Rumah Belajar yang Kembangkan Fitur Augmented Reality Patut di Apresiasi

Dirjen Diksi, Wikan Sakarinto (SMJkt/Prajtna Lydiasari)

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Di tengah situasi pandemi yang masih melanda Indonesia, teknologi serta kemampuan menguasai perangkat yang saling terkait, menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini terlihat dengan tingginya peningkatan jumlah pemangku kepentingan di bidang pendidikan yang mengakses laman ataupun aplikasi dalam proses belajar mengajar.

Khususnya, jumlah masyarakat yang mengakses portal Rumah Belajar yang dikembangkan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Untuk itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Wikan Sakarinto memberikan apresiasi atas inovasi yang dibangun Rumah Belajar.

“Di dunia yang tanpa batas terutama di era pandemi, berbagai inovasi harus terus dikembangkan. Rumah Belajar yang saat ini mengembangkan fitur Augmented Reality (AR) patut kita apresiasi. Terus lakukan pengembangan terhadap pola pikir pengguna (user) dan pengembang aplikasi (developer), sehingga muncul kreativitas dan terobosan baru sehingga dapat membuat pembelajaran menjadi lebih efisien di era pandemi ini,” ujar Wikan.

Augmented Reality merupakan teknologi di mana pengguna akan merasa lebih berhubungan dengan dunia nyata melalui video ataupun audio 3D. Konten AR di Rumah Belajar merupakan inovasi baru di era digital dengan sasaran pengguna generasi digital native yang terbiasa dengan gawai dan internet sekaligus mendukung pembelajaran di abad modern.

Sejak diluncurkan secara resmi pada tahun 2011, hingga usianya yang menginjak ke-10 tahun pada tahun 2021 ini, portal Rumah Belajar sudah mewarnai perjalanan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia.

“Sebagai portal pembelajaran yang dimanfaatkan sebagai sumber belajar digital (repositori konten), peningkatan kompetensi pembelajaran digital guru (PembaTIK), evaluasi pembelajaran digital, serta layanan kelas digital pendidikan terbuka dan jarak jauh,” tuturnya.

BACA JUGA :  Layanan Si Kompeten Permudah Masyarakat Lakukan Uji Kompetensi secara Daring

Berdasarkan data yang dihimpun dari google analytics, selama periode Januari 2014 sampai dengan Juni 2021, Rumah Belajar tercatat memiliki 20.052.828 pengguna dengan total 217.031.030 kunjungan. Selama tahun 2021, pengguna Rumah Belajar meningkat sebanyak 2.347.716 pengguna dengan kunjungan sebanyak 22.953.918.

“Melihat adanya tren peningkatan kunjungan tersebut mengisyaratkan bahwa pemangku kepentingan bidang pendidikan kini sudah melek terhadap kehadiran teknologi yang memiliki dampak baik bagi kemajuan program digitalisasi sekolah,” terangnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusdatin, Muhamad Hasan Chabibie memaparkan berbagai platform digital yang disiapkan Pusdatin dalam meningkatkan layanan portal Rumah Belajar serta praktisi media sosial, Bukik Setiawan yang membawakan presentasi bagaimana mewujudkan Merdeka Belajar Bersama Rumah Belajar.

Rumah Belajar telah mengalami banyak perkembangan, dari sebuah Sumber Belajar bertransformasi menjadi sebuah portal pembelajaran atau learning management system (LMS) yang terintegrasi, menjadi sebuah one stop service yang dapat diakses selama 7 hari 24 jam bagi stakeholders pendidikan.

“Rumah Belajar memiliki Duta Rumah Belajar (DRB) sebagai perpanjangan tangan dengan sekolah-sekolah di tiap provinsi. Melalui Program PembaTIK tiap tahunnya guru-guru terpilih dilantik sebagai DRB. Tahun 2021 peserta program PembaTIK sebanyak 80.000 Guru. Sejak tahun 2017 hingga tahun 2021 Rumah Belajar telah memiliki 142 DRB,” papar Hasan Chabibie. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *