Augmented Reality Sebagai Alternatif  Media Pembelajaran BTIK

Kemaju ilmu pengetahuan dan teknologi telah berpengaruh terhadap penggunaan alat – alat bantu mengajar di sekolah – sekolah. Dewasa ini pembelajaran di sekolah mulai disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan (Hujair, 2009). Hal tersebut mengidentifikasi bahwa penggunaan teknologi informasi dalam proses pembelajaran sudah menjadi suatu kebutuhan sekaligus tuntutan di era milenial ini. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisien pembelajaran, perlu dikembangkan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Hal tersebut perlu dilakukan supaya proses pembelajaran menarik dan tidak membosankan. Oleh karena itu peran media dalam proses pembelajaran menjadi penting karena akan menjadikan proses pembelajaran terlihat menjadi lebih bervariasi.

Menurut Djamarah dan Aswan (2002: 136) mendefinisikan media sebagai alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam konteks media sebagai sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. 

Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru, siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi educatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2001: 461). Agar proses pembelajaran tersampaikan secara efektif harus membutuhkan media yang memadai. 

Di sini penulis sebagai guru BTIK di SMP Negeri 2 Pabelan Kab.Semarang, saat pembelajaran hardware komputer supaya lebih mudah menjelaskan sesuatu yang abstrak kepada peserta didik tanpa harus praktik membuka objek tersebut secara nyata, yang dapat dilihat dari berbagai sisi pada objek tersebut secara variatif dan interaktif  maka penulis menggunakan teknologi Augmented Reality

AR (Augmented Reality) atau dalam bahasa Indonesia disebut realitas tertambah adalah teknologi yang menggabungkan benda maya 2D ataupun 3D ke dalam sebuah lingkungan nyata lalu memproyeksikan benda maya tersebut dalam waktu nyata. Menurut definisi Ronald Azuma : 1997, ada tiga prinsip dari AR. Yang pertama Augmented Reality merupakan penggabungan dunia nyata dan virtual, yang kedua berjalan secara interaktif dalam waktu nyata, dan yang ketiga terdapat integrasi antar benda dalam 3D, yaitu benda maya terintegrasi dalam dunia nyata. 

Perangkat yang digunakan dalam teknologi Augmented Reality  yaitu marker, merupakan objek nyata yang digunakan sebagai penghubung antara dunia nyata, maya, dan sebagai alat interaksi dengan sistem (Mark Fiala, 2005). Marker adalah pola yang dibuat dalam bentuk gambar dan dicetak dengan mesin printer yang akan dikenali oleh perangkat kamera smartphone Android. Dalam hal ini penulis menggunakan aplikasi  Assembler Edu dalam membuat objek, secara otomatis ketika marker discan akan menampilkan objek yang kita buat. Peserta didik tinggal memutar marker maka akan tampil objek tersebut dalam betuk 3D secara visual dari berbagai sisi. 

Selain itu guru dapat menyertakan label, penomeran, penamaan, keterangan pada objek – objek yang dibuat, sehingga peserta didik saat melakukan scan akan tampak objek bagian dalam beserta definisi dari objek – objek tersebut. Atau guru hanya memberi penomeran saja pada objek sehingga ketika peserta didik melakukan scan hanya tampil nomer, dan itu dapat menjadi tugas untuk peserta didik dalam mengidentifikasi nama dan menjelaskan fungsi objek tersebut.

Dengan menggunakan media AR (Augmented Reality) saat pembelajaran sangat membantu guru dalam menyampaikan materi dan membantu peserta didik dalam memahami materi pengenalan hardware komputer secara interaktif di SMP Negeri 2 Pabelan Kab. Semarang.(Titik Setyaningsih, S.Kom,Guru SMPN 2 Pabelan Kabupatennl Semarang)

BACA JUGA :  Uji Coba PTM SMPN 1 Wonogiri, Siswa Wajib Patuhi Prokes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *