Slamet Rahardjo Djarot; Sedikit Lagi Penipu.

Slamet Rahardjo Djarot, Christine Hakim dan Erros Djarot seusai premiere film Tjoet Nja’ Dhien di PS, Jakarta. (SM/BB).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Apa enaknya menjadi seorang aktor? Tanyakan itu kepada aktor senior Slamet Rahardjo Djarot (72). Maka dengan cepat mengatakan,”Sedikit lagi jadi penipu”, katanya si empunya nama seusai rilis ulang film Tjoet Nja’ Dhien yang telah direstorasi di Belanda.

Ujaran “sedikit lagi jadi penipu”, ini dikatakan peraih sejumlah piala Citra untuk Aktor Utama Terbaik dan Sutradara Terbaik di sejumlah gelaran FFI, dengan penuh kesadaran.

“Bayangkan. Saya itu lima kali kawin, dan tujuh kali mati…..tapi hanya di film. Dan itu, hanya bisa dilakukan seorang aktor,” katanya melanjutkan.

Sebagai seorang aktor senior, mas Slamet bahkan dapat menirukan dengan presisi mimik orang sakit, dengan 18 varian dasar sakitnya. Dari sakit gigi, sakit perut, sakit kepala, sakit tenggorokan, migran hingga sakit hati.

“Semua sakit itu, termanivestasikan lewat ekpresi air muka, dan timbulnya sakit itu, secara ilmiah ada latar belakang keilmuan yang sangat dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, ekspresinya tetap natural, tidak lebai tapi presisi, karena penjiwaannya benar, sehingga ekspresinya tetap alami, tapi penuh kesungguhan dan kedalaman,” katanya menjelaskan.

Karenanya, aktor seperti dirinya senantiasa melakukan observasi atas peran yang akan dilakoninya, dengan melakukan riset yang utuh dan menyeluruh. Sehingga outcome keaktorannya tidak mengada-ada. Karena berpijak dari ilmu pengetahuan, yang sekali lagi, ada pertanggung jawabannya.

Slamet Rahardjo Djarot dan Ayu Sekar Asmara. (BB).

Bahkan saking jagonya membedakan ekpresi sakit yang berbilang jumlahnya itu, mas Slamet, suatu ketika, pernah diundang khusus oleh Prof. H. Slamet Rahardjo, S.H Guru Besar Fakultas Hukum Undip, Semarang.

BACA JUGA :  Airlangga Hartarto Dipersepsikan Menteri dengan Kinerja Positif di Mata Media dan Publik

“Jadi, Slamet Rahardjo ngundang Slamet Rahardjo,” katanya terkekeh.

Di Undip, ceritanya, dia mempraktekkan air muka kesakitan yang banyak jumlahnya itu. Dan kemampuannya itu membuat kagum sejumlah civitas akademika Undip. Sampai akhirnya, nantinya dijadikan bahan telaah secara keilmuan.

“Jadi, demikianlah enaknya jadi aktor. Meski, sedikit lagi jadi penipu, tapi jika mampu memasuki sebuah peran dengan baik. Sebelum akhirnya menanggalkan perannya jika peran sudah usai dilakoni, dengan sendirinya akan memperkaya kazanah kemanusiaan kita,” katanya lebih lanjut.

Lalu bagaimana saat dirinya masuk ke peran Teuku Umar, dalam film arahan adiknya sendiri; Erros Djarot, lebih dari 30 tahun lalu. “Saya didirilled Erros bahasa Aceh di hutan Aceh. Padahal saya baru datang dari Amerika,” katanya.

Perannya sebagai Teuku Umar, kelak mendapatkan sanjung puji dari banyak orang Aceh. Meski sepengakuannya, dia tidak mendapatkan bayaran atas peran susahnya itu.

“Gimana mau dibayar, begitu saya dan amplop bayaran sampai rumah, telpon rumah berdering, ternyata Erros yang telpon, dia mau minjem bayaran saya sebagai aktor, untuk keperluan lain film Tjoet Nja’ Dhien. Jadi jika ada yang bilang saya dibayar profesional, itu boong,” katanya disambut kekeh Erros Djarot yang ada di sebelahnya. Idem Ditto, mbak Christine Hakim, juga terkekeh. (BB-69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *