Bentuk Soal Asesmen Nasional Lebih kepada Mengukur Daya Nalar Peserta Didik

SMJkt/Ist

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbang dan Perbukuan), Anindito Aditomo menjelaskan bahwa gambaran bentuk soal Asesmen Nasional (AN) lebih kepada mengukur daya nalar peserta didik. Jadi, yang diukur adalah kemampuan berpikir, tentang literasi berarti kemampuan berpikir tentang bacaannya.

“Sedangkan untuk matematika akan diberikan suatu permasalahan bukan hafalan rumus. Peserta didik nantinya akan diberikan bacaan teks (fiksi atau nonfiksi) dengan bermacam-macam tema,” jelasnya.

Dari bacaan tersebut terdapat beberapa pertanyaan untuk menggali pemahaman siswa. Soal yang diberikan berjenjang mulai dari tingkatan yang paling mudah hingga yang lebih sulit.

Untuk bidang matematika, akan diberikan suatu permasalahan untuk diselesaikan dengan menerapkan konsep matematika dasar. “Jadi, tidak ada matematika yang tingkat tinggi, kalkulus misalnya tidak ada di sini, tetapi matematika yang memang diperlukan di kehidupan sehari-hari (permasalahan yang konkret),” ujarnya.

Kemudian pada bagian survei karakter dan lingkungan, peserta didik diajak untuk menceritakan apa yang dialami sehari-hari di sekolah. Misalnya tentang perundungan (bullying) guna mendapatkan peta tentang prevalensi perundungan di Indonesia.

“AN ini berbasis komputer supaya lebih jujur, menekan biaya, dan agar lebih cepat dianalisis dan dikembalikan lagi ke sekolah. Kecepatan ini penting karena tujuan utamanya adalah memberikan informasi yang berguna untuk sekolah karena kalau hasilnya masih berbulan-bulan sudah berbeda lagi masalah yang ditemukan, ungkapnya.

Pada sisi infrastruktur, saat ini pihaknya sedang melakukan persiapan. Balitbang dan Perbukuan berkoordinasi intensif dengan unit terkait di kementerian dan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi sekolah-sekolah yang siap untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan AN tahun 2021.

“Nanti, sekolah yang belum siap secara teknis bisa menumpang di sekolah yang sudah siap,” tuturnya.

BACA JUGA :  Ditjen Kebudayaan akan Lanjut Sempurnakan Kamus Sejarah

Anindito mengatakan tahap ini perlu koordinasi teknis karena memperhatikan penerapan protokol kesehatan yang ketat. AN rencananya akan diselenggarakan pada bulan September, Oktober, dan November 2021.

Anindito berharap melalui AN ini terjadi perubahan orientasi pembelajaran di ruang-ruang kelas karena apabila sudah tercapai tujuan ini, maka tidak perlu lagi ada AN. Idealnya, proses pembelajaran antara guru dan murid-murid berorientasi pada pengembangan daya nalar, kreativitas, dan kolaborasi.

Selain itu, setiap guru juga harus terbiasa untuk berinteraksi dengan murid guna mendapat masukan dari mereka berkaitan dengan peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Ia juga berharap AN dapat memicu upaya Kemendikbudristek dalam merefleksikan efektivitas peran pemerintah dalam memfasilitasi pengembangan pembelajaran murid.

“Apa yang beberapa kali Mas Menteri sampaikan sebagai profil Pelajar Pancasila itu, mulai dari berakhlak mulia (iman dan takwa), bernalar kritis, bergotong royong, kreatif, berkebinekaan global, dan mandiri. Itu tujuan utama kita dari AN ini sehingga setiap pelajar bisa menjadi sosok Pelajar Pancasila,” harapanya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *