Kebenaran dan Kekuasaan.

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Kebenaran terlalu menakutkan bagi orang-orang yang sudah menutup dan tertutup mata hatinya. Kebenaran bagi mereka seperti palu Godam yang siap meremukkan keyakinan semunya.

Ini membuktikan fatsun lawas yang mengatakan tidak semua orang mampu menerima kebenaran. Apalagi mengatasinya, benar adanya. Karena kebenaran berlawanan dengan keyakinan sempit dan piciknya. Sebab, kebenaran hanya boleh dimiliki kelompok dan golongannya semata belaka. Di luar itu, ke laut saja.

Demikianlah yang terjadi dengan kekuasaan di hampir semua rezim di banyak negara. Di mana saja. Juga di negara yang katanya demokrasi. Seperti di ………. ah Anda tahu maksudnya.

Yang kekuasaannya gemar menyembunyikan kebenaran, sebelum akhirnya mengamputasinya. Lalu membengkokkannya demi dan atas nama kepentingan juga kelanggengan kekuasaan nonsense-nya.

Apapun caranya ditempuh dan dibayarnya. Dengan melibatkan semua alat-alat kekuasaan negara, demi menciptakan narasi tunggal. Bahwa kebenaran sumber pertama dan penciptanya adalah dari istana. Di luar itu, bohong semua, hoax.

Jika negara mengatakan itu benar, maka benar adanya. Demikian sebaliknya, jika negara mengatakan itu korup dan karenanya, membahayakan kepentingan negara (baca kekuasaan), maka siapapun dapat diberangus dengan berbagai macam cara.

Dari cara perundungan negara kepada rakyatnya, via pasukan pendengung yang tidak tersentuh hukum. Hingga cara-cara kasar lainnya, dengan memainkan pasal karet, yang dapat dipesan dan digunakan demi menjerat lawan politik kekuasaan.

Foto Istimewa.

Sampai cara biadab, menghilangkan nyawa secara paksa rakyatnya sendiri. Lalu mentersangkakan jenasahnya. Alangkah indahnya.

Kekuasaan memang demikian tabiat dasariahnya. Cenderung korup, dan kekuasaan mutlak, korup secara mutlak. Demikian nasehat Lord Acton, sembari menambahkan, orang-orang hebat hampir selalu orang jahat.

Bahkan ketika mereka menjalankan pengaruh dan bukan otoritasnya. Apalagi ditambah dengan kecenderungan tindakan korupsi oleh penguasa.

BACA JUGA :  PPP Tetap Inginkan Pilkada Serentak Nasional pada 2024

Karenanya, janganlah terlalu naif memuja berhala kekuasaan secara berlebihan. Biasa sajalah. Karena semua orang maklum, dipastikan, hanya masalah tempo, kekuasaan purna pada akhirnya.

Betapapun pembangunan citrawi atas kekuasaan itu demikian heboh, mahal dan sistematisnya. Mau kalian dandani kekuasaan yang tak becus dengan citrawi palsu, tetap percuma hasilnya.

Karena hanya masalah waktu, kekuasaan itu dipastikan akan runtuh dan rubuh, dengan sendirinya. Dimangsa kebodohan dan keangkuhannya sendiri. Sebelum akhirnya, diminta pertanggungjawabannya. Lalu dimangsa anak-anak bangsanya sendiri, yang selama ini dianiayanya.

Dan kalian, tuan dan puan yang saat ini masih berada di istana dan diproteksi hukum tak adilnya, bersiaplah harus membayarnya.

Karena kebenaran akan menyusup ke arah tembok kekuasaan bebalnya. Dari arah mana saja. Tidak akan pernah mampu kalian bendung kekuatan dahsyatnya. Betapapun kalian menyumbat, dan melawannya dengan berbagai macam muslihat juga cara.

Jadi, masih mau merompak kebenaran, setelah sebelumnya menjegalnya di tempat terang. Kemudian terus-terusan, dan terang benderang menyesatkan amanat kekuasaan?

Wahai sanak kadang. Menghadapi kekuasaan semacam ini harus berhati-hati. Meski bisa jadi, hanya masalah waktu, giliran saya dan Anda dilempar ke dalam bui. Walau kita tahu, penjara hanya mampu mengurung badan, bukan pikiran.

Sebagaimana Soekarno tidak pernah mengubah keyakinannya setelah keluar penjara untuk kali pertama. Sebelum akhirnya kembali ditangkap untuk kali kedua, lalu diasingkan karena keteguhan keyakinannya pada kebenaran yang tak tergoyahkan.

Penjara juga pengasingan, malah makin mematangkan pemikiran dan keyakinan Soekarno akan kebenaran. Yang tak mungkin dikalahkan oleh kekuasaan yang serampangan dan semena-mena.

Penjara tidak pernah membuat jeri, kecil hati, apalagi gentar para pemberani. Yang sangat sadar sekali, jika nasib baik hanya berpihak kepada para pemberani. Yang sangat dimaklumi, pemberani hanya mati satu kali.

BACA JUGA :  Sehari Dilantik, Bupati Kebumen Langsung Tinjau Jalan Rusak Petanahan

Sekarang, hal yang sama kembali berulang. Kebenaran telah disembunyikan di bawah tilam kekuasaan. Tidak ada pilihan, kita para pemberani harus merebutnya. Bahu membahu, bersama-sama. Dengan perhitungan yang terperi. Pengorganisasian yang setiti.

Sebelum semakin tenggelam, binasa digulung kebohongan berbilang-bilang. Yang diproduksi oleh kekuasaan yang sungkawa. (BB-69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *