Penyair Jawa di Era Hibrid.

Foto Dok Pribadi.

Oleh Yusuf Susilo Hartono.

Refleksi Yusuf Susilo Hartono
40 Tahun Berpuisi Jawa (Geguritan).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com –
Alhamdulillah. Tidak terasa sudah 40 tahun saya menulis puisi (Jawa dan Indonesia), melukis, dan menjadi jurnalis. Melewati masa Orde Baru, Reformasi, hingga masa pandemi ini : yang mempecepat era virtual berbasis IT dan kecerdasan buatan.

Pada masa awal mengeluti dunia sastra Jawa, saat masih di Bojonegoro-Jawa Timur, ada 2 momentum penting yang saya alami. Pertama, 1982, bersama para senior (JFX Hoery, Djayus Pete, Yes Ismi Suryaatmaja) memprakarsai berdirinya komunitas sastra Jawa Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB). Kini menjadi salah satu komunitas penting di Jawa Timur.

Kedua, tahun 1984, menggelar Sarasehan Jatidiri Sastra Daerah, dihadiri para tokoh sastra Jawa, Sunda, Batak, Minang, Bali, dan pengamat sastra Jawa dari Australia (George Quinn). Sarasehan yang digelar PSJB bersama OPSJ (Organisasi Pengarang Sastra Jawa). Pak Suparto Brata (Ketua Panitia) dan saya Sekretaris, harus menghadapi interogasi dari Bupati, Kepolisian dan Kodim. Sebanyak 30 intel, mengawasi secara terbuka/tertutup. Padahal sarasehan ini ingin memetakan masalah yang dihadapi sastra daerah di Tanah Air.

Mengapa memperjuangkan bahasa/sastra Jawa, sedangkan kita sudah komit dengan Sumpah Pemuda 1928? Pertama, itu bahasa Ibu. Kedua, roso bahasa Jawa itu tidak bisa tergantikan yang lain. Ketiga, teks Sumpah Pemuda mengatakan “menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”.

Bila kemudian diplintir menjadi “berbahasa satu bahasa Indonesia”, itu adalah teror, dan pelakunya pantas disebut “teroris” bahasa daerah. Keempat, mimpi semoga Otonomi Daerah kelak bisa disertai dengan otonomi bahasa daerah.

Supaya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam bahasa dan sastra Jawa/daerah bisa dilestarikan. Dalam arti dipelihara, dimanfaatkan, dikembangkan dan dilindungi. Sesuai dengan UU nomer 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

BACA JUGA :  Effect Base Operation Hancurkan Niat Musuh Bertempur

Di atas semua itu, membuat geguritan/ puisi, bagi saya merupakan medium bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Indah dan pemilik keindahan. Sebagai “peminjam keindahan-Nya”, proses kreatif saya berada dalam hubungan segitiga : saya, Tuhan dan Alam.

Adapun di tengah segi tiga itu kehidupan berkemanusiaan, berkealaman dan berketuhanan. Disamping terus menerus “rewes” ber-iqro‘, baik terhadap jagad alit (mikro kosmos) maupun jagad ageng (makro kosmos).

Segitiga kreatif : saya, alam, dan Tuhan itulah yang menjadi benang merah puisi-puisi Jawa (geguritan) yang ada dalam ketiga buku antologi geguritan kontemporer “Ombak Wengi” (2011, Almatera Yogya) yang mendapat Hadiah Sastra Jawa Rancage 2012, “Serat Plerok” (2016, Garudhawaca) dan “Gurit Saidu” (2021, Teras Budaya Jakarta).

Sesungguhnya juga dalam puisi-puisi saya yang berbahasa Indonesia.

“Ombak Wengi” berisi 99 geguritan kontemporer pilihan tahun 1981-2011. Merupakan potret, refleksi, renungan, tentang budaya perdesaan dan budayan urban. Ditulis saat masih tinggal di Bojonegoro, lalu hijrah ke Jakarta, dan saat berada di luar negri. Temanya beragam, mulai dari Ibu, anak, suasana perdesaan, perempuan, hilangnya tradisi yang tergerus modernisasi, pengapnya Orde Baru, demokrasi, hingga getaran jiwa saat menginjakkan kaki di negeri yang pernah menjajah kita.

“Serat Plerok”, berisi 58 geguritan tanpa judul, hanya nomer. Ditulis dengan kata yang saya cari maupun kata yang “terberi”. Semangatnya, mleroki/mencermati berbagai hal perubahan di tengah masyarakat,dan kehilangan dalam tataran sosial budaya, etika, kepemimpinan, religiusitas, dll. Akibat modernisasi dan globalisasi, maupun Jawa yang “kehilangan cara” menghadapi perang kebudayaan semesta.

“Gurit Saidu”, merupakan respon dan lahir pada saat pandemi Covid 19. Sebagaimana percikan ludah (idu) yang membawa virus, geguritan empat kata, terdiri dua baris, ini lebih pendek dari Haiku Jepang, berbicara tentang korona dan dampaknya pada dunia kesehatan, sosial budaya, politik, ekonomi, pendidikan hingga media massa. Mengolah pantun, parikan, mantra, pasemon, dll.

Garin Nugroho bersaksi, “Membaca Gurit Saidu, terasa bagaimana unsur-unsur sistem budaya Jawa dalam kata dipermainkan baik dalam esensi bunyi, makna,hingga peristiwa dan bahasa tubuh.”

Pamong sastra JFX Hoery mengakui bahwa belum pernah ada sebelumnya puisi Jawa empat kata, dua baris, seperti ini. Sehingga pengamat sastra Dhanu Priyo Prabowo guritan ini unik dan tidak mengekor.

BACA JUGA :  Layanan Si Kompeten Permudah Masyarakat Lakukan Uji Kompetensi secara Daring

Buku “Gurit Saidu”, akan diluncurkan oleh DR. Turita Indah Setyani, Dekan Prodi Jawa FIB Universitas Indonesia/Ketua Prodi Pascasarjana Ilmu Susastra, pada acara Diyan (Dilah Kebudayaan) Sstra Jawa UI. Mengangkat topik Pembacaan Geguritan dan Proses Kreatif Penulisan Karya Sastra Jawa Yusuf Susilo Hartono, Jum’at, 18 Juni 2021, via daring.

Bagi saya, tugas penyair/penggurit di tengah era nyata maupun maya, adalah mencari “jalan baru” bagi kemanusiaan, kealaman dan ketuhanan. Tidak mengelus warisan lama, tetapi memanfaatkannya sebagai modal ekspresi di jaman now.

Adapun tantangan yang harus dijawab oleh dunia sastra Jawa hari dan ke depan adalah: Pertama, sastra Jawa gagrak anyar, yang sudah “amoh” itu harus segera diperbarui, dengan sastra kontemporer (yang perlu dicarikan padanan bahasa Jawanya).

Kedua, laras dengan era hibrid (luring daring, nyata dan virtual/maya/semu) perlu dibangun ekosistem baru, berbasis peran aktif kaum muda yang menguasai ilmu pengetahuan, kecerdasan virtual, dan IT. Yang tua-tua, tutwuri dan memberi restu saja lah.

Ketiga, dalam “perang kebudayaan” secara global, terbuka, liberal, sepanjang waktu, kesadaran bersama bahwa kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan modal kultural, tapi juga patron-patron yang kompeten, dan berintegritas.

Lebih baik lagi jika negara hadir, sebagai fasilitator (infra struktur, membiayai program), agar tidak hanya seni dan budaya Jawa saja yang menang dalam pertempuran kebudayaan semesta di muka bumi ini, tetapi juga seni budaya Indonesia, seni budaya daerah lainnya, dari Aceh hingga Papua.

Unesco 2017 telah menyatakan Indonesia adalah negara super power kebudayaan. Tapi entah kenapa kebudayaan tidak kunjung menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan Indonesia.

Pada hal, Presiden Joko Widodo pun dalam berbagai kesempatan selalu mengakui bahwa DNA Bangsa Indonesia itu kebudayaan, bukan yang lain. Mengapa ya? (Bb-69).

BACA JUGA :  Pembelajaran Tatap Muka di Pekalongan Tunggu Perintah Pemprov

# Materi paparan Yusuf Susilo Hartono dalam webinar Sastra Jawa UI – Dian (Dilah Kebudayaan), Jumat, 18/6/2021 via daring

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *