Pengamat : Kegiatan Belajar Mengajar Hanya Dua Jam, Jelas Tidak Efektif

SMJkt/Ist

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Presiden Joko Widodo pada Senin, 7 Juni 2021 lalu, memberikan contoh praktik baik dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, di mana satuan pendidikan dapat mengatur satu kelas hanya diisi 25 persen murid, kegiatan belajar mengajar hanya dua jam dan satu minggu hanya dua kali pertemuan.

Dengan menggunakan metode tersebut, Pengamat dan Praktisi Pendidikan, Indra Charismiadji menyampaikan tidak efektif karena para guru tidak disiapkan mengajar dua model sekaligus.

“Jelas tidak efektif. Kalau saya memilih online saja. Guru kita itu tidak ada yang disiapkan mengajar dua model sekaligus. Apalagi masuk 75 persen sisanya online 25 persen. Tanpa persiapan pula. Setahun terakhir ini santai saja. Guru disuruh berenang belum pernah diajari berenang,” ujarnya.

Jika hal ini dilakukan, justru akan memunculkan masalah baru dan bukan menyelesaikan masalah learning loss. Namun, lanjut Indra, sebaiknya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) segera membuka pusat komando pembelajaran selama pandemi.

“Guru belum diajarkan mengajar cara hybird. Ini akan muncul masalah baru. Bukan menyelesaikan masalah learning loss. Masing-masing sekolah ada monitornya,” tuturnya.

Indra menjelaskan kalau butuh bantuan buku ya, dikirim buka jangan pulsa. Menurutnya, pusat komando bukan berarti sentralisasi. Tetapi komandonya.

“Monitoring detail setiap sekolah. Di mana klaster baru akan ketemu cara terbaik. Hanya dua jam dan dua kali seminggu akan muncul masalah baru. Lagian kenapa maksain,” jelasnya.

Indra menceritakan Singapura sejak Juli buka sekolah ditutup kembali. Malaysia lockdown. “Kita malah mau buka sekolah. Guru katanya Juni 5 juta divaksin, tapi cuma 9 ribu. SMA 4 Pekalongan ada klaster. Lihat Kudus, Pati, dan Demak,” imbuhnya.

Pembelajaran yang aman sekarang menggunakan dalam jaringan (daring), lantas kenapa tidak dimaksimalkan daringnya. Sekarang malah dicap daring itu jelek dan buruk.

BACA JUGA :  Peringati Usia 12 Tahun: YPA-MDR Membina Lebih Dari 23.000 Siswa di Wilayah Prasejahtera

“Banyak yang daring tapi optimal. Harvard almamater Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim bilang sekolah virtual lebih maksimal. Kenapa harus memaksakan. Urgensi apa?” katanya.

Kecuali, enam bulan terakhir guru mengajar hybird. Anak yang kebagian online nanti muridnya keteteran. Sekarang terbagi dua offline dan online juga. Hal ini akan membuat potensi masalah baru klaster sekolah.

“Akan membuang waktu di sekolah. Dua jam di sekolah ngapain. Bahkan vaksin saja belum beres. Di mana target 5 juta,” ungkapnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *