Praktisi di Industri Diharapkan Belajar Bahasa Kampus Melalui Pitching

SMJkt/Prajtna Lydiasari

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam menyampaikan bahwa salah satu yang menjadi kendala bagi insan perguruan tinggi untuk menghilirkan produk adalah karena tidak mengetahui bahasa yang digunakan oleh dunia industri, pemilik modal ventura, dan investor.

Oleh sebab itu, para praktisi di indusri diharapkan belajar bahasa kampus, dan para dosen di kampus pun dapat belajar bahasa pelaku industri serta pelaku usaha. Salah satu usaha untuk mempelajari hal tersebut adalah melalui “Pitching“.

Menurut Nizam melalui pitching ini insan perguruan tinggi bisa menawarkan pemikiran, hasil invensi dan hasil inovasi agar bisa diterima oleh teman-teman di hilir. Insan perguruan tinggi menurut Nizam biasanya menawarkan hasil pemikiran, inovasi, dan invensi terlalu tinggi yang kurang sesuai dengan kacamata investor.

Di lain pihak, industri  juga seringkali tidak melihat berdasarkan manfaatnya secara lengkap, karena mereka mempunyai mindset sendiri sehingga sering tidak ada titik temu.

“Salah satu dari agenda Kedaireka adalah membangun ekosistem, maka berbagai upaya dapat dilakukan baik melaui webinar, mentoring, pelatihan untuk insan perguruan tinggi yang juga sekaligus bersilaturahmi dengan dunia industri dan dapat semakin memperkuat ekosistem Indonesia untuk Rekacipta,” ujar Nizam.

Pada kesempatan yang sama, CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat menyampaikan salah satu cara pitching adalah memuji dengan tulus, serta kunci dari pitching adalah pemahaman. Sebab, akademisi bukan hanya menyampaikan ilmu dan riset tetapi juga menyebarkan harapan.

Kemudian salah satu kunci dari dari pitching adalah riset terhadap perusahaan atau organisasi yang akan diajak bekerja sama.

“Sebelum pitching penting sekali untuk banyak mendengarkan, seperti apa yang mereka butuhkan,  bisa memahami visi dan misi perusahaan, mampu mengajak industri untuk membayangkan dampak positif yang akan terjadi terhadap perusahaan, dan dalam presentasi tidak hanya sekadar angka tetapi juga tentang rasa,” jelas Salman Subakat.

BACA JUGA :  KILA Upaya Kemendikbudristek Kembalikan Masa Kanak-kanak agar Berkembang Secara Wajar

Salman mengungkapkan untuk inovasi kita harus dapat meyakinkan industri bahwa inovasi itu tidak bisa sebentar, dan jangan hanya menawarkan quick win, tetapi terdapat longterm-nya.

Selain itu dalam pitching juga harus memiliki ide yang kuat, adanya keterlibatan media, serta dokumen yang digunakan lebih baik tidak terlalu lengkap namun dapat dilihat dari berbagai pandangan, dibandingkan terlalu lengkap tetapi fokus ke satu titik. Tidak kalah pentingmya, hal yang penting diperhatikan adalah fase proses pra-pitching yaitu mengenal terlebih dahulu mitra dengan baik serta memiliki koneksi yang luas.

“Dokumen pitching juga harus dipercantik. Yang penting spirit dibalik cantiknya seperti dibuat infografis agar lebih terasa, hal-hal yang unik itu lebih dapat menarik perhatian, dokumen tersebut juga harus sustainable dan terakhir harus memahami karakter orang lain yang kita hadapi,” tegasnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *