Mendikbudristek Berharap Kampus Merdeka Dorong Transformasi Perguruan Tinggi

SMJkt/Prajtna Lydiasari

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim berharap Kampus Merdeka dapat memberikan pencerahan kepada para rektor dan meminta dukungan untuk bersama-sama mendorong transformasi pendidikan perguruan tinggi.

“Ini bukan perubahan yang kecil, ini perubahan yang cukup besar. Tetapi dengan harapan bisa mengejar ketertinggalan dan bahkan lompat dari negara-negara maju,” ujarnya.

Dari keterbukaan dan inovasi daripada struktur perguruan tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang sekarang mengutamakan belajar dari manapun, mengutamakan minat dan bakat siswa dan meningkatkan secara dramatis relevansi daripada pengalaman S1 dan S2 mereka.

Mendikbudristek menjelaskan bahwa dalam program Kampus Merdeka terdapat berbagai bantuan bagi perguruan tinggi. Diketahui bahwa biaya dan sistem regulasi menjadi faktor penghambat jalannya Kampus Merdeka.

“Oleh karena itu, Kemendikbudristek secara proaktif memberikan solusi,” jelasnya.

Untuk persoalan pembiayaan, Kemendikbudristek mengerahkan berbagai skema seperti beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), pemberian insentif bagi perguruan tinggi yang berhasil mencapai 8 IKU, competitive fund, matching fund, dan berbagai pendanaan lainnya.

Sedangkan dari segi regulasi, Kemendikbudristek telah mengeluarkan Keputusan Menteri sebagai acuan kebijakan pengakuan 20 SKS, kemudian juga ada dosen fasilitator Kampus Merdeka sebagai konsultan kurikulum Kampus Merdeka di tingkat program studi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbudristek, Nizam menyampaikan bahwa Merdeka Belajar merupakan hak dari mahasiswa untuk memperkaya diri, wawasan, dan menggali pengalaman.

“Dilihat dari dunia kerja yang berubah sangat cepat, kalau tidak menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang fit dengan kebutuhan yang dibutuhkan dalam dunia kerja maka akan menjadi dosa kita karena tidak memberikan bekal yang cukup untuk memasuki dunia kerja,” ujar Nizam.

BACA JUGA :  Mendikbudristek : Jumlah Sekolah Pengguna SIPLah terus Meningkat

Nizam menggarisbawahi bahwa perguruan tinggi harus membekali mahasiswa untuk memiliki kompetensi memasuki dunia kerja, bukan hanya mendapatkan selembar ijazah. “Kita harus memberikan seluruh bekal yang dibutuhkan agar mahasiswa dapat masuk kedunia kerja karena itulah fokus utama kita,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Paristiyanti Nurwardani menekankan bahwa regulasi telah dibuat oleh menteri sebagai implementasi Kampus Merdeka dengan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020, kemudian Kepmendikbud Nomor 74 Tahun 2021 tentang Merdeka Belajar yang mengatur 20 SKS untuk setiap kegiatan yang ada di Kampus Merdeka.

“Kami berharap seluruh perguruan tinggi dapat bersama membedah regulasi yang telah Kemendikbudristek buat dan bersama bergotong royong untuk mengakselerasi kompetisi serta kompetensi mahasiswa kita agar lebih adaktif dan kompetitif pada era digital dan global,” tambah Paris. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *