Membumikan Literasi Digital

Oleh Rani Oktaviyani

KEJAHATAN digital kian merajalela. Ia memang tidak selalu tampak dalam pengawasan kita, namun ia sebenarnya ada dan membawa ancaman bagi umat manusia. Ujaran kebencian, kabar hoaks, dan praktik penipuan daring yang berlalu-lalang di dunia maya, telah menjadi bukti bahwa kejahatan digital amat lekat dengan kehidupan kita. Tanpa pemahaman literasi digital yang cukup kuat, manusia bisa saja terhantam oleh kejahatan digital.

Bak pedang bermata dua, perkembangan dunia digital mampu menyebarkan ancaman bersamaan dengan kemudahan yang diberikan kepada penggunanya. Sebut saja aplikasi belanja daring. Siapa yang tidak senang menerima paket hasil berbelanja daring tanpa harus lelah bepergian? Tinggal ketik, lalu klik saja paket sudah berada dalam perjalanan. Namun, di beberapa kasus konsumen juga dihantui oleh praktik penipuan dengan kedok yang bermacam-macam.

Belakangan ini, di sebuah aplikasi belanja daring ditemukan beberapa toko yang menjual ”amplop misteri” dengan harga belasan ribu rupiah saja. Namanya saja misteri, tentu tak ada yang tahu apa isi sebenarnya amplop yang dijual itu. Namun, penjual licik tak mau calon pembeli terlalu lama berpikir dan kepo dengan isinya.

Ia pun menuliskan imingiming berupa hadiah uang tunai Rp 5 juta di dalam amplop itu. Ratusan orang akhirnya menjadi korban penipuan dari toko daring ini. Segelintir orang memang tampak beruntung, memberikan bukti foto segepok uang dan bintang lima pada kolom penilaian. Namun sisanya hanya ”buntung” karena mendapat barang tak berguna.

Kasus kejahatan digital ini tak hanya menyerang lapak daring saja, tetapi juga pada jejaring sosial. Adanya berbagai jejaring sosial gratis pada masa kini, menunjukkan bahwa proses komunikasi telah berevolusi dengan cepat. Telepon suara, video call, berkomentar sana-sini dalam dunia maya, hingga update status telah menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Namun sayang, adanya kemudahan itu justru membuat kejahatan digital juga semakin mudah untuk menyusup di kehidupan manusia. Salah satu yang sering dijumpai dalam jejaring sosial adalah ujaran kebencian (hate speech).

BACA JUGA :  Maju Terus, Pantang Ragu 

”Sok polos, ga tau malu”, ucapan ini adalah secuil nistaan warganet di kolom komentar akun Instagram seorang penyanyi gambus, yang sedang dihampiri badai isu perselingkuhan. Sepotong ucapan warganet itu saja telah menjadi bukti bahwa ujaran kebencian memang benar-benar nyata dan ada di sekitar kita. Ucapan itu memang sekilas tampak begitu enteng dituliskan. Namun, dampaknya tentu bisa sangat berbahaya bila seseorang yang dihinanya itu tidak bermental baja.

Dua contoh kasus di atas hanyalah sebagian kecil saja dari kejahatan digital yang mondarmandir di sekitar kita. Sisanya, masih bisa kita temukan segudang lagi di media sosial yang lainnya. Berdasarkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang Januari hingga Agustus 2020, terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia. Jumlah ini naik lebih dari empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu, yang tercatat pada kisaran 39 juta.

Beriringan dengan data tersebut, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga mirilis hasil survei pengguna internet Indonesia 2019-2020 meningkat menjadi 73,7% dari 64,8% pada 2018. Sehingga, dapat diperkirakan bahwa pengguna internet Indonesia sekarang mencapai 196,7 juta pengguna.

Proteksi Diri

Kejahatan digital memang dapat menjadi mimpi buruk bagi siapa pun yang mengalaminya. Kita mungkin tidak bisa mencegah orang-orang licik ingin mengambil keuntungan dari hasil berjualan yang salah. Tetapi, kita bisa menjadi pembeli yang cerdas untuk menghindarkan diri dari tipu muslihat penjual yang licik.

Tentu tak bisa disalahkan bila kita memiliki penilaian yang buruk terhadap orang lain. Tetapi, hal itu akan jadi masalah bila tidak disampaikan dengan cara yang baik. Maka dari itu, setiap manusia harus memiliki bekal yang cukup untuk meminimalkan peluangnya baik sebagai pelaku atau pun korban dari kejahatan digital.

BACA JUGA :  Presiden : Kita Harus Tingkatkan Kecakapan Digital Masyarakat

Dalam fenomena ini, pengetahuan literasi digital sangat diperlukan sebagai proteksi diri dari kejahatan digital. Tak perlu pusing memikirkan bagaimana implementasinya, saat kita berbelanja daring di sebuah aplikasi belanja pun, sudah sepatutnya kita mengamalkan literasi digital ini. Dengan membaca secara cermat deskripsi produk, harga, dan ulasan pembeli, seharusnya kita sudah bisa terhindar dari praktik penipuan.

Contoh lain, saat kita mendengar kabar tak mengenakkan dari seorang tokoh atau orang lain yang telah kita kenal misalnya. Carilah kebenarannya terlebih dahulu bila itu memang sangat diperlukan. Dalam hal ini, tabayun (konfirmasi) menjadi hal pertama yang harus ditunaikan.

Jangan sampai kita jadi orang julid yang hanya sok tahu kehidupan orang, lalu menghakimi sanasini. Atau bila kita masih memiliki hati nurani, cobalah untuk berpikir 10 kali saat hendak berkomentar tentang kehidupan orang lain. Dan renungkan, bagaimana jika keadaan itu berbalik kepada kita. (46)

–– Rani Oktaviyanimahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *