Pemasok Telur hingga Perusahaan Ritel Terkemuka Dilaporkan ke Kementrian Pertanian

SM/Dok

JAKARTA – Sebuah organisasi perlindungan konsumen internasional mengajukan pengaduan ke Kementerian Pertanian minggu ini. Langkah ini ditempuh setelah melakukan penyelidikan terhadap sebuah peternakan produsen telur yang menjadi pemasok telur utama ke Ahold Delhaize, peritel Belanda yang mengoperasikan supermarket di seluruh Indonesia.

Investigasi Equitas, sebuah kelompok perlindungan konsumen internasional, mendokumentasikan berbagai pelanggaran kebijakan Kementerian Pertanian tentang Keamanan Pangan dan Kesejahteraan Hewan dalam produksi telur.

“Ini adalah investigasi kedua dalam enam bulan terakhir di mana ditemukan banyak pelanggaran undang-undang keamanan pangan serta kekejaman terhadap hewan yang parah dalam rantai pasokan Ahold Delhaize di Indonesia,” kata Campaign Manager Equitas Bonnie Tang.

Organisasi perlindungan konsumen internasional dan kesejahteraan hewan ini memaparkan beberapa temuan dalam bentuk rekaman video. Misalnya, banyaknya serangga yang berkumpul di sekitar lokasi, merayap dan berada di antara hewan-hewan, kotoran, dan telur-telur.

Begitu juga burung-burung liar terbang bebas keluar masuk peternakan, yang berpotensi menularkan penyakit, termasuk flu burung. Kemudian, kondisi kandang yang kotor dan tidak aman yang mengakibatkan kerusakan fisik dan cacat pada induk ayam.

Video tersebut direkam di sebuah peternakan pemasok untuk Untung Jaya, yang telur-telurnya dijual dengan merek pribadi “365” milik Ahold Delhaize di supermarket di Indonesia.

Padahal ada kebijakan pemerintah yang tercakup dalam Peraturan Menteri Pertanian 31/Permentan/OT.140/2/2014 yang merupakan seperangkat standar untuk memastikan produsen menjalankan praktik yang berkelanjutan serta memastikan keamanan pangan bagi konsumen.

Otoritas Keamanan Pangan Eropa dan belasan tim peneliti internasional menemukan bahwa fasilitas kandang ayam petelur “baterai” seperti yang memasok Ahold di Indonesia memiliki risiko kontaminasi salmonella hingga 33 kali lebih besar.

Di Indonesia, lebih dari 50 merek-merek makanan terkenal, termasuk Burger King, Starbucks dan Nestle telah berkomitmen untuk hanya menggunakan telur-telur yang berasal dari ayam “tanpa kandang”, yang jauh lebih aman untuk konsumen dan lebih manusiawi untuk hewan.

BACA JUGA :  Kemenhub Ingatkan Pemilik Kapal Patuhi Aturan Tentang Penyingkiran Kerangka Kapal

Di seluruh Asia, semakin banyak ritel-ritel internasional yang telah membuat janji yang sama, termasuk Tesco, Metro, CarreFour, Auchan, Aldi, Costco, Marks & Spencer, dan lainnya sebagainya. Ahold telah menentukan batas waktu untuk hanya menjual telur-telur yang berasal dari peternakan tanpa kandang pada seluruh lokasi miliknya secara global — kecuali di Indonesia.

“Ahold Delhaize terus mengabaikan pelanggaran-pelanggaran hukum, risiko-risiko keamanan pangan, dan kekejaman terhadap hewan pada jaringan pemasok telurnya”, ujar Bonnie Tang.

Dia menilai perusahaan tersebut seakan berpikir bahwa konsumen di Indonesia tidak layak memperoleh keamanan dan kualitas pangan yang sama dengan pelanggan-pelanggan di Eropa dan Amerika.

“Kami menghimbau Ahold untuk memperlakukan pelanggan-pelanggan di Indonesia secara setara dan menentukan batas waktu untuk mengakhiri penjualan telur berkandang di Indonesia,” tambahnya.

SuperIndo, jaringan supermarket yang dioperasikan oleh Ahold Delhaize menyatakan berjanji kepada pelanggan, karyawan, dan komunitas bahwa Super Indo akan selalu berusaha menjadi tempat belanja yang lebih baik, tempat bekerja yang lebih baik, dan tetangga yang lebih baik.

“Dengan menggunakan kapasitas kami, kami mendorong perubahan positif, memastikan telur yang kami jual berasal dari produsen yang memiliki komitmen yang sama dan telah menerapkan persyaratan yang ditetapkan oleh otoritas Nasional. 100% telur yang kami jual sudah tersertifikasi NKV sesuai dengan regulasi Pemerintah Indonesia,” bantah pihak Super Indo.(J10)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *