus mempunyai kesadaran bahwa ia adalah bagian dari perfilman. Karena seorang kritikus film bukanlah seorang hakim yang dapat memutuskan benar atau salah. Lalu memberikan hukuman kepada seseorang. Tapi seorang kritikus adalah seorang pengulas dengan kemampuan analisis yang prima berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan pengadilan,” terangnya.

Seorang kritikus film, menurut Adisurya, harus sadar bahwa tidak ada satu manusiapun yang suka dihakimi maupun digurui. Apalagi itu secara terbuka dan menyangkut akan peluang serta kesempatan yang harus terus tumbuh dan berkembang.

Seorang pembuat film juga jangan pernah merasa bahwa kritik film adalah untuk merendahkan, menghakimi, maupun menggurui.

Kritik film harus tetap ada dan dibutuhkan untuk selalu berjalan seiring demi kemajuan dan masa depan karya film Indonesia yang lebih baik dan mampu menciptakan idiom – idiom baru dalam film yang dapat menjadikan film Indonesia menjadi bagian dari peradaban dunia.

BACA JUGA :  UU Pemajuan Kebudayaan, Dukungan Pemerintah dalam Pemanfaatan Musik Tradisi

“Kelebihan film harus kita apresiasi dan kekurangannya harus kita sampaikan secara positif konstruktif. Agar film Indonesia bukanlah pelengkap hiburan dalam kehidupan melainkan karya yang menciptakan peradaban baru,” pungkasnya. (Bb-69)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *