Ikatan Apoteker Indonesia Serukan Kehati-hatian Menggunakan Ivermectin Dosis Anti Covid-19 250 Kali Lipat Dosis Anti Parasit

JAKARTA, SuaraMerdekaJkt.com – Ikatan Apoteker Indonesia menyerukan agar masyarakat berhati-hati dalam mengkonsumsi ivermectin karena merupakan golongan obat keras yang bila digunakan tanpa kendali bisa saja mengganggu organ dalam. Apabila obat anti parasite ini akan digunakan sebagai anti Covid-19 maka perlu dilakukan penyesuaian dosis hingga 250 kali lipat. Bila itu dilakukan, maka obat yang semula aman akan menjadi tinggi toksisitasnya dan justru membahayakan kesehatan.

Demikian kesimpulan dari jumpa pers yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) Jumat (2/7) malam lalu sehubungan dengan maraknya peredaran Ivermectin secara bebas di Indonesia.

Dalam jumpa pers yang diselenggarakan secara daring tersebut, Ketua Umum PP IAI, apt Drs Nurul Falah Eddy Pariang didampingi oleh Dewan Pakar, Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi di Bidang Farmasi dan pengurus harian lain, mengupas ivermectin dari berbagai aspek. Dewan Pakar terdiri antara lain dari para guru besar di bidang farmakologi, Analisa farmasi, farmasetika dan sebagainya.

Dalam kesempatan itu Nurul Falah menyampaikan, Ivermectin memang telah memiliki ijin edar dari BPOM sebagai anti parasit, dan bukan sebagai anti covid-19. Untuk dapat digunakan sebagai anti covid-19 maka diperlukan serangkain uji klinik untuk membuktikan khasiat dan keamanannya.

Menurut Prof Dr apt Keri Lestari, Ketua Komie Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Bidang Farmasi,  ivermectin tercantum dalam panduan di WHO sebatas untuk penggunaan sebagai uji klinik dalam menangani Covid-19. Hasil uji klinik ini yang nantinya digunakan untuk memastikan keamanan dan khasiat dalam penggunaannya

‘’Kami sangat tidak menganjurkan pembelian obat secara bebas apalagi melalui online, karena Ivermectin adalah golongan obat keras. Beredar informasi bahwa obat ini bisa digunakan untuk pencegahan, untuk pengobatan saja belum direkomendasikan, apalagi untuk pencegahan, karena adanya efek samping yang masih perlu ditelaah lebih dalam mengenai keamanan penggunaan obatnya. Profil obat tersebut sebagai obat cacing atau obat anti parasit yang sesuai ijin edar, dinyatakan obat tersebut  indikasinya digunakan hanya satu tahun sekali, kalau digunakan untuk pencegahan berarti penggunaannya rutin dalam jangka panjang, ini tentu memerlukan perhatian khusus dan pembuktian lebih jauh,’’ ungkap Keri Lestari.

BACA JUGA :  Benarkah Tes Covid-19 Bisa Lewat Air Liur? Ini Penjelasan Kalbe Farma

Dewan Pakar PP IAI, Prof Dr apt Yahdiana Harahap dalam pemaparannya menyampaikan adanya beberapa studi literatur dan studi awal in vitro yang dilakukan di Australia mengenai khasiat Ivermectin sebagai anti virus.  Dalam penelitian in vitro, yakni dalam skala laboratorium, ditemukan Ivermectin mampu menghambat replikasi dari SarsCov-2, namun hal ini tidak bisa langsung  ditranslasikan dengan kajian klinis

‘’Sebelum sampai pada uji klinis, masih dibutuhkan sejumlah studi lanjutan setelah uji in vitro dilakukan, terutama adalah penyesuaian dosis dari dosis sebagai anti parasit menjadi dosis anti virus,’’ ungkapnya.

Dalam beberapa literatur ditemukan penghitungan IC 50 bagi Ivermectin, yaitu 5 mikromolar. IC 50 adalah kadar obat dalam darah, sehingga obat tersebut mampu membunuh 50 persen virus dalam tubuh. Studi in vitro yang dilakukan oleh peneliti Australia juga menggunakan kadar 5 mikromolar.

Setelah uji in vitro tersebut, kemudian dilanjutkan dengan studi in vivo. Sebagai informasi, dosis anti parasit yang diijinkan adalah 200 – 400 mikrogram/kg BB, sementara dosis yang ada di pasaran adalah berupa kaplet 12 mg. Pada uji in vivo digunakan dosis sebesar 8,5 kali dosis obat yang beredar di pasaran, dan ternyata kadar obat yang ditemukan dalam darah hanya 0,28 mikromolar.

‘’Jadi saya ingin mengatakan, kalau kita ingin mengkorelasikan obat cacing ke anti virus, maka yang perlu diperhatikan adalah dosisnya. Berapa dosis yang harus diberikan, agar mampu membunuh virus dalam tubuh kita. Kalau dalam studi in vitro ditemukan kadar 5 mikromolar yang mampu membunuh virus, sementara dengan dosis 8,5 kali dari dosis obat yang ada di pasaran saat ini hanya mampu menghasilkan 0,28 mikromolar kadar obat dalam darah, artinya, apabila akan dilakukan uji klinis, maka dosis yang digunakan seharusnya adalah 250 kali lipat untuk mencapai 5 mikromolar kadar obat dalam darah, sehingga mampu membunuh virus. Itu baru dari sisi hitungan kadar, sementara masih perlu kita pertimbangkan mengenai karakter lain dari obat ini,’’ tutur Yahdiana.

BACA JUGA :  Antusiasme Tinggi, SehatQ Segera Buka Sentra Vaksinasi Ke 9

 

Sementara, kajian lain dari farmakokinetiknya, bioavailabilitas ivermectin ini sangat buruk, absorbsinya tidak bagus, didalam tubuh dia terikat dengan protein sebesar 93 persen. Artinya kalau ingin membunuh virus maka dibutuhkan dosis yang sangat besar, karena kadar dalam darah yang sangat kecil, diperburuk dengan karakternya yang terikat oleh protein, sehingga tidak cukup konsentrasinya untuk membunuh virus dalam tubuh manusia.

‘’Memang bila dalam kajian in vitro, di luar tubuh, maka ditemukan dengan kadar 5 mikromolar mampu membunuh virus, namun dalam tubuh, ada proses, bagaimana obat tersebut bergerak, sehingga mampu mencapai reseptor. Sementara, karena ivermectin didesain sebagai obat cacing, maka obat tersebut tidak didesain agar masuk ke dalam darah dalam jumlah besar. Sedangkan obat apabila menuju  reseptor dia harus tersedia di dalam darah dalam jumlah yang cukup dan nantinya menuju reseptor ACE, yang mungkin ada  di saluran nafas dan lain-lain.  Artinya sekali lagi kalau akan  dilakukan uji klinis  harus dilakukan adjustment dosis supaya bisa membunuh virusnya dengan optimal,’’ tandasnya

Dalam kesempatan tersebut, Yahdiana juga menyampaikan jurnal terbaru yang terbit pada 28 Juni dari Oxford Academy, yaitu Clinical Infectious Disease. Dalam tulisan tersebut, dilakukan studi pemberian ivermectin dan  placebo pada pasien, ternyata hasilnya tidak ada perbedaan yang signifikan.

‘’Placebo adalah obat kosong, tidak ada bahan aktif obat didalamnya. Dari studi itu disimpulkan ivermectin tidak memberikan efek sebagai anti virus covid-19. Kemudain kajian lain dari American Medicine Association di AS dilakukan studi  terhadap 476 pasien dengan gejala ringan, ternyata juga tidak memberikan efek.  Ini adalah kajian secara ilmiah, karena kalau kita ingin melakukan pengembangan obat, tentu harus ada bukti yang mengawali yaitu uji in vitro, kalau oke lalu  uji pre klinik berlanjur ke uji fase 1,2,3. Untuk ivermectin bisa langung ke uji klinik fase 2 dan 3. Namun sebelum sampai kesana harus dilakukan kajian farmakokinetik untuk menentukan dosis yang tepat,’’ ungkap yahdiana.

BACA JUGA :  Penyanyi Andini dan Satvika Iswara Dirikan Yayasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *