Dirjen Diksi : Teknologi Harus Digunakan untuk Tingkatkan Hasil Pembelajaran Siswa

SMJkt/Prajtna Lydiasari

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wikan Sakarinto menyampaikan bahwa teknologi harus digunakan untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa Indonesia, mendukung minat belajar seumur hidup, dan mengembangkan platform Pendidikan dan Keterampilan Nasional.

Untuk itu, Kemendikbudristek tengah berusaha untuk mengembangkan inisiatif modernisasi teknologi pendidikan nasional.

“Kami harap pembuatan Chromebook lokal serta peluncuran belajar.id di Google Workspace for Education akan mempercepat adopsi teknologi di lebih banyak sekolah dan membantu para pelajar kita mewujudkan potensi optimal mereka,” ujar Wikan dalam telekonferensi pada Selasa (3/8).

Sementara, Google pada hari ini mengumumkan enam produsen lokal (OEM) akan mulai memproduksi Chromebook pada tahun ini. Enam OEM tersebut adalah Advan, Axioo, Evercoss, SPC, TSMID, dan Zyrex berencana merekrut ribuan tenaga kerja selama dua tahun ke depan untuk memproduksi ribuan laptop hingga 2022.

Hingga saat ini, Google telah mendukung pelatihan 400 ribu pengajar di Indonesia melalui kemitraannya dengan Refo Indonesia, yang telah menyiarkan puluhan webinar untuk mengakrabkan para pengajar dengan peralatan belajar online seperti Google Classroom.

Selain itu, 3.249 pengajar telah menjadi Pendidik Tersertifikasi Google dan diakui secara resmi untuk melatih rekan-rekan pengajar yang lain dalam menyesuaikan diri dengan teknologi belajar jarak jauh.

Selain itu, Google juga telah memperbarui program Bebras Indonesia untuk juga mengajarkan keterampilan berpikir komputasional di sekolah-sekolah. Program Gerakan Pandai, yang diluncurkan pada 2020 dengan hibah senilai satu juta dolar (USD) dari lengan filantropi perusahaan Google.org, bertujuan melatih 22.000 pengajar di 22 kota.

“Rencana kami berubah karena pandemi tetapi kami sadar bahwa mengajarkan cara berpikir komputasional bisa dilakukan secara online melalui platform-platform seperti Google Workspace,” kata Ketua Bebras Indonesia, Inggriani Liem.

BACA JUGA :  Sekditjen Dikti : Startup4industry Miliki Kesamaan dan Kesatuan dengan Kedaireka

Pandemi, lanjut Inggriani, tidak hanya memaksa kita beralih ke platform digital, melainkan juga mengubah cara kita melakukan segala sesuatu ke arah yang lebih digital.

“Oleh sebab itu, Bebras dan lebih dari 60 universitas telah melatih 27.054 pengajar di 75 kota dan kami dengan bangga melaporkan bahwa lebih dari 16.000 pelajar telah mulai belajar cara berpikir komputasional,” tuturnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *




Enter Captcha Here :