Kota Cerdas Pangan

Oleh Budi Widianarko

HAMPIR dua tahun berselang penulis sempat menyayangkan belum ada satu pun kota di Indonesia yang menjadi anggota Pakta Milan tentang Kebijakan Pangan Kota atau disingkat Pakta Milan (Kompas, 30/7/2019). Ternyata hingga pengujung tahun lalu, dua kota di Indonesia telah menjadi bagian dari 211 kota di dunia yang bertekad untuk menjadi kota cerdas pangan sesuai dengan Pakta Milan.

Dua kota tersebut adalah Bandung dan Solo, yang barturut-turut menandatangani Pakta Milan pada bulan Agustus 2020 dan November 2020. Pakta Milan bermula dari keprihatinan pengelola kota Milan — yang dikomandani sang Wali Kota Giuliano Pisapia (2011-2016) — terhadap ‘’kegagalan’’ sistem pangan perkotaan. Kota Milan sudah melakukan kajian tentang sistem pangan lokalnya pada tahun 2014.

Fokus kajin itu adalah daur pangan dan segenap pemangku kepentingan yang terlibat beserta lingkup sosialekonomi- lingkungannya. Rampungnya kajian itu langsung disusul dengan konsultasi publik melibatkan 700 pemangku kepentingan yang akhirnya berhasil menelurkan rumusan kebijakan pangan yang komprehensif untuk kota Milan. Salah satu prioritas utama dalam kebijakan itu adalah adalah mengatasi limbah pangan. Penetapan limbah pangan sebagai prioritas memang tepat, baik dari segi substansi maupun waktu.

Bukan kebetulan bahwa pada tahun 2015 Milan menjadi tuan rumah Ekspo Dunia yang bertajuk ‘’Feeding the planet, energy for life’’. Atas prakarsa sang Wali Kota, ekspo Milan ini meninggalkan sebuah warisan penting berupa Pakta Milan untuk kebijakan pangan perkotaan (Milan Urban Food Policy Pact/MUFPP).

Pencanangan (15/10/2015) Pakta Milan ditandatangani oleh 100 kota dunia. Saat ini telah tercatat 211 kota di dunia – termasuk Bandung dan Solo – dengan penduduk lebih dari 350 juta telah ikut pakta pangan ini. Fakta tentang perkembangan Pakta Milan di atas tentu merangsang kita untuk bertanya. Mengapa begitu banyak kota di dunia — termasuk dua kota di Indonesia — ikut gerakan ini? Apakah Semarang perlu ikut serta?

BACA JUGA :  Membumikan Literasi Digital

Kota Cerdas Pangan

Tedapat tujuh komitmen yang ditandatangani para Wali Kota dalam Pakta Milan yang intinya menegaskan bahwa setiap kota perlu mewujudkan sistem pangan berkelanjutan yang inklusif, tangguh, aman dan beragam (food systems that are inclusive, resilient, safe and diverse).

Setidaknya terdapat tiga alasan kuat untuk menempatkan kota sebagai titik pusat dalam perkara pangan, yaitu (1) lebih dari setengah populasi dunia bermukim di perkotaan dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 68% di tahun 2050 – pada saat itu dunia membutuhkan tambahan pangan sebesar 60%, (2) Pertanian menggunakan 70% air tawar yang tersedia di bumi – padahal pada saat yang sama kualitas tanah dan sumber daya air semakin merosot, (3) sepertiga dari seluruh pangan yang dihasilkan dunia – sekitar 1,3 milyar ton per tahun terbuang atau hilang (wasted or lost) sebagai limbah setiap tahunnya – dengan nilai jejak karbon menempati peringkat ketiga setelah negara AS dan China, (4) harga hasil pertanian yang rendah dan kemiskinan melemparkan para petani keluar dari lahan, dan orang muda tidak berminat berkarya dalam bidang pertanian.

Terinspirasi oleh perbincangan utama dalam ‘’Konferensi Ketahanan Pangan dan Pembangunan Berkelanjutan’’ di Milan 2015, Rikolto – sebuah organisasi nonpemerintah (NGO) internasional di bidang pertanian dan pangan yang berpusat di Belgia – merumuskan ideal Pakta Milan tentang kota dengan sistem pangan berkelanjutan sebagai Kota Cerdas Pangan.

Dalam rumusan Rikolto, Kota Cerdas Pangan adalah kota yang memilik i sistem pangan yang dapat mewujudkan (1) penjaminan keamanan dan higienitas sepanjang seluruh rantai pasok – ‘’dari lahan ke mulut’’, (2) perbaikan pola konsumsi dengan asupan beragam jenis bahan pangan, (3) terjadinya perubahan sosial dan perilaku konsumen memanfaatkan pangan lokal, (4) perbaikan kebiasaan konsumen dalam mengelola bahan pangan, agar dapat mengurangi food loss dan food waste.

BACA JUGA :  Guru, Amaliahmu Abadi.

Di Indonesia, Rikolto telah bekerja dengan tiga kota (Bandung, Solo, dan Depok) dalam pengembangan klaster Kota Cerdas Pangan. Seperti diungkap di atas, Bandung dan Solo telah menjadi anggota Pakta Milan.

Kota Semarang

Bagaimana dengan Semarang? Kepedulian terhadap pentingnya sistem pangan berkelanjutan rupanya juga sudah kuat di kota lumpia ini. Pada tanggal 12 April 2021 yang lalu Bappeda Kota Semarang menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) bertajuk ‘’Optimalisasi Sistem Pangan Berkelanjutan untuk Semarang yang Semakin Hebat’’.

Saat hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara itu, penulis merasakan adanya kesadaran para pemangku kepentingan tentang pentingnya sistem pangan berkelanjutan sebagai pendukung sebuah kota yang ‘’hebat’’. Dalam konteks Semarang, sistem pangan berkelanjutan mungkin jadi prasyarat untuk menjadikannya kota yang ‘’semakin hebat’’. Dalam perspektif Kota Cerdas Pangan, Semarang tentu menghadapi sejumlah tantangan dalam perkara keamanan dan higiene pangan.

Begitu pula perilaku konsumsi pangan warga yang beragam dan lokal tentu menjadi ideal yang layak diwujudkan di kota Semarang. Dan hal ini sangat mungkin terjadi di kota yang memiliki keragaman lansekap dan peruntukan lahan seperti Semarang.

Di kota pantai yang dilengkapi dataran rendah dan dataran tinggi serta masih memiliki lahan pertanian, peternakan dan perikanan tentu mewujudkan konsumsi pangan yang beragam dan pangan lokal bukan sesuatu yang mustahil. Di kota ini praktis budi daya pertanian, peternakan, dan pertanian masih hadir secara substansial, terlebih dengan maraknya kegiatan pertanian kota (urban agriculture) belakangan ini.

Dalam perkara limbah pangan, Semarang juga menghadapi tantangan yang serius. Menggunakan asumsi bahwa 53% dari total sampah kota adalah sampah pangan, maka setiap hari diperkirakan Semarang membuang sekitar 2.650 meter kubik atau setara dengan 770 ton limbah pangan. Untuk itu perlu dipikirkan dengan seksama berbagai upaya pencegahan (prevention) dan pengurangan (reduction), dan penyelamatan (rescue) yang melibatkan segenap pemangku kepentingan.

BACA JUGA :  Pengeja Kesunyian.

Menimbang relevansi Kota Cerdas Pangan bagi Kota Semarang maka prakarsa sistem pangan kota berkelanjutan oleh Bappeda Kota Semarang layak untuk didukung, agar tidak berhenti di tataran wacana. Komitmen politik pemerintah kota amat diperlukan untuk mewujudkan Semarang yang Cerdas Pangan, salah satunya dengan ikut serta dalam Pakta Milan.

Keterlibatan dalam prakarsa global – seperti Pakta Milan ini akan membuka peluang bagi Semarang untuk belajar dan memperbandingkan diri (benchmarking) serta pada gilirannya memamerkan (showcasing) pengembangan sistem pangan kota yang berkelanjutan dengan kota-kota lain di seluruh dunia. Kemampuan untuk menjalani daur utuh – belajar, memperbandingkan dan memamerkan – merupakan ciri sebuah kota yang hebat. (37)

Budi Widianarko, Guru Besar Unika Soegijapranata dan anggota DP2K Semarang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *