UKM pada Era Digital

Oleh: Dr Hasan Abdul Rozak SH CN MM,

INTERNASIONAL Council for Small Business (ICSB) menetapkan tanggal 27 Juni sebagai Hari UKM Internasional, sebuah momentum yang menguatkan posisi dan peran usaha kecil menengah (UKM) sebagai penopang pembangunan ekonomi nasional dan global.

Peringatan HUT UKM Internasional ini juga dilaksanakan oleh Indonesia Council for Small Business (ICSB) secara serentak, meskipun secara virtual.

Indonesia Council for Small Business adalah organisasi yang berfungsi sebagai integrator dan agregator UKM Indonesia bersama dengan empat pilar, yaitu pemerintah, pebisnis, peneliti, dan pendidik untuk mewujudkan UKM kompetitif.

Berpartner dan berpartisipasi aktif dengan International Council for Small Business.

Mengapa UKM ini menjadi penting, karena merupakan suatu bentuk usaha yang diharapkan dapat menyerap banyak tenaga kerja sektor informal, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa pada tahun 2018 total pelaku UMKM sebanyak 64.199.606 unit usaha atau 99,99% dari total pelaku usaha.

UMKM mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 116.978.631 orang atau sebesar 97% dari total tenaga kerja Indonesia.

Dari sisi kontribusi terhadap perekonomian (PDB atas dasar harga konstan), UMKM di Indonesia menyumbang sebesar 57,24% total PDB di Indonesia.

Data tersebut membuktikan bahwa sektor UMKM di Indonesia memiliki peran penting dan strategis terhadap pembangunan ekonomi. Pelaku UMKM dituntut mampu melakukan inovasi, meningkatkan pertumbuhan bisnis, menciptakan produk dan pelayanan yang terdiferensiasi serta kemampuan mengurangi biaya dalam aktivitas bisnis yang didukung dengan penggunaan teknologi untuk mendapatkan keunggulan bersaing.

Namun, melihat situasi saat ini, UMKM masih terkendala terkait kapasitas dan kualitas khususnya dari segi kompetensi yang dimiliki serta dari segi keterbatasan sumber daya produktif seperti informasi, pengetahuan, keterampilan, dan teknologi.

Perusahaan yang menggunakan teknologi memiliki keunggulan bersaing yang berkelanjutan, dan dapat meningkatkan kegiatan operasional yang lebih efisien.

Sejalan dengan itu, data menunjukkan 36% pelaku UMKM di Indonesia masih menerapkan bisnis secara offline. Di samping itu, sebesar 37% dari pelaku UMKM memiliki kemampuan online yang sangat mendasar, sebesar 18 % memiliki kemampuan online menengah, dan sebesar 9% sudah menjalankan bisnis online yang berkelanjutan.

UMKM masih kekurangan SDM yang memiliki kemampuan kompetensi digital yang memadai.

Hal tersebut menunjukkan bahwa SDM pada UMKM masih belum optimal dalam penguasaan teknologi informasi serta komunikasi.

BACA JUGA :  Penguatan UMKM pada Era Digital

Era digital memberikan tantangan sekaligus peluang bagi para UKM, yaitu bagaimana meningkatkan aksesabilitas UKM untuk godigital dan meningkatkan kapabilitas UKM, sehingga menghasilkan produk yang mampu bersaing dengan produk-produk asing yang telah membanjiri e-commerce Indonesia.

Pada era digital ini semua sektor bisnis, khususnya UKM, dituntut untuk menyesuaikan dengan perubahan agar mampu bertahan dan memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

Digitalisasi dalam bidang ekonomi ini berpotensi memberikan kemudahan bagi para UKM untuk mempermudah memasarkan produknya, tidak hanya di pasar domestik, namun juga pasar internasional atau setidak-tidaknya melintas ke pasar regional ASEAN atau cross border.

Dengan upaya digitalisasi terhadap UKM, harapannya UKM memiliki ekosistem bisnis digital yang terintegrasi dengan baik, sehingga dapat terus bersaing dalam dunia bisnis.

Ekosistem digital merupakan sistem evolusioner, yang mengatur sendiri, yang dapat berkontribusi pada keberlanjutan pengembagan lokal dan regional melalui platform perangkat lunak yang terdefinisi dengan baik, terintegrasi dan tersebar luas untuk organisasi yang merupakan sebuah rencana strategis sebuah organisasi.

Yang tidak kalah penting, kemampuan dinamis juga dianggap sebagai pendekatan yang cocok untuk mempelajari efek sistem informasi atau kemampuan spesifik teknologi informasi pada organisasi.

Dengan adanya kemampuan dinamis inilah, diharapkan UKM akan dapat terus sustain dalam menerapkan digitalisasi bisnis pada era sekarang, terutama dengan mengetahui kesiapan untuk berubah pada seluruh stakeholder UKM, juga pemilik.

Sebab, pada era digital saat ini, selain kemampuan, juga penting untuk selalu siap dalam menyikapi transformasi bisnis. Belajar untuk menghadapi perubahan organisasi dan secara efektif menerapkan program perubahan, dapat difasilitasi melalui penyelidikan kesiapan organisasi untuk berubah.

Konsep kesiapan menarik, karena reaksi karyawan terhadap perubahan memainkan peran penting dalam setiap perubahan organisasi.

Dalam dunia kompetitif saat ini, penekanan lebih besar diberikan pada masalah seperti seberapa cepat dan fleksibel organisasi dapat bereaksi terhadap perubahan yang terus-menerus terjadi di lingkungan sekitarnya. Masalah-masalah ini didasarkan atas paradigma penting yang disebut sebagai kelincahan.

Kelincahan dianggap sebagai dasar kritis untuk organisasi modern saat ini dan diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka. Semakin cepat perubahan kondisi pasar dan fleksibilitas organisasi, menunjukkan bahwa organisasi membutuhkan tim yang terorganisasi sendiri dan kepemimpinan yang gesit.

Kesiapan Berubah

Kesiapan didefinisikan sebagai keyakinan, sikap, dan niat individu mengenai sejauh mana perubahan diperlukan dan kapasitas organisasi untuk berhasil melakukan perubahan itu.

BACA JUGA :  Efektifkah Penurunan Suku Bunga?

Jadi, kesiapan untuk berubah merupakan keyakinan, sikap, dan niat individu dalam mengimplementasikan dan mengelola perubahan yang mengacu pada komitmen bersama anggota organisasi sebagai faktor penentu keberhasilan atas dasar keyakinan bersama pada kemampuan kolektif untuk menyesuaikan dengan perubahan.

Dimensi untuk mengukur kesiapan untuk berubah dalam pengaruhnya terhadap kapabilitas dinamis antara lain kepemimpinan, budaya organisasi, komunikasi, pelatihan, pengukuran, dan sistem pengharagaan.

Di samping itu, terdapat lima faktor kesiapan utama, yaitu: (1) kepemimpinan dan visi; (2) komitmen dan sumber daya manajemen; (3) menghubungkan lean six sigma dengan strategi perusahaan; (4) fokus pelanggan; dan (5) memilih orang yang tepat. Kepemimpinan haruslah yang lincah terhadap kapabilitas dinamis.

Kepemimpinan yang lincah berarti kelincahan dalam memengaruhi orang lain dan membuat perubahan yang diinginkan.

Kelincahan (agility) dianggap sebagai salah satu keterampilan utama bagi para manajer saat ini.

Seorang manajer yang tangkas yang memiliki banyak keterampilan dengan fleksibilitas dan kecepatan dapat memfasilitasi pencapaian keberhasilan organisasi yang lebih besar, dengan siap untuk memenuhi tantangan dunia saat ini.

Jadi, kepemimpinan yang lincah merupakan kepemimpinan yang gesit/lincah yang dapat membimbing tim dan terus-menerus memengaruhi perilaku tim untuk selalu memberikan nilai kepada pelanggan, dengan memiliki banyak keterampilan dengan fleksibilitas dan kecepatan yang mampu memfasilitasi keberhasilan organisasi yang lebih besar, untuk selalu siap memenuhi tantangan dunia bisnis.

Dimensi kepemimpinan yang lincah terdiri atas kemampuan intrinsik untuk menghadapi perubahan; pandangan organisasi, sistem adaptif; pengakuan akan batasan kontrol eksternal; pendekatan penyelesaian masalah secara keseluruhan yang bersifat humanistik; kemampuan kolektif tim otonom sebagai mekanisme pemecahan masalah dasar; membatasi perencanaan di muka ke minimum berdasarkan asumsi ketidakpastian; kemampuan beradaptasi; bereaksi sesuai dengan hasil yang muncul dari tim yang dikelola sendiri; dan mengelola hasil.

Kapabilitas Dinamis

Kapabilitas dinamis terkait dengan kemampuan organisasi untuk beradaptasi secara memadai dan tepat waktu dengan lingkungan yang berubah dengan mengonfigurasi ulang proses dan sumber daya internal atau eksternal, dengan kompetensi yang ada.

Kemampuan dinamis akan memungkinkan penyebaran pengetahuan kepada semua orang dalam organisasi yang diperlukan untuk basis sumber daya dan kemampuan mereka, agar tetap kompetitif, khususnya dalam menghadapi lingkungan pasar yang berubah. Tidak adanya kemampuan dinamis dipandang sebagai ancaman yang dapat menghambat kemampuan perusahaan untuk mempertahankan tingkat kinerja di lingkungan yang baru dan terus berubah.

BACA JUGA :  Berlaga Tanpa Penonton

Kemampuan dinamis dicirikan oleh pola jangka panjang yang gigih dari perilaku perusahaan yang memfasilitasi adaptasi, namun mereka tidak secara langsung memengaruhi kinerja perusahaan.

Sehingga kemampuan dinamis merupakan kemampuan organisasi untuk beradaptasi secara memadai dan tepat waktu, dengan lingkungan yang berubah untuk basis sumber daya dan kemampuan mereka agar tetap kompetitif dengan menyebarkan.

Ekosistem digital didefinisikan sebagai sistem yang mengatur diri sendiri, skalabel, dan berkelanjutan yang terdiri atas entitas digital yang heterogen dan interelasinya yang berfokus pada interaksi antarentitas untuk meningkatkan utilitas sistem, mendapatkan manfaat, dan mempromosikan pertukaran informasi.

Ekosistem digital memiliki semacam sifat self-generative yang bekerja pada logika berorientasi layanan, di mana pengguna dapat bertindak sebagai penyedia pada saat yang sama.

Sehingga digital ecosystem merupakan suatu gagasan ekosistem teknologi yang berorientasi layanan untuk memfasilitasi operasional yang berfokus pada industri digital dan interaksi antarentitas untuk meningkatkan utilitas sistem, mendapatkan manfaat, dan mempromosikan pertukaran informasi.

Kesimpulannya, kesiapan untuk berubah dan kepemimpinan yang lincah mampu meningkatkan kapabilitas dinamis UKM.

Meningkatnya kapabilitas dinamis yang dimiliki oleh para UKM terbukti mampu memperkuat ekosistem digital pada UKM.

Kesiapan untuk perubahan berpengaruh terhadap engagement dan kemampuan dinamis organisasi.

Di samping itu, adanya kesiapan untuk berubah dan kepemimpinan yang lincah pada UKM, menjadi salah satu persyaratan bagi tumbuhnya kapabilitas dinamis untuk dapat mewujudkan ekosistem digital bagi para UKM.

Hasil kajian ini memastikan bahwa keberadaan kepemimpinan yang lincah adalah anteseden dari kapabilitas dinamis dalam rangka untuk dapat mewujudkan ekosistem digital bagi UKM. Akhirnya, untuk maju, UKM harus memiliki kesiapan berubah dan kepemimpinan yang lincah.

Organisasi sekelas UKM pun harus memiliki kapabilitas dinamis. Mau tidak mau, di tengah perubahan, UKM harus bergerak tangkas. (37)

–– Dr Hasan Abdul Rozak SH CN MM, Executive Regional Director: Central ICSB.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *