Asli-Palsu dalam Seni Rupa.

Oleh Wicaksono Adi

JAKARTA, – Suaramerdekajkt.com — Pada abad XVI di Italia muncul kasus lukisan kembar dengan objek Paus Leo X karya Raphael (1483-1520), salah satu pentolan pelukis Renaisans. Dalam lukisan itu Paus Leo X didampingi dua kardinal, salah satunya adalah Clement VII.

Setelah Paus Leo X meninggal, kedudukannya digantikan oleh Paus

Clement VII yang dinobatkan pada tahun 1523. Tak lama setelah penobatan Paus baru itu, Federico II Gonzaga, bangsawan yang berkuasa di Mantua, mengunjungi keluarga Medici di Florence. Di “istana” keluarga itu ia melihat lukisan potret Paus Leo X yang wafat tiga tahun sebelumnya. Federico sangat menginginkan lukisan tersebut. Maka, ketika bertemu Paus Clement VII, Federico meminta hadiah dari Paus baru itu, yakni lukisan potret Paus Leo X karya Raphael.

Paus baru itu segera memerintahkan agar lukisan milik keluarga

Medici tersebut dikirimkan ke Federico di Mantua sebagai hadiah dari Clement VII. Kepala keluarga Medici, Ottaviano, tak kuasa menolak perintah tersebut. Patut dicatat bahwa baik Paus Leo X maupun Clement VII samasama berasal dari klan Medici.

Dan karena nerasa berat melepaskan lukisan itu, ketika mendapat perintah Paus baru, Ottaviano mencari akal agar lukisan aslinya tidak jatuh ke tangan orang lain. Kepada Paus Clement VII ia meminta waktu untuk mengganti bingkai yang lebih bagus sebelum dikirim ke Federico II. Bukannya pergi ke tukang bingkai, Ottaviano malah membawa lukisan itu ke studio Andrea del Sarto, seorang pelukis dengan reputasi bagus meski masih di bawah Raphael.

Ottaviano meminta Andrea del Sarto membuat lukisan tiruan karya Raphael itu. Dan setelah lukisan tiruannya rampung, Ottaviano mengirimkan kepada Federico II. Federico pun bersuka cita menerima lukisan itu lalu mengundang Giulio Romano, sorang pelukis yang berada di bawah perlindungannya, untuk sekadar mengecek apakah lukisan tersebut asli karya Raphael. Kebetulan Giulio pernah menjadi murid Raphael dan ikut membantu gurunya itu menyelesaikan lukisan potret Paus Leo X.

Ternyata, Giulio terkecoh oleh kehebatan Andrea del Sarto dan benarbenar yakin itu adalah karya Raphael. Tapi kemudian muncul Giorgio Vasari (1511-1574), seorang pelukis, arsitek kawakan sekaligus sejarawan yang sedang menyiapkan buku sejarah para pelukis Renaisans. Ketika mengumpulkan bahan untuk bukunya itu ia rajin mengunjungi studio seniman, juga rumah para kolektor, termasuk mengunjungi istana Federico II guna melihat-lihat koleksi keluarga penguasa ini.

Dengan ditemani Federico II dan Giulio Romano, Vasari melihat lukisan Paus Leo X tersebut. Tentu, dengan bangga sang tuan rumah menceritakan bahwa itu adalah lukisan Raphael yang ia peroleh dari keluarga

Medici melalui Paus Clement VII. Sementara Giulio menceritakan

bagaimana ia membantu gurunya menyelesaikan lukisan tersebut, termasuk menunjukkan bagian-bagian mana yang ia garap dan mana yang dibuat oleh gurunya.

Melihat hal itu, Vasari tak kuasa menahan diri untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Secara blak-blakan Vasari bercerita bahwa lukisan itu adalah karya Andrea del Sarto dengan mengkopi karya Raphael atas perintah Ottaviano. Vasari sendirilah yang menunggui Andrea mengerjakan lukisan tersebut dari awal hingga rampung. Dan setelah selesai, Vasari juga nyaris tak dapat membedakan dengan lukisan Raphael. Seluruh detail digambar dengan sempurna.

Vasari kemudian menunjukkan tanda di balik panilnya sebagai bukti bahwa lukisan itu memang dibuat oleh Andrea. Tentu, Federico II dan Giulio sangat terkejut mengetahui fakta tersebut. Tapi Giulio kemudian mengatakan bahwa lukisan Andrea itu nilainya sama dengan karya Raphel, dan bahkan pada bagian-bagian tertentu melebihi karya aslinya.

Mendengar pendapat Giulio tersebut, Federico II merasa puas dan tetap bangga memiliki lukisan potret dengan objek Paus Leo X. Sekarang lukisan asli karya Raphael menjadi koleksi museum di Florence sedangkan lukisan tiruannya berada di museum Naples dengan keterangan bahwa lukisan tersebut adalah karya Andrea del Sarto.

Dari cerita di atas tampak bahwa karya-karya palsu atau tiruan seringkali memang setara dan bahkan melebihi kualitas lukisan aslinya. Dalam buku Jonathon Keats, Forged: Why Fakes are the Great Art of Our Age (2013) disebutkan beberapa kasus pemalsuan lukisan dan mural dengan kualitas tinggi sehingga mendapat penghargaan dari masyarakat. Pada umumnya, semula karya-karya itu tidak dikenali sebagai karya palsu, tapi belakangan kemudian dapat dibuktikan kepalsuannya. Dan mengenai kasus lukisan kembar berobjek Paus Leo X itu, selama berabad-abad tak muncul komentar negatif dari masyarakat seni rupa.

Baru pada tahun 1959 di Jerman terbit buku The Art of the Faker yang ditulis Heinrich Schmitt yang menggunakan nama samaran Frank Arnau. (Versi Inggrisnya terbit tahun 1961). Arnau mengecam Ottaviano de Medici yang sengaja menipu Federico II, juga mengritik Andrea del Sarto yang bersedia melakukan pemalsuan dengan imbalan uang. Arnau tidak peduli dengan kualitas lukisan Andrea maupun kesediaan Federico II menghargai lukisan tersebut. Juga fakta bahwa di Museum Naples karya tersebut disebutkan sebagai karya Andrea del Sarto. Bagi Arnau, apapun alasannya, di situ telah terjadi pemalsuan lukisan Raphael. Titik.

Kisah pemalsuan lukisan Raphael oleh Andrea del Sarto tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan Han van Meegeren (1889-1947), seorang pelukis dan ahli restorasi yang sangat lihai meniru karya maestro Belanda, Jan Vermeer (1632-1675). Han van Meegeren ini dijuluki sebagai “Master Forger” atau pakar penjiplak yang nyaris tiada tanding. Ia mampu meniru lukisan Vermeer dengan kualitas yang sangat bagus.

Tak hanya sampai di situ, van Meegeren juga dapat meniru teknik pelapisan cat, pengolahan pigmen dan formula kimiawinya. Dengan studi mendalam, ia tahu rahasia pembuatan bahan berdasarkan perubahan karakter cat yang menua, termasuk kandungan lapis lazuli. Ia membuat formula itu dengan menggerus bahan-bahan timah untuk dicampurkan dengan cat yang memiliki karakter sama dengan yang digunakan Vermeer. Ia juga mampu membuat campuran kimia yang menjadikan kanvas baru menjadi tua, persis sama dengan kanvas lukisan aslinya.

Dengan begitu, ketika dilakukan uji laboratorium, lukisan-lukisannya tak dapat dibuktikan sebagai lukisan palsu. Bertahun-tahun para pakar lukisan dan kurator museum maupun balai lelang terkecoh dengan karyakarya van Meegeren. Tapi kemudian muncul Josef Riederer, seorang ahli arkeometri yang berhasil mendeteksi kejanggalan karya-karya van Meegeren setelah melakukan pengujian dengan Spektometri Fluoresensi Sinar X.

Riederer dapat membuktikan bahwa lukisan van Meegeren terdapat konsentrasi isotop timah 210. Padahal isotop timah itu hanya dapat bertahan sekitar 22 tahun saja. Artinya, tak ada isotop timah yang masih hidup dalam lukisan Jan Vermeer. Van Meegeren pun ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara.

Ketika menjalani sidang, terungkap bahwa van Meegeren melakukan pemalsuan tidak semata-mata bertujuan komersial, melainkan juga didorong oleh keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat ketimbang pelukis-pelukis yang dielu-elukan khalayak. Baginya, para pelukis itu tidak sehebat yang dipikirkan orang. Ia merasa bangga dapat mengecoh semua orang dan bahkan dapat membuktikan bahwa dirinya juga seorang seniman mumpuni.

Setelah itu muncul pakar pemalsu yang lain, di antaranya Christian Goller dan Eric Hebborn yang menyempurnakan teknik pembuatan isotop timah dan formula kimiawi van Meegeren. Mereka menggerus timah dari lonceng-lonceng berusia ratusan tahun yang dibeli di toko-toko loak. Gerusan timah dengan isotop yang sudah mati itu kemudian dimasukkan dalam campuran cat sehingga benar-benar mirip cat kuno.

Dua pemalsu itu berhasil memproduksi hampir 1000 lukisan yang beredar di seluruh dunia. Tapi akal bulus mereka ketahuan juga. Dengan mikroskop elektron diketahui bahwa sapuan dan goresan cat dalam karya Goller dan Hebborn jauh berbeda dengan lukisan aslinya. Tapi mereka terus membuat karya palsu. Hebborn malah berkoar akan membanjiri dunia seni rupa dengan gambar-gambar palsunya. Ia bahkan menulis buku The Arts Forger’s Handbook, yakni buku panduan atau pegangan yang berisi teknik dan siasat bagaimana membuat lukisan palsu dengan keterangan yang sangat rinci. Hebborn tak sempat berurusan dengan polisi karena empat minggu setelah buku tersebut terbit ia tewas di sebuah gang di Roma. Seseorang yang tak dikenal menghajar kepalanya dengan palu.

            Beberapa kasus pemalsuan lukisan seperti yang diceritakan di atas menunjukkan bahwa secanggih apapun modus penciptaannya, akhirnya dapat dibongkar berkat uji laboratorium yang lebih canggih lagi. Yaitu pengujian lukisan dari aspek material secara ilmiah sehingga mustahil membantah kebenarannya.

Tapi uji laboratorium semacam itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga waktu dan prosedur saintifik yang tidak sederhana. Sementara lukisan palsu yang beredar di seluruh dunia semakin hari semakin banyak. Kapasitas uji laboratoriom tidak sebanding dengan jumlah lukisan palsu yang diproduksi.

Selain itu, ada cara lain untuk mengetahui keaslian lukisan, yakni dengan melakukan penelusuran sejarah kepemilikan untuk mengungkap riwayat (provenance) dan pengecekan melalui analisa visual. Uji provenance mencakup otentifikasi melalui validasi sejarah pembuatan, peredaran dan kepemilikan dengan bukti-bukti  dokumen pendukungnya. 

Sedangkan uji visual mencakup analisa formal karya berdasarkan karakter goresan, warna, komposisi, dan segala aspek rupaan lainnya dari karya seorang pelukis. Di sini peran pakar spesialis sangat menentukan. Seorang pakar seni yang khusus mempelajari Vermeer misalnya, akan mengetahui karakter teknis sang maestro yang berbeda dengan pelukis lain. Ia dapat menentukan mana karya asli Vermeer dan mana yang palsu. Akurasinya semakin tinggi jika didukung teknologi canggih seperti mikroskop elektron yang berhasil menguak kepalsuan lukisan Christian Goller dan Eric Hebborn di atas.

BACA JUGA :  Covid-19: Uman, Aman, Iman

Itulah verifikasi tiga kaki. 

Selama ini, di Eropa dan Amerika Serikat, metode tersebut adalah metode standar untuk pengesahan keaslian lukisan. Setelah verifikasi dilakukan biasanya masih terdapat langkah lanjutan, yakni pengakuan dan pengesahan dari lembaga atau komunitas seni rupa yang memiliki kekuatan legitimasi atas karya.

Hal itu terjadi pada kasus lukisan karya Claude Monet (1840-1926) berjudul Bords de la Seine a Argentueil (dengan titi mangsa 1918). Lukisan tersebut milik kolektor Inggris David Joel. Selama 18 tahun sang kolektor berusaha mendapat pengakuan dari berbagai otoritas yang dianggap paling kredibel menilai karya-karya Monet, terutama Wildenstein Institute, tapi tidak pernah berhasil.

Kemudian, pada tahun 2012 BBC berinisiatif melakukan liputan investigatif sekaligus penelitian dan penelusuran untuk membuktikan keaslian karya tersebut. Dua orang reporter berpengalaman, yaitu Fiona Bruce dan Phillip Mould ditugaskan untuk melaksakan proyek itu. Mereka mengumpulkan seluruh informasi dan data yang berkaitan dengan kehidupan Claude Monet, termasuk mendatangi studio dan seluruh tempat yang pernah disinggahi atau dijadikan tempat bekerja sang pelukis.

Mereka juga mengundang para pakar seni rupa paling berkompeten sebagai spesialis Monet berikut ahli forensik dan pakar laboratorium lengkap dengan teknologi tercanggih. Penelitian dilakukan dalam tiga aras sekaligus, pelacakan sejarah asal-usul (provenance), analisa artistik oleh pakar spesialis Monet, dan uji saintifik di laboratorium.

Untuk melacak asal-usul lukisan tersebut, dua reporter itu terpaksa membongkar seluruh arsip pribadi Monet, termasuk catatan belanja kanvas, cat, kuas, catatan kekaryaan dan buku hariannya. Rupanya sang pelukis sangat disiplin mencatat segala kegiatan kreatifnya. Kuitansi, nota dan buktibukti pembayaran material lukisan dan dokumen penjualan karya tersimpan dengan baik.

Bahkan kedua reporter itu dapat menemukan lokasi tempat Monet membuat lukisan tersebut dengan lanskap yang persis sama pada lukisannya. Bukti fisik asal-usul kanvas dan spanram juga masih utuh, lengkap dengan stempel nama toko ketika spanram itu dibeli. Mereka kemudian menelusuri jejak berlapis orang-orang yang pernah membeli lukisan tersebut hingga sampai Mesir ke rumah seorang kolektor penggemar Monet bernama Mohammad Mahmoud Khalil (1877-1953) yang pernah membeli karya itu dari galeri Georges Petit di Paris, lengkap dengan bukti nomer kode lukisan berikut statemen otentifikasi, nota kuitansi dan bukti pengiriman karya.

Penelitian dari aspek asal-usul itu membuktikan bahwa lukisan tersebut memang karya Monet. Tapi tak cukup sampai di situ. Penelitian juga diperkuat uji saintifik di laboratorium dan analisa visual serta kesejarahan artistik dari para pakar spesialis Monet.

Seluruh bukti itu direkam dengan lengkap menjadi sebundel tebal dokumen yang menyatakan bahwa lukisan itu memang karya asli Monet, lalu diserahkan ke Wildenstein Institute bersama lukisannya. Institut ini adalah penjaga “wibawa” paling kredibel terkait karya Monet. Lembaga ini telah membuat penelitian dan verifikasi seluruh karya Monet untuk dimasukkan dalam catalogue raisonné, yakni sebuah buku babon berisi karya-karya yang sudah disahkan.

Jika ada karya yang tak tercantum dalam buku tersebut maka tidak dapat dipertanggung jawabkan keasliannya. Dan setelah seluruh bukti pengujian keaslian karya Monet di atas diserahkan, tiga minggu kemudian Wildenstein Institute memberi jawaban: “Maaf, hingga saat ini kami tetap menolak keaslian lukisan ini.”

Cerita tersebut menunjukkan betapa otoritas yang sangat dihormati seperti Wildenstein Institute dapat mengambil keputusan yang melawan “akal sehat.” Dan bisa saja otoritas semacam itu bertindak sebaliknya dengan mengesahkan karya palsu menjadi asli. Tapi dalam sejarahnya hal itu belum pernah terjadi.

Yang hendak dikatakan dari cerita di atas adalah bahwa penentuan status keaslian sebuah lukisan tidak semudah membalik telapak tangan. Sang pemilik lukisan bisa saja tak menghiraukan keputusan Wildenstein Institute dan tak perlu mendapat pengakuannya karena memang telah terbukti bahwa lukisan tersebut memang asli karya Monet.

Tapi rupanya hanya otoritas lembaga itulah yang paling berkuasa menentukan nilai dan harkat martabat lukisan Monet di mata dunia yang akan mempengaruhi harga jualnya. Jika sudah disahkan, harga lukisan itu akan sejajar dengan lukisan-lukisan Monet lainnya. Itulah alasan kenapa sang pemilik tetap ingin mendapat pengesahan dari lembaga tersebut.

***

Situasinya berbeda dengan kehidupan seni rupa di Indonesia. Untuk mengklaim keaslian sebuah karya, orang tak tak perlu bersusah payah melakukan pengujian berlapis. Bahkan orang dapat membuat bukti-bukti dokumen palsu yang seolah tampak asli. Juga berbagai trik dan cerita ini-itu yang membuat pembeli terpesona dan yakin pada status keaslian karya.

Maka, tak heran jika berkali-kali terjadi skandal pembuatan dan perdagangan lukisan palsu, dalam skala kecil maupun besar. Salah satu kasus yang menghebohkan dunia seni rupa Indonesia adalah pameran dan rencana lelang yang akan dilakukan Batavia Auctioneers pada bulan November 2000 di Jakarta. Balai lelang tersebut hendak melelang lukisan-lukisan yang didaku sebagai karya pelukis dunia seperti Van Gogh, Claude Monet, Auguste Renoir, Pablo Picasso, Marc Chagall, Diego Rivera, dan karya-karya pelukis zaman Hindia Belanda seperti Kees van Dongen, Le Mayeur, WG  Hofker maupun pelukis Indonesia seperti S. Sudjojono, Basoeki Abdullah, Trubus, Hendra Gunawan, Arie Smit (Dermawan T 2014: 51).

Rencana lelang dengan tajuk The Old Painting Pre-World War II itu menampilkan kurang lebih 110 lukisan. Sehari setelah preview, muncul banyak kecaman dari berbagai pihak, terutama para pengamat seni yang menyatakan bahwa karya-karya yang akan dilelang adalah lukisan palsu. Berbagai media massa memberitakan bahwa pameran dan rencana lelang itu adalah skandal terbesar pada abad XX dalam kasus lukisan palsu.

Akibat kehebohan itu, pihak kepolisian turun tangan dan meminta panitia untuk memberikan bukti keaslian semua lukisan. Polisi juga meminta kepada pihak-pihak yang mengecam untuk memberikan bukti bahwa lukisan itu palsu. Jika dalam waktu satu bulan bukti-bukti tersebut tidak ada, maka kepolisian menyatakan berhak memusnahkan lukisan-lukisan dimaksud. Tentu, semua pihak tak dapat memberikan bukti yang diminta polisi. Tak jelas bagaimana kelanjutan kasus ini. Juga tak diketahui di mana lukisanlukisan tersebut berada hingga kasus itupun menguap begitu saja.

Selain itu pernah mucul kasus lukisan kembar, di antaranya karya Raden Saleh dan S. Sudjojono. Pada tanggal 29 Mei 2005 di Hongkong, balai lelang Christie’s membuat lelang bertajuk Southeast Asian and Modern Indian Painting, Including Contemporary Art. Balai lelang ini menampilkan lukisan Raden Saleh yang diberi keterangan “A Family promenades along a path with two tigers in wait and the Borobudur in the background” berukuran 112 X 156 sentimeter dengan tanda tangan bertiti mangsa 1849.  Menariknya, lukisan tersebut nyaris sama persis dengan lukisan Raden Saleh berjudul Lying in Wait (Mengintai) yang pernah dilelang oleh balai lelang Sotheby’s pada 3 Oktober 1999 di Singapura dengan harga sekitar Rp. 14 miliar. Seorang pakar seni abad XIX dari Netherland Institute for Art History, WF Rappard menyatakan bahwa kedua lukisan tersebut adalah karya asli Raden Saleh.

Dalam lelang, pihak Christie’s menyebutkan bahwa Raden Saleh adalah pelukis yang biasa menerima pesanan untuk membuat lukisan yang sama, contohnya lukisan Berburu Kijang dan Gunung Merapi Meletus versi siang dan malam. Tapi tak disebutkan bahwa lukisan berobjek singa yang sedang mengintai dengan latar belakang candi Borobudur tersebut nyaris sama dengan lukisan yang pernah dilelang oleh Sotheby’s.

Hal itu berbeda dengan sesi lelang Christie’s pada 27 April 2003 yang menampilkan lukisan karya Rudolf Bonnet. Christie’s menyebutkan bahwa lukisan tersebut nyaris sama dengan karya Bonnet yang terdapat dalam buku H de Roever-Bonnet berjudul Rudolf Bonnet, Een zondagskind yang terbit tahun 1990. Disebutkan pula bahwa karya yang dilelang adalah karya studi sedangkan yang tercantum dalam buku de Roever adalah karya jadi berupa mural dengan bahan tempera. Dengan keterangan itu, khalayak tahu bahwa karya yang dilelang adalah bagian dari proses ketika Bonnet membuat mural di rumah seorang gubernur di Makassar.

Pada tahun yang sama, Christie’s melelang lukisan karya Auke Sonnega yang diragukan oleh banyak pihak. Dan setelah melalui pengujian yang seksama, balai lelang itu menyatakan bahwa lukisan tersebut adalah palsu, lalu mengembalikan uang kepada pemenang lelang (Soetriyono 2012:572).

Setelah itu muncul perdebatan mengenai lukisan kembar karya S. Sudjojono berjudul Dunia Tanpa Pria koleksi Putra Masagung dengan lukisan Tempat Mandi di Pinggir Laut koleksi Haryanto Adikoesoema. Menanggapi kasus tersebut, majalah Tempo edisi 23-29 Desember 2013, melakukan investigasi kesejarahan kedua lukisan tersebut dengan mewawancarai para model yang terdapat dalam lukisan itu, di antaranya Rose Pandanwangi, istri sang pelukis.

Menurut Rose, dua lukisan itu adalah pesanan seorang kolektor. Ketika lukisan pertama hampir selesai, datang kolektor lain yang melihat lukisan tersebut dan sangat tertarik sehingga mendesak sang pelukis agar menjual lukisan itu kepadanya. Tentu, Sudjojono menolak, karena lukisan itu adalah pesanan kolektor lain. Tapi kolektor itu terus mendesak dan mengatakan akan menghadiahkan lukisan tersebut kepada istrinya yang sedang sakit keras.

Akhirnya Sudjojono memenuhi keinginan kolektor kedua dengan alasan kemanusiaan. Menurut Rose, S. Sudjojono bersedia membuat satu lukisan yang sama dengan sedikit perbedaan, yakni pada sosok perempuan yang mengenakan brokat merah transparan.

BACA JUGA :  Penyanyi Andini dan Satvika Iswara Dirikan Yayasan.

Setelah itu, majalah Tempo menemui model lainnya, yakni Sri Sara alias Titje, putri Rose dari suami pertama yang kemudian menetap di Bengkulu. Ketika lukisan itu dibuat tahun 1964, Titje berusia 15 tahun. Titje benar-benar ingat bagaimana dirinya dijadikan model untuk dua lukisan tersebut. Ia menjadi model sosok perempuan yang duduk bertopang dagu tampak samping. Dengan keterangan tersebut, sekurang-kurangnya terdapat bukti awal tentang keaslian lukisan S. Sujojono itu.

Jika pada kasus lukisan Bonnet, Auke Sonnega dan S. Sudjojono terdapat informasi yang jelas sehingga pemangku kepentingan seni rupa dapat mengambil kesimpulan dan tindakan yang jelas pula, maka pada kasus lukisan Raden Saleh publik tak mengetahui bagaimana kelanjutan silang sengketa yang melibatkan dua balai lelang besar tersebut.

Sekurang-kurangnya, dengan melalui prosedur lelang, suatu lukisan dapat terekspos secara terbuka sehingga khalayak seni dapat melihatnya secara langsung untuk menentukan status keasliannya. Dalam sesi lelang seperti itu biasanya akan terjadi pertukaran informasi di antara para pemangku kepentingan yang terlibat. Itupun tetap tak dapat menjamin keaslian suatu lukisan seperti yang terjadi pada karya Auke Sonnega.

Sudah barang tentu, jumlah transaksi dalam lelang terhitung lebih sedikit dibandingkan pembelian secara personal dari tangan ke tangan. Dalam transaksi semacam itu, peluang untuk menentukan keaslian karya menjadi lebih kecil. Salah satu contoh kasus adalah pembelian lukisan yang didaku sebagai karya S. Sudjojono oleh kolektor EZ Halim.

Pada mulanya, kolektor ini ditawari lukisan oleh pegawai toko bingkai langganannya. Sang penjual menyodorkan bukti sebuah buku berjudul Seni Lukis Indonesia Baru: Sebuah Pengantar yang ditulis Sanento Yuliman dengan editor Jim Supangkat dan Goenawan Mohamad. Buku tersebut diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976. Pada halaman 59 tercantum lukisan S. Sudjojono berjudul Penganten Ali lengkap dengan keterangan “Koleksi GPH Puspo Atmodjo”. Maka, sang kolektor yakin bahwa lukisan itu memang asli lalu membelinya dengan harga miring.

Beberapa tahun kemudian, sang kolektor membeli buku berjudul Seni dan Mengoleksi Seni yang mengulas praktik mengoleksi kolekror kawakan dr. Oei Hong Djien (sering dipanggil OHD) terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, April 2012. Dalam buku itu ia menemukan lukisan S. Sudjojono yang “sama” dengan lukisan yang ia beli. Tapi judulnya berbeda: Wedding Ceremony (1976).

Sang kolektor tenang-tenang saja karena boleh jadi S. Sudjojono memang membuat lukisan yang mirip. Tapi selang beberapa waktu, muncul heboh kasus lukisan yang diduga palsu dalam koleksi OHD. Halim kemudian bertemu Bambang Bujono yang saat itu menjadi bagian tim penulisan buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia (2014). Bambang Bujono adalah wartawan dan kritikus seni yang sudah aktif sejak tahun 1970. Kebetulan Bambang Bujono memiliki buku terbitan DKJ tersebut.

EZ Halim kemudian membandingkan buku pemberian penjual lukisan itu dengan buku milik Bambang Bujono. Ternyata, empat halaman buku aslinya (halaman 59-62), telah dicopot lalu dicetak ulang dengan teknik digital di atas kertas yang persis sama halaman buku aslinya yang berisi foto lukisan Hendra Gunawan, Affandi dan Wakidi. Lalu di halaman 59 yang berisi lukisan S. Sudjojono berjudul Wawayangan diganti dengan lukisan Penganten Ali itu. Orang nyaris tak dapat membedakan kualitas cetak buku asli dengan palsunya.

Kasus serupa juga diceritakan majalah Tempo edisi 25 Juni-1Juli 2012 yang membahas lukisan-lukisan koleksi OHD. Majalah Tempo menemukan foto asli Hendra Gunawan yang telah dimanipulasi. Pada foto aslinya, sang pelukis duduk di depan lukisan besar yang tergantung di dinding. Tapi foto latar belakang itu kemudian diganti lukisan lain dengan teknik kolase hitam putih sehingga mengesankan foto itu sudah lama dan agak kabur. Oleh OHD, foto hasil manipulasi itu kemudian dijadikan bukti keaslian karya Hendra. Tidak diketahui siapa yang membuat versi foto yang baru, kemungkinan besar adalah orang yang menjual lukisan tersebut kepada sang kolektor.

Dalam buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia (JLPI) yang diterbitkan oleh Perkumpulan Pecinta Seni Indonesia (PPSI) tersebut di atas, digambarkan bagaimana liku-liku pembuatan dan perdagangan lukisan palsu yang melibatkan pihak-pihak pemegang otoritas seni seperti kolektor berpengaruh hingga jaringan ataus indikat yang berlapis. Patut dicatat bahwa penerbitan buku tersebut dipicu oleh heboh lukisan palsu setelah kolektor kawakan OHD membuka museum ketiganya di Magelang, Jawa Tengah, pada 15 April 2012.

Museum itu dinamai “OHD Museum”. Pada malam pembukaannya dilakukan pameran bertajuk Back to Basic, Lima Maestro Seni Rupa Modern Indonesia. Selain membuka museum OHD juga menerbitkan buku berjudul Lima Maestro Seni Rupa Modern Indonesia yang memuat karya S.Sudjonono, Affandi, Hendra Gunawan, Soedibio dan Widajat.

Banyak seniman, pakar, dan pencinta seni rupa yang hadir pada saat pembukaan museum tersebut, salah satunya adalah kolektor Syakieb Sungkar yang diundang secara pribadi oleh OHD tiga bulan sebelumnya. Satu bulan sebelum pembukaan OHD Museum, diadakan pameran pendahuluan koleksi baru OHD di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) yang mendapat publikasi sangat baik sesudahnya.

Hampir dua bulan publik seni rupa Indonesia disuguhi pemberitaan seni yang berfokus pada OHD dan koleksi-koleksinya. Syakieb Sungkar juga hadir pada pameran pendahuluan di BBJ tersebut. Pada pembukaan pameran di BBJ itu, muncul semacam “kejanggalan” dalam karya-karya Hendra Gunawan ukuran besar yang menjadi highlight pameran itu.

Lukisan tersebut pattern-nya agak berbeda dengan lukisan-lukisan Hendra yang selama ini dikenal publik seni rupa Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada lukisan Sabda Alam, karya S. Sudjojono, yakni lukisan nude yang menggambarkan istri sang pelukis dari arah belakang yang juga ditampilkan pada malam pembukaan OHD Museum di Magelang.

Rupanya “kejanggalan” tersebut juga dirasakan oleh beberapa orang yang hadir dalam dua pembukaan pameran tersebut. Dan bisik-bisik soal koleksi lukisan yang diduga palsu OHD dalam pameran itu menjadi bumbu penyedap dalam acara kongkow para kolektor. Kemudian sejak 1 Mei 2012 Syakieb Sungkar mulai menulis perihal koleksi terbaru OHD di media sosial dan mendapat tanggapan yang cukup ramai.

Perdebatan pun menjadi kian panas ketika diadakan Round Table Discussion di Galeri Nasional Indonesia pada tanggal 24 Mei 2012 yang membahas kasus tersebut. Selanjutnya kasus ini menjadi laporan utama majalah Tempo edisi 25 Juni-1Juli 2012, berupa investigasi jurnalistik mengenai sindikat pemalsuan lukisan berikut liku-liku perdagangannya, terutama penelusuran lukisan-lukisan yang diduga palsu koleksi OHD Museum.

Dengan laporan majalah Tempo itu publik seni rupa maupun publik umum tersentak oleh kenyataan meluasnya praktik pemalsuan lukisan yang terjadi di Indonesia. Tapi rupanya tak ada langkah lanjutan setelah majalah Tempo mengungkap skandal itu. Para pemangku kepentingan seni rupa Indonesia, baik pihak OHD maupun pihak yang “menggugat” keaslian karya old master itu seolah tak dapat berbuat lebih jauh.

Dalam laporan utama majalah Tempo itu digambarkan secara rinci liku-liku pembuatan dan perdagangan lukisan palsu yang berlapis-lapis, mulai dari level terendah hingga ke jenjang tertinggi yang melibatkan kolektor berpengaruh hingga lukisan-lukisan palsu itu tembus ke balai lelang.

Semua bukti itu memberi indikasi kuat bahwa OHD adalah aktor penting dalam sindikat lukisan palsu. Tapi setelah terbitnya majalah Tempo, tidak ada respons dari sang kolektor. Jika majalah Tempo berbohong maka seharusnya dapat digugat dengan pasal pencemaran nama baik atau bahkan tuduhan fitnah.

Yang menarik, pihak OHD malah menantang pihak-pihak yang meragukan keaslian lukisan koleksinya, termasuk yang termuat dalam buku Lima Maestro Seni Rupa Modern Indonesia, untuk membuktikan ketidak asliannya. Ini menarik karena yang diminta memberi bukti bukannya si pemilik karya melainkan orang lain yang menggugat status keasliannya. Padahal sang pemilik kemudian secara resmi memamerkan lukisan tersebut di OHD Museum dengan memungut bayaran. 

Jikakalaupun kemudian disepakati harus dilakukan pengujian keabsahan karya, apakah pihak pemilik karya tersebut berkehendak mengujinya? Sebaliknya, para pihak “penggugat” juga tak dapat melakukan intervensi langsung agar si pemilik karya mau melakukan pengujian koleksinya oleh otoritas yang independen. Pihak keluarga seniman sebagai pewaris hak cipta atas karya-karya itupun sama sekali tidak bersuara.

Dan sebagaimana lazimnya, tak ada tanggapan dari pemerintah, dalam hal ini badan atau jawatan yang bertanggung jawab pada bidang permuseuman. Memang segala persoalan yang berkaitan dengan museum yang dimiliki oleh swasta, dapat dikatakan lepas dari pengawasan pemerintah.

Hal itu berbeda dengan di negara-negara lain, seperti China misalnya.

Otoritas disana menutup Museum Jibaozhai di kawasan Erpu, Provinsi Hebei, China Timur, pada bulan Juli 2013, setelah mengetahui bahwa sebagian besar koleksi museum tersebut merupakan benda antik palsu. Para pengelola museum tersebut segera disidik pihak berwenang.

Penyebab Pemalsuan Lukisan

Sekurang-kurangnya terdapat tiga faktor yang membuka peluang pemalsuan karya seni rupa di Indonesia. Pertama, minimnya catatan dan dokumentasi seni rupa, baik dokumentasi historis yang merangkum informasi sejarah seni rupa secara umum maupun dokumentasi historis yang lebih spesifik berupa catatan lengkap mengenai aktor-aktor penting dan segala aspek yang berkaitan dengan praktik produksi karya serta dokumentasi privat atau individual yang dilakukan oleh si seniman sendiri.

Kendati medan seni rupa modern Indonesia masih terbatas, toh sebagian besar peristiwa yang menentukan perjalanan sejarahnya belum tercatat atau terdokumentasikan dengan baik. Catatan, kajian dan kodifikasi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga atau institusi yang terlibat dalam tata kelola dan pengembangan seni rupa Indonesia juga sangat minim. Jumlah peneliti yang tekun mencatat dan mengumpulkan data-data kesenirupaan secara lengkap nyaris tidak ada.

BACA JUGA :  TKA Datang, Mahasiswa Malang

Walhasil, masih banyak area gelap dalam sejarah kekaryaan seni rupa Indonesia. Gejala ini boleh jadi merupakan bagian dari proses peralihan dari tata kelola masyarakat tradisional yang bertumpu pada distribusi pengetahuan dalam bentuk lisan menuju tata kelola budaya modern dengan pola penyebaran pengetahuan secara tertulis.

Patut dicatat bahwa dalam kebudayaan modern peranan bentukbentuk tekstual dalam proses internalisasi dan distribusi pengetahuan menempati posisi sentral maupun dalam kegiatan dan transaksi sosiokulturalnya sehingga berbagai bentuk verifikasi dan validasi terhadap pengetahuan itu pun juga menjadi lebih pasti dan akurat. Sedangkan pada budaya tradisional, karena sebagian besar kegiatan transaksi sosio-kultural berlangsung dalam bentuk lisan sehingga verifikasi dan validasi pengetahuan pun menjadi lebih lentur dan dapat berubah-ubah.

Dalam masyarakat tradisional yang bertradisi lisan belum berlangsung moda transaksi sosial, penentuan norma dan hukum maupun kodifikasi pengetahuan secara impersonal. Bahkan dalam bentuknya yang ekstrem, norma dan hukum dijalankan berdasarkan kesepakatan atau konvensikonvensi yang tak ditetapkan secara pasti. Dalam budaya semacam itu “sejarah”, norma dan hukum dengan mudah mengalami personalisasi. Semua tergantung pada kepentingan aktor-aktor utamanya.

Aktor yang memiliki otoritas besar dapat menciptakan “sejarah” menurut seleranya sendiri. “Sejarah” pun dapat dibelok-belokkan atau dimanipulasi atau direkayasa dengan mudah pula. Dan terkadang  “sejarah” ciptaan itu tak ada sangkut-pautnya dengan realitas faktualnya. Verifikasi atas “sejarah” semacam itu juga sulit dilakukan karena pemegang otoritas tak memberi peluang untuk pengujian secara terbuka dan “objektif”.

Maka “sejarah” ciptaan sang aktor itulah yang kemudian diterima sebagai “kebenaran”. Jadi, dalam masyarakat yang bertumpu pada budaya lisan segala sesuatunya menjadi kurang stabil sehingga kekaburan akan mudah menjalar ke mana-mana.

Hal itu juga terjadi pada kehidupan seni rupa di Indonesia. Berbagai upaya kodifikasi tekstual belum dianggap penting. Bahkan dalam melakukan konsumsi karya pun orang cenderung lebih mengandalkan opini-opini yang tidak didukung oleh pengetahuan dan data-data yang akurat.

Hal itu terpaksa dilakukan karena penyusunan argumentasi dan referensi berbasis catatan tertulis memang sangat sulit dilakukan. Selain itu, telah terjadi pemingitan karya-karya seni rupa di ruang-ruang privat para aktor utamanya sehingga sukar diakses oleh orang banyak. Distribusi pengetahuan atas karya-karya pun menjadi sangat terbatas, dan bahkan mengalami eksklusi. Akibatnya, data dan dokumentasi itu telah membuat proses verifikasi atau validasi keaslian karya akan memerlukan upaya yang ekstra pula. Verfifikasi dan validasi menjadi sangat mahal.

Selain itu, pelacakan atau investigasi unsur kesejarahan atau aspek provenance suatu karya dapat berlangsung lama dan tidak selalu mendatangkan hasil yang memuaskan. Orang dapat menelusuri sejarah suatu karya lukisan dengan menggali informasi dari keluarga, kerabat dan orangorang dekat sang pelukis. Atau menelusuri sejarah peredaran dan proses perdagangan karya tersebut dari tangan ke tangan, ke insitusi atau lembaga tertentu, untuk mendapatkan kepastian keaslian karya. Tapi sebagaimana lazimnya penelusuran asal-usul dan peredaran karya, hal itu tak dapat memberi kepastian final.

Kedua, belum melembaganya proses perujukan atas status keaslian karya. Perujukan itu dapat dilakukan dari dua arah sekaligus, yaitu penilaian dan verifikasi kesejarahan dan analisis aspek estetika yang dilakukan oleh pakar yang memiliki kredibilitas dalam suatu insitusi keseni rupaan yang berlangsung dalam lembaga museum misalnya, lalu diperkuat dengan rujukan saintifik melalui uji laboratorium.

Perujukan itu memadukan aspek estetika dan kesejarahan serta metode saintifik yang sangat terukur. Sayangnya di Indonesia belum tersedia perangkat semacam itu. Dan ketiga, belum adanya regulasi yang kuat untuk mencegah dan menangani praktik pemalsuan karya seni rupa dan proses penegakan hukumnya juga sangat minimal. Jika harus dilakukan pengujian, hal itu biasanya terjadi setelah muncul perselisihan atau pesengketaan dan sifatnya sangat kasuistik.

Dalam konteks Indonesia di mana kebutuhan pasar terhadap karyakarya para seniman penting yang sudah meninggal tetap tinggi dengan harga selangit, hampir semua transaksi lukisan old master tak menghiraukan verifikasi dan validasi dari keaslian karya.

Pada dekade 1940-1950-an ketika pasar seni rupa di Indonesia mulai tumbuh dalam skala terbatas, hubungan antara seniman yang kolektor cenderung berbentuk impresariat atau patron-klien. Contohnya adalah figur Bung Karno sebagai patron paling berpengaruh. Pada masa itu proses verifikasi karya berlangsung secara tradisional, dalam pengertaian antara pembutuh dan seniman dapat bertemu atau bertatap muka secara langsung. Dan setelah para seniman yang kemudian disebut sebagai old master itu meninggal, verifikasi karya dapat dilakukan dengan konfirmasi secara langsung kepada keluarga atau kerabat atau orang-orang dekat sang pelukis.

Proses verifikasi tradisional dapat dilakukan karena setiap karya masih dapat dicek berdasarkan riwayat kelahiran dan peredarannya berdasarkan data-data yang diperoleh dari para kerabat atau keluarga atau lingkaran terdekat para senimannya. Dan sebagaimana telah disebutkan, karena tak tersedia dokumen yang lengkap dan memadai mengenai karyakarya old master itu, maka konfirmasi juga dilakukan secara lisan.    Namun sejak dekade 1980 dan 1990-an, ketika tumbuh kelas menengah dan elite ekonomi baru akibat pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh Orde Baru sehingga tumbuh pula kebutuhan yang kian meningkat pada karya-karya seni rupa khususnya seni lukis berikut berbagai entitas bisnisnya berupa galeri-galeri dan balai lelang di kota-kota besar, terutama di Jakarta, lalu diikuti oleh boom seni lukis yangberlangsung berkali-kali, maka perdagangan seni rupa pun menjadi semakin cepat dengan skala yang semakin besar. Dan dalam hal karya-karya old master, verifikasi tradisional menjadi semakin sulit karena peredaran karya-karya juga telah berlangsung secara berlapis-lapis.

Proses perdagangan karya dapat berlangsung dengan cara yang bermacam-macam: melalui galeri, balai lelang, dari tangan ke tangan, person ke person. Khusus transaksi dari tangan ke tangan yang berlangsung di antara pihak-pihak yang bersepakat rata-rata tak diikuti proses otentifikasi karya karena hal itu merupakan transaksi yang bersifat privat. Tak ada implikasi dan konsekuensi apapun di luar kesepakatan.

Pada masa itu juga mulai muncul figur-figur baru yang memiliki pengaruh besar, di antaranya para kolektor penting yang kemudian dijadikan rujukan dan acuan dalam penentuan nilai karya. Artinya, ketika pasar semakin bergairah, pada saat yang sama juga terjadi penyebaran otoritas seni rupa di Indonesia. Tak ada patron besar yang menjadi satu-satunya pusat acuan seperti figur Bung Karno dulu.

Penyebaran patron semacam itu telah membuka ruang bagi setiap pemangku kepentingan untuk menegakkan otoritasnya masing-masing. Tak ada yang dapat mencegah ketika seorang figur berpengaruh memutuskan atau membuat penilaian final mengenai suatu karya. Akibatnya pasar seni seni rupa Indonesia mirip suatu bazar yang sangat bebas dan terbuka.

Ketika terjadi kasus atau “skandal” lukisan palsu, orang akan bertanya: siapa yang memiliki otoritas untuk menentukan status keaslian karya? Dapatkah dibangun semacam institusi yang memiliki otoritas semacam itu di tengah lemahnya pranata seni rupa di Indonesia? Jika memang otoritas semacam itu nantinya terwujud, apa saja peran yang dapat dimainkan, dan bagaimana pula membuat mekanisme kontrolnya?

Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh para pemangku kepentingan seni rupa di Indonesia. Langkah menuju kondisi seperti yang berlangsung di negara-negara maju masih sangat jauh. Dari segi penelitian visual, belum banyak pakar spesialis yang khusus mendalami karya-karya pelukis tertentu. Juga belum tersedia ahli labroratorium yang biasa menangani uji otentifikasi lukisan.

Kesimpulan 

Sebagaimana telah dikatakan bahwa otentifikasi suatu karya idealnya dilakukan dalam tiga aras sekaligus: uji laboratorium, analisa visual dan pelacakan provenance. Khusus penelusuran provenance, hal itu sulit dilakukan pada karya-karya pelukis yang sudah tiada. Tak ditemukan buktibukti tertulis atau dokumen-dokumen yang mendukung kesalian karya.

Beberapa pelukis old master seperti S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Soedibio dan pelukis segenerasinya adalah seniman-seniman yang sudah aktif sebelum masa revolusi kemerdekaan. Dan pada masa revolusi, mereka hidup berpindah-pindah tempat sehingga banyak lukisan yang hilang atau luput dari pengamatan orang. Pun tak ada dokumentasi yang memadai.

Maka, ketika seseorang menyatakan telah menemukan lukisan old master yang belum pernah diketahui orang, hal itu dapat menjadi bahan pengayaan sejarah seni rupa Indonesia. Tapi, hal itu harus disertai dengan upaya verifikasi keasliannya. Dan karena di Indonesia belum lazim dilakukan uji laboratorium, maka verifikasi yang lebih mungkin adalah dengan melakukan analisa visual dan penelusuran provenance-nya.

Penelusuran provenance itu sudah pernah dilakukan majalah Tempo dengan metode investigasi jurnalistik. Penelusuran semacam itu kemudian dilanjutkan oleh tim penyusun buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia. Buku tersebut dapat dikatakan sebagai jawaban terhadap buku Lima Maestro Seni Rupa Modern Indonesia yang ditulis dan diterbitkan OHD.

Jika pembuktian forensik melalui tes laboratorium masih sangat mahal (dan di Indonesia hal itu belum dapat dilakukan), maka diperlukan informasi dan kajian mendalam, termasuk penelusuran provenance dan analisa visual yang dapat dijadikan bahan “kampanye” dan pembelajaran bagi khalayak untuk waspada dan jika mungkin mencegah pemalsuan lukisan. (Bb-69)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *