Ganjar Vs Anies, Siapa Menang?

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

JIKA tak ada tsunami politik, berani taruhan bahwa Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan akan bertarung “head to head” dalam Pemilihan Presiden 2024. Mengapa?

Pertama, kedua sosok yang sama-sama gubernur ini, Jawa Tengah dan DKI Jakarta, elektabilitasnya sama-sama tinggi. Bahkan tak jarang salip-menyalip, meski tetap berada di bawah Prabowo Subianto. Hanya partai politik bodoh yang tidak mau mengusung Ganjar atau Anies sebagai calon presiden.

Kedua, meski elektabilitas Prabowo sejauh ini paling tinggi, namun momentum politik Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan itu diyakini sudah lewat. Politik adalah seni memanfaatkan momentum.

Ketiga, Puan Maharani, putri mahkota Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Agus Harimurti Yudhoyono, putra mahkota Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, dan Menteri Sosial Tri Rismaharini dalam berbagai survei hanya berada di ring dua. Artinya, Puan, AHY, Airlangga, Emil, Sandi dan Risma hanya layak menjadi calon wakil presiden.

Sejauh ini sembilan sosok itulah yang ada di episentrum politik pilpres. Kecuali jika nanti ada tsunami politik yang membuat sebagian dari mereka terlempar dari episentrum, dan ada pula nama lain yang masuk.

Keempat, memang ada yang mencoba memasangkan Puan sebagai capres, dengan Anies sebagai cawapres. Dasarnya, PDIP-lah satu-satunya parpol yang meskipun sendirian tapi berhak mengajukan pasangan capres-cawapres karena memiliki 22%, syarat minimal 20%, kursi DPR RI. Tapi, melihat elektabilitas Puan yang terus jongkok, dan elektabilitas Anies yang meroket, apakah Anies mau? Anies akan melaju sebagai capres.

BACA JUGA :  Pagebluk Covid-19; Gebukannya Merusak Industri Film di Tanah Air dan Asia-Pasifik.

Yang lebih utama dalam pilpres adalah elektabilitas tokoh, bukan parpol. Pilpres 2004 contohnya.

Kelima, elektabilitas Puan tak kunjung merangkak. Sebaliknya, elektabilitas Ganjar melejit. Jika di “injury time” nanti PDIP memaksakan Puan sebagai capres, Ganjar akan melaju sebagai capres. Dengan catatan ada parpol atau gabungan parpol yang mengusungnya.

Komparasi

Ganjar Pranowo versus Anies Baswedan, siapa yang akan menang?

Baik Ganjar maupun Anies punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan keduanya, sama-sama gubernur, sehingga popularitas dan elektabilitasnya relatif terjaga.

Kelebihan lainnya, keduanya sama-sama masih relatif muda. Paling tidak jika dibandingkan dengan Prabowo, sosok potensial capres lainnya.

Kelebihan berikutnya, keduanya punya segmen konstituen masing-masing yang berbeda. Ganjar respresentasi kaum nasionalis, Anies representasi kaum religius. Sejak merdeka hingga kini, arus utama pertarungan politik di Indonesia adalah antara kaum nasionalis dan kaum religius. Belakangan ada parpol yang mengusung sentimen keduanya sekaligus, yakni nasionalis-religius.

Tapi Ganjar dan Anies juga sama-sama punya kelemahan, yakni belum punya parpol yang paten. Anies enggak punya parpol. Ganjar pun di PDIP masih terancam.

Sekali lagi, jika keduanya jadi “head to head”, siapa yang akan keluar sebagai pemenang?

Ganjar diasumsikan sebagai penerus Presiden Joko Widodo. Konstituen Ganjar juga sama dengan konstituen Jokowi. Jika konstituennya loyal dan tidak kecewa terhadap kinerja Jokowi, Ganjar bisa menang. Pemilih Jokowi dalam Pilpres 2019 yang mencapai 54,5% diprediksi akan memilih Ganjar.

Namun, Anies pun bisa menang. Anies diasosiasikan dengan Prabowo. Konstituen Anies sama dengan konstituen Prabowo. Suara Prabowo dalam Pilpres 2019 yang mencapai 44,5% bisa menjadi modal awal Anies, ditambah dengan sentimen agama yang diprediksi akan dimainkan Anies seperti pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

BACA JUGA :  Lebaran Sehat Tanpa Asam Urat

Apalagi Anies diuntungkan dengan siklus kepemimpinan lima atau sepuluh tahunan, di mana presiden berikutnya tipenya adalah antitesis dari presiden sebelumnya. Jika sebelumnya sang presiden cenderung spontan dan ceplas-ceplos, presiden berikutnya adalah yang kalem dan serba terencana. Jadi, diam saja pun Anies sudah diuntungkan. Anies akan menang.

Namun jika ada pasangan capres-cawapres lain, Ganjar-Anies sebaiknya “bersatu”. Terserah siapa yang menjadi capres atau cawapresnya. Bila dua “raksasa” ini bergabung, niscaya tak akan terbendung. Implikasinya, masyarakat Indonesia tak akan terbelah lagi ke dalam dua kubu, seperti yang terjadi sejak 2014 hingga kini. Sebab kaum nasionalis dan religius sudah menyatu. Tak ada polarisasi lagi.

Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *