Saatnya Arsitek Indonesia Lirik Objek Wisata Berbasis Alam

Seminar Arsitektur Resort & Leisure

Foto istimewa

JAKARTA- Wisata alam kini menjadi salah satu destinasi favorit yang sangat diminati pelancong di dalam negeri. Maka tak heran jika di berbagai daerah di Indonesia, banyak ditemukan lokasi wisata yang menawarkan keindahan alam.

Eliezer Widagdo selaku Presiden Komisaris PT Desa Wisata Indonesia mengatakan, butuh kreativitas tinggi untuk memunculkan pariwisata berbasis alam. Keunikan perlu dirancang agar warga tertarik mengunjungi tempat wisata tersebut.

Widagdo bahkan beberapa kali merancang keunikan wisata berbasis alam di sejumlah daerah, seperti Balikpapan dan Semarang. Di Semarang, salah satu yang digarap berada di Dusun Semilir, Kecamatan Bawen. Di dalamnya ada Bale Agung, Alun Eropa, Gunungan Resto, Jembatan Senggol dan Sepoi Sepoi Foodcourt. Untuk mempercantik lokasi tersebut, banyak digunakan bahan bambu untuk kemudian dijadikan anyaman andalan.

“Owner biasanya minta desain yang unik. Itu bisa saja tempat wisata alam, resort dan leisure. Untuk budget pembangunan resort, bahkan lebih murah dibanding membangun hotel bertingkat,” kata Eliezer Widagdo saat menjadi narasumber Seminar Arsitektur Resort & Leisure secara virtual yang digelar Kenari Djaja bersama Majalah Asrinesia, Kamis (20/5).

Banyak spot-spot indah diciptakan untuk para wisatawan berswafoto dan menimba pengalaman pada sebuah obyek wisata baru, seperti yang dilakukan Widagdo, arsitek dari Universitas Tarumanagara yang mengkhususkan pada kegiatan leisure.

Ia menggubah lereng perbukitan dan tempat yang tadinya biasa saja menjadi fasilitas rekreasi yang nyaman, dan atraktif.

Pada seminar tersebut, turut hadir sebagai narasumber adalah Ketua Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia Ir. Bintang Nugroho, IALI dan Ir. Nyoman Popo Priyatna Danes, arsitek dari Universitas Udayana Bali. Kaprodi Arsitektur Universitas Pancasila, Dr. Dini Rosmalia, ST. MSi.

BACA JUGA :  Desainer Muda Ditantang Ciptakan Produk yang Mampu Bersaing dengan Luar Negeri

Sekadar diketahui, keindahan alam nusantara memiliki banyak peluang dikembangkan menjadi area wisata modern dengan kekhasan daerah dan lingkungan yang tetap terjaga.

Kesibukan kegiatan di perkotaan menginspirasi para ahli perencana fasilitas lingkungan untuk menciptakan berbagai kelengkapan rekreasi dan peristirahatan yang memanfaatkan keindahan serta potensi alam di daerah yang menjadi nilai tambah bagi destinasi wisata dan menarik kaum milenial.

Bermain dengan panorama dan karakter alam merupakan keunikan yang disukai para arsitek dalam berkarya di bidang Resort & Leisure yang akan memiliki keistimewaan, daya tarik dan menyenangkan.

Merancang bangunan inap seperti villa, bungalow, pondokan atau sejenisnya memang tidak ada ketentuannya kecuali harus tertib pada persyaratan membangun di kawasan hijau.

Pengalaman membangun resort dan fasilitasnya memberi banyak ide inspiratif bagi peserta Seminar.

Foto istimewa

Arsitek Lanskap Bintang Nugroho merancang bangunan dan rekreasi di kawasan hijau dengan tetap menjaga karakter lingkungannya. Aristek dari Universitas Trisakti tersebut mengatakan, habitat tanaman yang tumbuh di pegunungan, hutan dan lembah, harus bisa dikolaborasikan dalam desain arsitektur lanskap kawasan sebagai elemen daya tarik resort.

Sementara arsitek Popo Danes sudah banyak membuat bangunan bersuasana resort sesuai dengan karakter alam Pulau Dewata yang indah. Pengalamannya dengan penghargaan arsitektur, memberi informasi bagaimana karyanya diminati termasuk wisatawan mancanegara.

Arsitektur yang dirancang dalam balutan keindahan budaya dan tradisi setempat, merupakan faktor penting dalam membangun fasilitas resort & leisure.

Peserta seminar yang terdiri dari para professional, mahasiswa jurusan arsitektur, desain interior dan lanskap arsitektur, serta pengelola kawasan dan masyarakat umum bisa berinovasi mengembangkan potensi wisata di daerahnya.

Bincang-bincang tentang Arsitektur & Leisure yang digelar Kenari Djaja bersama Majalah Asrinesia tersebut mendapat apresiasi dari peserta. Mereka jadi memahami mengenai dunia arsitektur yang dijelaskan para narasumber.

BACA JUGA :  Ganjar Pranowo: Pengendalian Covid-19 dan Penanganan Ekonomi Bisa Dilakukan Secara Seimbang

Kenari Djaja bersama Majalah Asrinesia sudah memiliki komitmen pada perkembangan arsitektur, desain interior dan lingkungan sejak tahun 1985-an.

Hal tersebut dikemukakan oleh Hendry Sjarifudin Direktur PT. Kenari Djaja Prima, saat membuka kegiatan seminar yang diikuti sekitar 500 peserta dari seluruh Indonesia. (bal/68)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *