Kongres II Satupena Menuju Penulis Berdaya.

Foto Istimewa.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Asosiasi atau perkumpulan penulis seluruh Indonesia, SATUPENA, akan menggelar Kongres yang kedua. Agenda tersebut digelar pada 15-16 Agustus 2021 mendatang. Kongres yang digelar ini akan diikuti ratusan penulis dari seluruh Indonesia. Digelar secara daring dan melibatkan banyak penulis terkemuka dari beragam genre.

Tujuannya sebagai bagian dari upaya memajukan edukasi dan literasi nasional secara bersama-sama.

Dalam kongres ini panitia menetapkan tema “Kemerdekaan Literasi”.
Menurut Ketua Kongres, Mikke Susanto, “Tema kongres ini tujuannya untuk membantu memasyarakatkan dunia literasi, agar publik semakin cinta terhadap ilmu pengetahuan dan literasi”. “Kemerdekaan Literasi” diketengahkan juga karena dilatari oleh hal yang kontekstual dan memiliki tujuan bersama.

Pertama, untuk memperbaiki ekosistem literasi dan kepenulisan di tanah air menjadi alasan dan dasar dalam kongres ini. Dari masalah pajak, pembajakan, persekusi, isu sosial budaya politik, sampai pelarangan buku misalnya. Persoalan ini sampai saekarng belum dianggap sebagai masalah penting oleh negara. Padahal cukup menghambat kemajuan pendidikan dan pendewasaan masayarakat.

Kedua, topik ini juga paralel dengan isu “Merdeka Belajar” yang tengah digulirkan oleh Mendikbudristek, Nadiem Makarim. Isu Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) terkait belajar melalui para ahli, maestro maupun penulis yang telah berpengalaman adalah bagian yang perlu diteruskan. “Penulis dari beragam genre perlu dilihat sebagai entitas penting dalam Merdeka Belajar,” ungkapnya sebagaimana rilis yang diterima Suaramerdekajkt.com.

Melalui kongres ini, Satupena akan turut melakukan perjuangan bersama lembaga lainnya dalam mengentaskan ketertinggalan bidang literasi di seluruh Indonesia. Lembaga semacam perpustakaan, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan lainnya yang memiliki visi yang sama.

Terakhir tentu tidak melupakan tujuan yang penting, yakni kesejahteraan penulis. Kesejahteraan bagi penulis, terutama anggota SATUPENA dalam memerdekakan diri di saat menghadapi persoalan finansial dan idealisme dalam berkarya harus didukung bersama-sama. “Sehingga penulis akan jauh lebih berdaya di mata masyarakat,” pungkas Mikke Susanto. (Bb-69)

BACA JUGA :  Mengenal Kanzul Ilmi Center, Pusat Kajian dan Pengajian Islam Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *