Persediaan Minyak Goreng Cukup, Harga Stabil.

Foto Istimewa.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Indonesia berhasil melewati kebutuhan pangan jelang Ramadan dan Lebaran lalu. Salah satu kebutuhan pokok seperti minyak goreng ketersediaannya mencukupi kebutuhan dalam negeri meski dengan harga cenderung meningkat.

Sekretaris Ditjen Perkebunan Dr. Ir. Antarjo Dikin, MSc mengungkapkan harga minyak goreng naik akibat harga bahan baku Crude Palm Oil (CPO) yang mengalami kenaikan.

Di sisi lain, dengan harga CPO yang tinggi menjadikan harga CPO di pasar global juga bergerak meninggi. Antarjo mengaku sempat ada kekhawatiran dengan adanya kenaikan tersebut mengingat kebutuhan minyak goreng domestik jelang Ramadan dan Lebaran akan meningkat sehingga akan memengaruhi ketersediaan minyak goreng.

“CPO harganya cenderung naik karena adanya permintaan yang juga naik. Tentunya dengan harga luar negeri naik, lebih baik jual di luar negeri. Wajar (ekportir) cari untung dan lebih memilih menjual ke luar negeri. Ini memang kita coba monitoring dan harus waspada,” tutur Antarjo di Jakarta.

Meski ada kenaikan harga minyak goreng, kebutuhan masyarakat masih teratasi dengan adanya stok minyak goreng yang cukup. “Tidak ada gejolak harga minyak goreng baik sebelum Ramadan dan Lebaran. Ini terjadi karena banyak stok,” imbuh Antarjo.

Tren kenaikan tersebut bisa dilihat dari harga per Januari 2021 Rp14.485 per kg, harga minyak goreng pada April naik menjadi Rp14.774 per kg. Harga minyak goreng selama 2021 rata-rata berkisar Rp14.593 per kg.

Untuk perkiraan ketersediaan minyak goreng bulan Mei, Ditjen Perkebunan memperkirakan terdapat 498.000 ton dan perkiraan ketersediaan Juni terdapat 455.123,16 ton.

Sekretaris Ditjen Perkebunan Dr. Ir. Antarjo Dikin, MSc. (Foto Istimewa).

Sedangkan kebutuhan total baik minyak goreng pangan maupun industri untuk Mei mencapai 488.800 ton dan Juni kebutuhan total mencapai 446.199,17 ton. Sehingga diperkirakan kebutuhan dan ketersediaan minyak goreng Mei dan Juni terbilang aman.

BACA JUGA :  Ridwan Kamil Sampaikan Aspirasi Terkait RUU Energi Baru Terbarukan

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sebelum Ramadan sudah memastikan persiapan dan kesiapan kebutuhan pangan nasional dilakukan secara menyeluruh. Persiapan itu di antaranya dengan mengintervensi sistem distribusi, yakni dengan mendekatkan stok pangan yang ada ke seluruh pasar-pasar di tiap daerah.

Upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian adalah dengan melakukan intervensi dengan mendekatkan stok pangan ke pasar. Selanjutnya mendekatkan sentral komoditi yang dibutuhkan di seluruh daerah. Selain itu Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan melakukan operasi pasar.

Mentan Syahrul menyebut ibadah bulan suci tidak boleh diganggu atau bersoal dengan kecukupan pangan. Oleh karena itu, semua upaya akan dilakukan pemerintah agar masyarakat bisa menjalankan ibadah puasa secara nyaman dan aman.

Juga tidak boleh membuat harga pangan mahal. Namun juga tidak boleh bergantung pada impor. Oleh karena itu semua upaya harus dilakukan.

Sekretaris Ditjen Perkebunan Antarjo menambahkan hingga saat ini Indonesia berupaya terus menghasilkan olahan CPO yang lebih baik. Harapannya, dengan CPO yang baik, pasar global akan semakin tertarik dengan produk CPO Indonesia.

Salah satu hasil olahan kelapa adalah Virgin Coconut Oil (VCO) yang menjadi unggulan petani kelapa. Di tengah pandemi pun, komoditas perkebunan VCO tersebut banyak diminati pasar ekspor.

Pada 20 April 2020, VCO sebagai salah satu jenis produk olahan kelapa di Kabupaten Konawe Selatan telah diekspor untuk pasar Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).  Produk VCO tersebut berasal dari petani kelapa di kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dan dilakukan pengolahan oleh pelaku usaha perkebunan yaitu Koperasi Serba Usaha (KSU) Indo Nilkaz di Kota Kendari.

VCO dari Sulawesi Tenggara itu diekspor 2.000 liter berupa kemasan botol kecil untuk konsumsi rumah tangga di pasar UEA melalui beberapa tahapan pengiriman.

Sejauh ini produk VCO termasuk salah satu produk terbesar yang diekspor selain minyak goreng kelapa, gula kelapa, kopra, arang kelapa, dessicatted coconut dan produk kelapa lainnya.

Ditjen Perkebunan terus berupaya meningkatkan dan memperluas akses pasar produk VCO dengan melihat peluang-peluang di perundingan kerjasama perdagangan antar negara/regional/ multilateral, kegiatan business matching dan melalui informasi perwakilan perdagangan RI di luar negeri.

BACA JUGA :  Wagub Papua Wafat, Airlangga: Golkar Kehilangan Putra Terbaiknya

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman perkebunan dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Bagi Indonesia, kelapa sawit memiliki arti penting yang harus dijaga keberlangsungan usahanya karena mampu menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat dan sebagai sumber perolehan devisa negara.

Hingga 2019, luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 14.456.611 hektare dengan total produksi mencapai 47.120.247 ton. Untuk sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia terdapat di provinsi Aceh, Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Barat.

Kelapa sawit merupakan komoditas ekspor nonmigas yang pada 2019 nilai ekspor CPO dan produk turunan kelapa sawit Indonesia mencapai US$ 14.716.275.000 (Empat belas miliar tujuh ratus enam belas juta dua ratus tujuh puluh lima ribu dollar Amerika Serikat. (Bb-69).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *