Hilmar : Kesadaran Sejarah Sangat Esensial untuk Perkuat Semangat Kebangsaan

SMJkt/Ist

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Pendidikan sejarah dan semangat kebangsaan menjadi fokus utama dalam diskusi antara Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid dengan Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz tentang ‘Memperkuat Semangat Kebangsaan’. Sebab, sejarah memberikan arah perjalanan kita sebagai bangsa.

“Kesadaran sejarah sangat esensial untuk memperkuat semangat kebangsaan. Sejarah memberikan arah perjalanan kita sebagai bangsa karena mengingatkan kita ini datang dari mana, sekarang berada di mana, dan menuju ke mana,” ujar Hilmar, Rabu (26/5).

Koreksi terhadap Kamus Sejarah Indonesia yang sempat mencuat dalam pemberitaan memang penting tapi yang lebih penting lagi adalah langkah-langkah konkret untuk menanamkan kesadaran sejarah di kalangan muda. Penerbitan buku dan bahan pelajaran harus diiringi dengan berbagai kegiatan yang mendorong keterlibatan kalangan muda.

Seperti halnya, Ponpes Tebuireng di Jombang yang didirikan KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 berperan penting dalam pembentukan bangsa dan gerakan kemerdekaan. Dengan peran historis itu Ponpes Tebuireng menduduki posisi strategis dalam merawat dan memperkuat semangat kebangsaan kita.

“Dan dalam setiap periode ada tokoh dan peristiwa yang berperan penting dan menentukan jalannya sejarah, seperti KH Hasyim Asy’ari ketika membuat Resolusi Jihad di tahun 1945,” tuturnya.

Pertemuan yang dilakukan pada Selasa (25/5),  juga menyepakati pengembangan Museum Islam Indonesia Hasyim Asy’ari (MINHA). Untuk itu, Ditjen Kebudayaan bekerjasama dengan Pemkab Jombang akan membantu pengelolaan museum ke depan dengan memperkuat alur kisah dan tata pamer, melatih tenaga permuseuman dari lingkungan Ponpes Tebuireng dan masyarakat setempat, serta memperkuat kelembagaannya.

Pertemuan ditutup dengan kunjungan ke museum yang terletak di kompleks Ponpes Tebuireng. Pengasuh Ponpes Ngemplak, KH Halim Mahfudz menyampaikan harapannya agar para ustdaz dan santri juga dilibatkan dalam pengelolaan museum.

BACA JUGA :  Calon Penerima Apresiasi Pelaku Budaya Harus Lengkapi Dokumen dan Unggah Karyanya

“Perlu ada pelatihan bagi mereka agar bisa menyampaikan narasi sejarah Islam di Indonesia dengan benar. Setiap hari ada ribuan orang yang berziarah ke sini. Karena itu posisi museum sebagai media pembelajaran sangatlah strategis,” kata KH Halim Mahfudz. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *