Menangkal Learning Loss

Oleh Thio Hok Lay

MENCERDASKAN kehidupan bangsa merupakan tujuan bangsa, sebagaimana yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. Dan, tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut hanya dapat ditempuh dan diraih melalui proses pendidikan yang berkualitas.

Pada masa pandemi global yang tidak kunjung usai seperti saat ini, penyelenggaraan pendidikan diperhadapkan dengan aneka rupa kendala dan tantangan. Selama masa pandemi ini, desain pembelajaran mengalami perubahan ke arah kenormalan baru (new normal). Semula, sebelum pandemi, proses belajar mengajar ditandai dengan kesetaraan dialog antara siswa dan guru di ruang-ruang kelas untuk saling asah, asih dan asuh; menumbuhkembangkan keilmuan, pengetahuan, keterampilan, dan wawasan (magistrorum et scholarium).

Kini, saat pandemi, perjumpaan dan dialog nan penuh makna menjadi berpindah ke layar monitor secara online. Meskipun demikian, bagaimanapun situasi dan kondisi yang dihadapi, tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa tidak bisa ditawar, harus tetap dicapai. Untuk itu, masa pandemi senyatanya merupakan momentum bagi setiap anak bangsa; khususnya bagi para insan pendidikan untuk melakukan refleksi kritis atas kualitas dan kebermaknaan atas keberlangsungan proses belajar mengajar dan pendidikan.

Informasi terkini, memasuki Tahun Ajaran 2021/2022 pada bulan Juli mendatang, pembelajaran tatap muka terbatas (onsite) di sekolah dilaksanakan 2 hari dalam sepekan, dengan durasi 2 jam dalam sehari. Itu pun dengan kehadiran peserta didik dibatasi hingga 25 % saja. Tentunya dengan disertai komitmen warga sekolah untuk menerapkan protokol kesehatan secara optimal. Selebihnya, pembelajaran masih digelar dalam jaringan (online).

Tak sedikit elemen masyarakat mempertanyakan seputar kualitas pembelajaran secara online yang berlangsung pada masa pandemi ini. Mulai dari keterbatasan sarana, akses internet, fenomena lunturnya kedisiplinan dan menumpulnya keterampilan sosial peserta didik, serta masih banyak hal lainnya. Ringkasnya, peserta didik dan guru berpotensi kehilangan momentum belajar yang berkualitas dan bermakna (learning loss) pada masa pandemi ini.

BACA JUGA :  Resafel Wapres

Dalam situasi dan kondisi semacam ini, pepatah bijak dari Afrika menjadi kontekstual untuk dihidupi dan dimaknai, bahwa dibutuhkan orang sekampung untuk membesarkan seorang anak (It takes a village to raise a child). Kolaborasi antara guru (sekolah), orang tua (di rumah) dan masyarakat untuk membangun komunikasi dan kerja sama dalam upaya mengawal dan merawat proses tumbuh kembang anak secara holistik mutlak dibutuhkan pada masa pandemi ini.

Pandemi mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa problematika dan tantangan utama yang dihadapi oleh masyarakat global saat ini, senyatanya bukanlah hanya soal keterbasan fasilitas dan daya tampung rumah sakit. Bukan pula soal penelitian dan pengembangan bioteknologi dalam memproduksi vaksin, melainkan lebih kepada persoalan mendasar dalam kehidupan, yakni luntur (hilang) nya kesadaran masyarakat global terkait pola hidup bersih dan sehat.

Faktanya, pandemi telah berhasil memaksa umat manusia sejagat untuk kembali belajar tentang hal mendasar dalam kehidupan; yakni kembali belajar mencuci tangan, bagaimana bersikap serta berperilaku dalam bergaul di ruang publik dengan baik dan benar.

Karakter Uggul

Di tengah kegundahan anak bangsa dalam menyoal kualitas penyelenggaraan pembelajaran dan pendidikan secara online pada masa pandemi, yang tidak saja berupaya memberikan jaminan atas kompetensi; terkait metode dan desain pembelajaran yang efektif dalam transfer keilmuan, pengetahuan dan keterampilan. Namun juga pada saat yang sama, proses pendidikan berkewajiban untuk menumbuhkembangkan dan merawat nilai dan karakter unggul; keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia peserta didik.

Adalah benar bahwa perubahan perlu diantisipasi dan dikelola. Tidak sedikit contoh raksasa kelas dunia yang karena tidak siap menghadapi perubahan, menjadi lenyap digulung arus dan gelombang perubahan. Kabar gembiranya, bahwa dalam mengelola perubahan, nantinya bukanlah mereka yang terkuat (strongest) yang akan bertahan, tetapi mereka yang mampu beradaptasi yang akan eksis, sebagaimana yang dikemukakan Darwin dalam teori evolusinya.

BACA JUGA :  Maju Terus, Pantang Ragu 

Terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian guna menangkal learning loss pada masa pandemi. Di antaranya, desain pembelajaran perlu fokus pada kebutuhan peserta didik, orientasi dan prioritas belajar bukan lagi untuk menuntaskan kurikulum melainkan lebih memastikan bahwa setiap peserta didik diberdayakan secara mandiri untuk menghubungkan konten pelajaran dengan praktik dan pengalaman konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, meskipun durasi waktu tatap muka belajar dan jumlah peserta didik yang hadir ke sekolah terbatas, plus dibarengi dengan pembelajaran secara online, pembelajaran tetap dapat diselenggarakaan secara berkualitas dan bermakna; tidak terjadi ëkebocoraní akibat learning loss.

Bagi komunitas Sekolah Citra Kasih dan Sekolah Citra Berkat sebagai bagian dari karya (alm) Dr (HC) Ir Ciputra di bidang pendidikan, mengantisipasi learning loss dengan memaknai dan menghidupi ajakannya,”Berjuanglah untuk mencapai sesuatu yang baik di dalam hidup. Berjuanglah untuk berm a n f a a t dan berp r e s t a s i . Berjuanglah agar setiap hal yang kita buat bisa memberi makna bagi orang lain, selain untuk diri sendiri”

Di tengah kompleksitas problematika kehidupan akibat pandemi ini, setiap anasir bangsa diharapkan untuk senantiasa mengembangkan pola pikir positif, mengasah kreativitas dan berinovasi. Dengan demikian, kesulitan dan ujian kehidupan tidak boleh menjadikan langkah diri dan langkah bangsa menjadi surut dan mundur.

Ringkasnya, mereka yang mampu mengelola dan mengorkestrasi perubahanlah yang nantinya akan tampil sebagai pemenang dalam panggung kehidupan. Meski masih menjadi misteri, yakin dan percayalah bahwa semesta akan turut mendukung setiap niatan baik yang kita upayakan, sekecil apa pun; termasuk upaya dalam menangkal learning loss pada masa pandemi. Bukankah perubahan di alam raya sebagai respons atas disequilibrium kosmis, senantiasa menuju ke kondisi keseimbangan yang lebih mantap (homeostasis)?( 34)

BACA JUGA :  Teknologi Digital Berlari, Film Analog Menolak Mati.

— Thio Hok Lay SSi,Koordinator Biologi, Teaching Learning Curriculum Department, Yayasan Citra Berkat, Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *