Culasnya Batik Air, Menghindari Kompensasi Ganti Rugi Keterlambatan.

Calon penumpang dipaksa keluar pesawat, setelah sebelumnya diminta naik pesawat. (Shandy G).

PONTIANAK, Suaramerdekajkt.comShandy Gasella, wartawan dan kritikus film dari Kumparan marah sejadi-jadinya. Pasalnya, pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6229 rute Pontianak-Jakarta, yang ditumpanginya, dan dijadwalkan terbang pada hari Minggu (13/6/2021) kemarin, Pkl 18.40, gagal menerbangkannya kembali ke Jakarta.

“Saya tiba di bandara pkl 16.00 lalu melakukan check in di counter yang hanya dilayani dua orang petugas, sehingga antrian mengular panjang. Pada saat mendapatkan boarding pass, petugas check in memberi tahu bahwa pesawat akan delay setengah jam. Artinya jika delay setengah jam, maka pesawat yang semula akan terbang pada pkl 18.40 menjadi 19.10. Pkl 18.40 yang semula waktu take off menjadi waktu boarding time,” kata Shandy Gasella Senin (14/6/2021) pagi, merunut kronologis delay maskapai penerbangan, yang memang acap mengabaikan pelayanan standar maskapai penerbangan nasional itu.

Pada saat menunggu di ruang boarding di Pintu 4 Bandara Pontianak, Pkl 18.10 dibuka boarding untuk penerbangan Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6221 rute Pontianak – Jakarta.

Jadi, ceritanya, ada dua penerbangan Batik Air ke Jakarta dari Pontianak yaitu ID 6221 dan ID 6229, dengan selisih waktu hanya terpaut setengah jam!

“Ini tidak masuk akal! Setengah jam berlalu sejak Pesawat Batik Air ID 6221 telah terbang, tetapi ID 6229 tidak kunjung boarding,” katanya geram.

Pada pkl 19.40 (90 menit terlambat dari waktu boarding) Shandy dan calon penumpang lainnya, diberitahu oleh petugas bahwa pesawat delay dengan alasan Cuaca Buruk. Lalu dirinya disodori nasi kotak berisi nasi goreng hambar nan dingin dengan lauk telur ceplok dan sosis sebesar jempol anak bayi.

Menurut Shandy, jika mengingat ke belakang apa yang dikatakan petugas check in pada pkl 16.00 yang dengan mantap mengatakan pesawat akan delay, janggal rasanya jika dia tahu bahwa beberapa jam ke depan cuaca akan buruk.

BACA JUGA :  Cukai Rokok Naik Mulai 1 Februari 2021

Pada pkl 20.50 (4 jam 10 menit terlambat dari waktu boarding), imbuh dia, tiba-tiba dia dan calon penumpang lainnya, diminta boarding ke pesawat.

Calon penumpang menanyakan alasan kenapa pesawat tak kunjung take off. (Shandy G).

“Kami protes bahwa waktu delay sudah 4 jam dan kami tidak diberi kompensasi sesuai aturan yang berlaku yakni mendapatkan penginapan dan uang kompensasi sebesar Rp 300.000!,” katanya.

Petugas mengatakan bahwa pesawat sudah siap tinggal landas dan dalam kondisi prima. “Kami tidak akan memberangkatkan pesawat jika pesawat tidak dalam kondisi baik! Ini menyangkut nyawa! Kami tidak main-main! Cepat masuk boarding bagi yang mau boarding, yang tidak mau naik silakan!” Teriak seorang petugas dengan lantang kepada Shandy dan calon penumpang lainnya.

Tidak diberi pilihan lain, semua calon penumpang, naik ke pesawat. 3/4 kapasitas pesawat terisi. Pramugari melakukan apa yang biasa dilakukan pra-take-off, yakni petunjuk keselamatan. Tetapi, begitu selesai menyampaikan petunjuk keselamatan, pesawat tak kunjung melaju di Runway. Bahkan tak bergerak sama sekali.

Lantas pada pkl 23.00 pramugari mengumumkan bahwa pesawat mengalami kendala teknis, yang semula disebutkan bahwa pesawat dalam kondisi prima dan siap terbang!

Pada pkl 23.30 (setelah lebih dari setengah jam memasuki pesawat) calon penumpang dipaksa turun kembali, kali ini dengan alasan Bandara Soekarno-Hatta sudah tutup!

Petugas sempat mengatakan pesawat dalam kondisi prima dan siap take off. (Shandy G.)

“Alasan silih berganti dan kami dianggap orang-orang bodoh oleh para kru dan manajemen Batik Air,” kata Shandy.

Pada pkl 24.00, Shandy melanjutkan cerita, diminta mengantri mengahadap petugas lainnya untuk proses refund dengan konsekuensi tidak mendapatkan hotel, atau reschedule ke penerbangan esok hari menggunakan Lion Air JT 711 jadwal keberangkan pkl 07.00. Yang mana harga tiketnya lebih murah sekitar Rp 300.000 dari harga tiket Batik.

BACA JUGA :  Yovie & Nuno Rilis Single Terbaru.

“Kami meminta kompensasi sebesar Rp 300.000 dengan alasan pesawat delay lebih dari 4 jam, bahkan sudah 6 jam! Tetapi petugas berkelit bahwa pesawat sudah boarding (itu pun sebenarnya sudah lebih dari 4 jam!) dan hak penumpang untuk mendapatkan kompensasi uang dilanggar oleh Batik Air. Sebuah grup maskapai tanah air yang sudah tenar sepanjang sejarah penerbangan Indonesia sebagai maskapai yang sering dengan keji dan semena-mena melakukan delay dengan sengaja dalam bentuk alasan standar: kendala operasional,” terangnya.

Pkl 01.00 (14/6/2021) Shandy melanjutkan cerita, masih terkatung-katung di bandara menunggu jemputan menuju hotel. Dan akhirnya semua calon penumpang, berjejalan di dalam sebuah mini bus milik hotel Ibis. Yang lainnya karena tak tertampung menggunakan taksi dengan biaya sendiri ke hotel! Pihak Batik Air lepas tangan.

Diangkut ke hotel pada pukul 1.00 dini hari tanpa mengindahkan protokol kesehatan. (Shandy G).

Penderitaan calon penumpang tak berhenti sampai di situ. Pada Senin pagi (14/6/2021) pada saat check in ada penumpang yang ditolak check in karena alasan Hasil Antigen/PCR-nya belum divalidasi petugas bandara. Padahal petugas check in tahu apa yang terjadi semalam, bahwa penerbangan dibatalkan.

“Jika saya punya uang untuk membayar pengacara, saya ingin menuntut maskapai ini hingga membuat mereka bangkrut!,” kata Shandy Gasella, yang sampai berita ini diturunkan, masih berada di Bandara Pontianak. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *