Kerja Sama PADSK dan Ditjen Dikti untuk Perkuat SDM Ahli Penyelesaian Konstruksi

SMJkt/Prajtna Lydiasari

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Anggota Dewan Sengketa Konstruksi, Prof Djoko Santoso, mengatakan kerja sama antara Perkumpulan Ahli Dewan Sengketa Konstruksi (PADSK) dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bertujuan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) ahli penyelesaian konstruksi.

“Mengapa hal ini penting? karena kalau kita melakukan pekerjaan konstruksi, kita melakukan kontrak konstruksi. Risikonya itu akan ada sengketa karena berusaha mewujudkan suatu barang dari desain ke wujud nyata,” kata Djoko dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Ditjen Dikti dengan Perkumpulan Ahli Dewan Sengketa Konstruksi di Jakarta, Jumat (9/7).

Djoko menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut sangat kompleks, dinamis dan berisiko. Hal itu dapat menimbulkan perubahan, beda pendapat, klaim dan perselisihan atau sengketa.

“Jika kontrak tersebut semakin besar dan panjang durasinya, maka risikonya pun kompleks,” jelasnya.

Sementara Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbudristek, Nizam menyampaikan bahwa seperti diketahui saat ini, di dunia konstruksi, ketika infrastruktur digenjot oleh pemerintah, sengketa konstruksi banyak terjadi dan cukup rumit bagi mereka yang tidak memahaminya.

“Dengan adanya kompetensi bidang sengketa konstruksi berbagai sengketa di lapangan, karena kesalahan manusia dan lainnya dapat diselesaikan dengan cepat, efisien, ekonomis sehingga laju pembangunan dapat diakselerasi dengan baik,” ujar Nizam.

Oleh karena itu, Kemendikbudristek melalui Ditjen Dikti menggandeng Perkumpulan Ahli Dewan Sengketa Konstruksi untuk meningkatkan kompetensi SDM bidang penyelesaian sengketa konstruksi. Kerja sama ini, diharapkan dapat mempercepat penyiapan SDM pada sengketa dan penyelesaian konstruksi.

“Untuk menjadikan SDM kita lebih unggul, profesional, dan kemajuan pembangunan kita lebih cepat. Terutama sengketa internasional juga kerap terjadi dan membutuhkan kepakaran kita. Jangan sampai kita berada pada posisi yang lemah dan dirugikan,” tuturnya.

BACA JUGA :  Pemerhati Pendidikan Usulkan agar Kemendikbudristek Bentuk Pusat Komando Pembelajaran selama Pandemi

Kompetensi tersebut, lanjut Nizam, merupakan kompetensi lintas program studi yang sebelumnya belum pernah diajarkan di perguruan tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Sesditjen Dikti Kemendikbudristek, Paristiyanti Nurwardani mengungkapkan saat ini ada 5.000 program studi teknik di perguruan tinggi di Tanah Air. Ruang lingkup kerja sama itu yakni meningkatkan kompetensi SDM dalam menghindari dan menyelesaikan sengketa konstruksi.

“Meningkatkan peran perguruan tinggi dalam penyelesaian sengketa konstruksi dalam Tri Dharma perguruan tinggi dan juga ruang lingkup lainnya,” ungkap Paris. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *