Potensi Seni Rupa saat Pandemi: Adaptasi Digital, Pencitraan Personal dan Penguatan Ekosistem Seni.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com –– Sebagai rangkaian menuju kompetisi seni UOB Painting of the Year 2021 yang diselenggarakan UOB Indonesia, pada 29 Mei 2021, terselenggara Webinar dengan topik Peran dan Potensi Seni Rupa dalam Ekonomi Kreatif.

Dalam rangkaian program bertajuk “Melukis Asa”, acara ini menawarkan topik-topik menarik, kontekstual dan segar dengan perspektif beragam dari para ahli, praktisi dan nara sumber berkompeten di bidangnya. Yang diundang secara berkala dari kurator, seniman, praktisi bisnis art fair, gallerist, ekonom, penulis sampai eksekutif dan pejabat pemerintah.

Kali ini, dengan topik Peran dan Potensi Seni Rupa dalam Ekonomi Kreatif mengetengahkan periset ekonomi dari UOB Indonesia, Direktur sebuah Art Fair, mantan diplomat dan seniman, serta penyelenggara UOB painting of the Year yang mengulik seberapa jauh potensi seni rupa sesungguhnya di sektor ekonomi pada masa pandemi.

Enrico Tanuwidjaja, Head of Economic and Research, UOB Indonesia memberi pandangan menarik adanya disrupsi masa pandemi sektor ekonomi banyak terpukul, termasuk ekonomi kreatif.

“Saat ini, kita memasuki tantangan baru secara global, disebut VACCINE. Volatility yakni pergerakan cepat disebabkan penguncian ekonomi, dan berangsur-angsur dilepaskan. Ambiguity, kapankah ukuran kesuksesan kecepatan injeksi vaksin membantu recovery ekonomi? Complexity, secara global kompleks keragaman vaksin ada kendala, Confusion kebingungan kontrol medis sejumlah negara berbeda, Inoculation yakni mayoritas populasi melakukan masa kritis penguatan antibodi. New Normal, yaitu mencipta bisnis kenormalan baru, dunia digital di sektor ekonomi serta Emerging Stronger yakni, adaptasi lebih cepat dan lebih baik untuk berubah,” ujarnya di Jakarta baru-baru ini.

Sementara, nara sumber dari Kemenparekraf, Joshua Puji Mulia Simanjuntak – Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Kreativitas, menyampaikan bahwa kuncinya pemerintah memulai menerapkan kemungkinan segala adaptasi ekonomi yang baru, yakni digitalisasi.

BACA JUGA :  Mattagati; Ya Musisi, Ya Arsitek.

“Prioritas pemerintah saat ini untuk industri ekonomi kreatif termasuk seni rupa adalah kembalinya produktifitas para pekerja kreatif, pemilik galeri dan terutama seniman untuk menciptakan kondisi adaptasi digital yang merupakan upaya untuk menemukan beragam inovasi ”, katanya.

“Berbagai upaya ini adalah semata utntuk pemulihan kembalinya ekonomi dalam sektor seni rupa agar bisa diwujudkan” imbuh dia

Joshua menambahkan, pemerintah juga melakukan agenda kampanye untuk memulihkan kemampuan ekonomi kreatif lokal dengan anjuran membeli produk lokal yang disebut sebagai BBI – Bangga Buatan Indonesia.

Maka, seterusnya ada beberapa langkah untuk menerapkan protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability).

Senada dengan Joshua, Direktur Art Jakarta, Tom Tandio mengatakan bahwa dalam upaya penguatan ekosistem seni dan promosi produk Indonesia, memberi ruang tak hanya dalam bentuk digital berupa pameran online dan transaksi ekonomi bagi para pekerja kreatif; tapi juga melakukan eksperimen langsung secara offline, seperti yang dilakukan oleh Art Jakarta melalui perencanaan Art Jakarta Garden 2021.

“Acara Art Jakarta Garden adalah sebuah perhelatan seni terbatas di ruang terbuka dengan menampilkan karya-karya patung dan jumlah tertentu partisipan galeri. Menurut saya dengan system open air seperti ini, keselamatan pengunjung bisa lebih diutamakan,” ujar Tom.

Menurut Astari Rasjid, nara sumber lainnya, Perupa dan Duta Besar RI untuk Bulgaria, Albania dan Makedonia Utara (Periode 2016-2020) seniman adalah duta informal kultur Indonesia di manca negara.

“Potensi seni di manca negara sangat tergantung bagaimana kita membangun pencitraan dan komunikasi. Kita harus meninggalkan karakter pergaulan lokal, dalam artian mampu menciptakan kemasan yang profesional secara global,” ujarnya.

Astari menekankan bahwa kita tetap bangga dengan nafas kesenian yang memuat kultur lokal, tapi manifestasi pemasarannya semestinya yang mengglobal. Tatkala Astari menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, selama periode jabatannya terdapat beberapa capaian prestasi semacam memamerkan maestro seniman Indonesia di Galeri Nasional Bulgaria.

BACA JUGA :  “Detective Conan: The Scarlet Bullet” Rajai Box Office di China.

Kemudian menginisiasi Festival Asia yang diwakili oleh hampir seluruh partisipan benua Asia.

Maya Rizano, Strategic Communications and Brand Head, UOB Indonesia juga setuju jika misi utama perhelatan UOB Painting of the Year tahun 2021 adalah menciptakan panggung lokal yang bertransformasi ke global.

Proses pertukaran ide-ide besar, visi kultural lewat karya seni rupa para seniman Indonesia dipentaskan secara regional.

Setiap tahunnya, UOB memberikan kesempatan kepada salah satu seniman pemenang UOB Painting of the Year dari setiap negara yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia dan Thailand untuk mengikuti seleksi residensi di Fukuoka Asian Art Museum di Jepang.

Selama ini para pemenang Indonesia diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dalam lokakarya di beberapa Negara di Asia termasuk secara digital di masa pandemi seperti halnya Gatot Indrajati untuk komunitas seni di China.

“Penguatan pencitraan personal seniman penting dalam jangka panjang akan memberikan kontribusi pada sektor ekonomi yang melekat pada karya-karya lukisannya” jelas Maya.

Ia juga menyampaikan bahwa UOB Indonesia tetap berkomitmen bahwa adanya ajang kompetisi ini merupakan sumbangsih UOB Indonesia dalam membangun ekosistem yang baik. Khususnya dalam bidang seni, pendidikan dan anak-anak, bekerjasama dengan museum privat dan galeri nasional.

Membuat pameran virtual hingga penganugerahan pemenang terbaik di ajang UOB Painting of the Year tahun 2021 dari bulan April sampai berakhir pada Juli nanti.

UOB Painting of the Year merupakan salah satu kompetisi seni UOB Painting of The Year bergengsi di Asia yang telah diselenggarakan sejak tahun 1982, sebagai komitmen dalam memberi apresiasi dan edukasi atas hadirnya bakat-bakat perupa baru serta profesional.

Khususnya di Indonesia, kompetisi ini telah digelar selama 11 tahun. Program ini telah berkembang menjadi salah satu kompetisi bergengsi di industri seni Indonesia, dan banyak perupa Indonesia yang telah berhasil memenangkan penghargaan hingga ke tingkat Asia Tenggara. (Bb-69).

BACA JUGA :  Gatot Brajamusti Meninggal, Dimakamkan di Sukabumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *