Optimalisasi Pembelajaran Virtual

Oleh Sri Haryanti

PANDEMI telah memasuki tahun kedua, terhitung sejak keluarnya Keppres No 12 Tahun 2020, tanggal 13 April 2020 tentang Penetapan Covid-19 sebagai Bencana Nasional. Peraturan yang berlaku selama pembelajaran virtual belum mengalami perubahan.

Para siswa ataupun mahasiswa masih melakukan pembelajaran virtual atau pembelajran jarak jauh (PJJ). Begitu pula ujian yang harus ditempuh. Sistem Computer Based Test (CBT) menjadi salah satu pilihan, ujian dapat dikerjakan dari rumah.

Dari beberapa pengamatan dan pengalaman guru, dosen, dan tenaga pendidik, nilai ujian siswa atau mahasiswa meningkat signifikan sejak diberlakukan ujian dari rumah. Generasi muda sebagai generasi penerus, diharapkan memiliki sifat-sifat terpuji agar dapat tumbuh menjadi pemimpin yang baik.

Pada masa pandemi Covid-19, kepentingan masyarakat mengalahkan kepentingan diri sendiri. Program 5M pencegahan Covid-19, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas merupakan implementasi karakter mengandung nilai-nilai kearifan lokal.

Seseorang rela berdiam diri di rumah, bahkan untuk keinginan bertemu anak ataupun orang tua serta saudara terpaksa dipendam demi mematuhi aturan dan tatanan yang dibuat pemerintah.

Kegotong-royongan tumbuh, saling membantu sesama yang terkena Covid-19, walaupun diri sendiri juga sedang mengalami kesulitan. Bentuk bantuan dan perhatian tidak selalu materi, tetapi juga bisa doa dan motivasi, tanpa membedakan suku dan agama.

Berdasar Sensus Penduduk 2020, generasi milenial sebanyak 69,28 juta jiwa atau 25,87%. Melek teknologi adalah salah satu ciri generasi milenial. Beberapa kebutuhan kaum milenial dapat didatangkan melalui gadget. Begitu pula pada saat mengerjakan tugas sekolah.

Dalam suatu wawancara kepuasan mahasiswa terhadap pelayanan dosen dalam mengajar, penilaian mahasiswa terhadap penguasaan materi dosen, mereka membandingkan dengan referensi yang diperoleh dari internet.

BACA JUGA :  Ganjar Vs Anies, Siapa Menang?

Jika materi yang dipaparkan dosen sama dengan referensi yang diperoleh mahasiswa disimpulkan bahwa dosen menguasai materi. Suatu hal yang sangat memprihatinkan jika cara penilaian mahasiswa terhadap dosen dilakukan dengan cara seperti itu.

Sektor Pendidikan

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia berdampak pada berbagai sektor termasuk pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengambil sikap tegas melalui beberapa surat edaran berkaitan dengan kebijakan pendidikan pada masa pandemi Covid-19.

Surat Edaran dimaksud adalah Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.

Surat Edaran ini antara lain mengatur proses belajar dari rumah, ujian sekolah dilakukan melalui tes daring, dan/atau bentuk asesmen jarak jauh lainnya. Substansi surat edaran itu adalah adanya jaminan optimalisasi pembelajaran pada masa pandemi Covid-19.

Surat Edaran Nomor 36962/- MPK.A/HK/2020 berisi imbauan di antaranya, menunda penyelenggaraan acara yang mengundang banyak peserta atau mengganti dengan video conference atau komunikasi daring lainnya. Pendidikan adalah proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham, dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir.

Untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai materi yang telah diberikan, maka dilakukan ujian. Dalam teori manajemen, kurikulum harus mencakup empat hal.

Salah satunya adalah penilaian kesesuaian dengan proses dan ketercapaian tujuan pembelajaran sedini mungkin untuk memastikan bahwa masukan, proses, dan keluaran tersebut sesuai dengan rencana (Mohammad Nuh, 2013).

Selama pandemi pembelajaran dan ujian dilaksanakan secara daring. Oleh karena itu, kejujuran siswa menjadi harapan agar diperoleh gambaran pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru. Isu kecurangan akademik marak terjadi saat pembelajaran jarak jauh.

Beberapa pengalaman pendidik, contohnya plagiarisme, jawaban menyalin dari mesin pencari, atau hasil olah pikir orang tuanya.

BACA JUGA :  In Memoriam Amoroso Katamsi.

Sementara itu, melalui akun tertentu, siswa menyuarakan pendapatnya bahwa tidak dapat memahami materi dengan baik karena sistem belajar berubah. Siswa atau mahasiswa merasa yang terpenting adalah hasil akhir asesmen alias nilai dibanding proses mendapat ilmu.

Beberapa faktor dapat memengaruhi seorang anak berperilaku tidak jujur. Di antaranya takut dihukum karena berbuat salah, melihat kebohongan yang ada di sekitarnya. Hasil suatu survei menunjukkan, 76% mahasiswa mengakui pernah menyontek ketika menempuh pendidikan SMPdan SMA. Salah satu faktornya, mereka kurang percaya diri atas kemampuan yang dimiliki.

Dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Keberhasilan dalam pembelajaran bukan hanya mendapatkan nilai bagus. Namun, yang lebih penting adalah sejauh mana seorang guru membangun dan menanamkan nilai-nilai kejujuran dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi milenial berperan dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur bangsa ini. Mereka akan kehilangan jati diri, hanyut dalam arus deras perubahan zaman jika tidak mengenal esensi nilai-nilai bangsa.

Generasi milenial dapat memanfaatkan hasil revolusi industri 4.0 dengan bijaksana jika mereka tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kearifan budaya Indonesia. Kejujuran harus diintegrasikan dalam lingkungan keluarga dan sekolah, sehingga anak akan mempunyai karakter, disiplin, mandiri, jujur dan selalu berusaha meningkatkan kemampuan dirinya.

Obsesi itu semua dapat terealisasi manakala didukung oleh proses belajar mengajar yang berkualitas. Meskipun sekarang masih dalam masa pandemi Covid-19, semua pihak harus tetap berupaya untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas. Optimalisasi pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 harus tetap kita usahakan bersama.( 34)

BACA JUGA :  Hidup Harus Lebih Dari Sekedarnya.

–– Dr Sri Haryanti MSidosen dan ketua Stifar Yayasan Pharmasi Semarang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *