Cegah Klaster Mudik, Polda Metro Jaya Dirikan 14 Posko Pemeriksaan Swab Antigen

Foto Tribratanews

JAKARTA- Untuk mencegah Klaster Baru, Polda Metro Jaya melakukan tes swab antigen secara acak terhadap pemudik yang balik dari kampung halamannya. Total ada 14 posko untuk pemeriksaan sekaligus tes swab bagi warga yang balik ke Jakarta.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, seiring dengan berakhirnya Operasi Ketupat, polisi melakukan pemeriksaan swab antigen secara acak di pos penyekatan hingga 24 Mei mendatang.

“Hari ini adalah berakhir dari Operasi Ketupat, tetapi melihat situasional yang ada jadi perintah dari Kapolda langsung, anggota terus berlanjut sampai tanggal 24 (Mei) di 14 titik penyekatan,” katanya dilansir portal resmi Polri, Selasa (18/5).

Sebelumnya, telah ada 12 titik pos pemeriksaan pemudik yang telah disiapkan oleh Polda Metro Jaya. Ke-12 titik itu tersebar mulai dari jalan tol hingga terminal.

Mulai hari ini ada dua titik lagi yang ditambah Polda Metro Jaya untuk melalukan pemeriksaan kepada pemudik ke Jakarta. Dua titik itu berada di pelabuhan dan terminal.
“Kemarin 12 ditambah 2 lagi ada penambahan Pelabuhan Tanjung Priok dan Terminal Kampung Rambutan. Jadi ada 14 titik penyekatan sekarang,” ungkap Yusri.

Di pos pemeriksaan itu nantinya petugas akan memeriksa surat bebas COVID-19 oleh para pemudik. Jika tidak membawa surat tersebut, petugas akan melakukan random rapid antigen kepada pemudik di lokasi.

Bagi pemudik yang dinyatakan reaktif, petugas akan membawa pemudik tersebut ke Rumah Sakit Darurat COVID Wisma Atlet untuk dilakukan tes PCR serta isolasi mandiri.

Sementara itu, bagi pemudik yang dinyatakan nonreaktif, petugas akan menempelkan stiker ke kendaraan pemudik tersebut. Stiker itu nantinya menjadi tanda jika pemudik telah lolos dari pos pemeriksaan dan dinyatakan bebas dari virus Corona.

BACA JUGA :  VP KAI Henry Indraguna: Cabut Pasal 282 RUU KUHP, Melecehkan Advokat

“Jadi pulang ke sini jangan membawa penyakit, Jakarta ini sudah paling rendah (angka penyebaran COVID) dan jangan ditambah lagi,” ujarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *