Nuansa Idul Fitri Selama Pandemi Tunjukan Hidup Mengalami Transformasi

SMJkt/Ist

SURAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Nuansa Idul Fitri yang dirasakan selama pandemi adalah sebuah realitas yang menunjukan bahwa hidup telah mengalami transformasi. Kecerdasan yang kita miliki untuk bertransformasi dan kesanggupan menjalani kehidupan di tengah pandemi, adalah buah dari asupan nutrisi keimanan dan ketaqwaan yang kita peroleh selama ramadhan.

“Universitas Ramadhan terbukti telah melahirkan pecinta ritual puasa menjadi golongan cendekiawan,” ujar Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Jamal Wiwoho dalam acara silaturahmi tahunan secara virtual, Senin (17/5).

Jamal mengatakan bahwa pandemi senyatanya adalah cara Tuhan, untuk mengajari kita berdialog dan berkontemplasi dihadapan-NYA. Bahwa kita semua ini menyadari sebagai makhluk ciptaan-Nya yang lemah.

“Dan sebagai cendekiawan, sudah sepantasnya jika sebagai fitrahnya, manusia harus bisa bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi dinamika kehidupan, termasuk pandemi Covid-19,” katanya.

Bagaimanapun juga, lanjut dia, ramadhan telah menebarkan keberkahan, mengajarkan kebaikan dan kekusyukan ibadah, serta memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa hidup menghendaki kita harus istiqomah. Sikap konsisten dalam kepatuhan dan ketaatan adalah pengejawantahan dari karakter taqwa dan kesalehan yang sesungguhnya.

“Menghadapi pandemi memang dibutuhkan kepatuhan dan ketaatan, karena kita butuh untuk saling menjaga sesama agar tidak tertular dan menularkan virus. Manifestasi kesalehan tanda kita kembali fitri adalah jika kita mematuhi anjuran pemerintah untuk menjaga jarak fisik, memakai masker ke mana pun kita pergi, dan mencuci tangan, termasuk tidak mudik atau pulang kampung,” tuturnya.

Seperti halnya tahun lalu, Idul Fitri kali ini harus di lalui secara sederhana. Acara pulang kampung dan jabat tangan tidak bisa lagi kita lakukan dengan mudah. “Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah sebatas memanfaatkan beberapa aplikasi untuk melakukan “silaturahmi dan sungkem online”,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Petinggi DPRD Kebumen Diterpa Isu Perselingkuhan.

Esensi Idul Fitri itu sejatinya bukan di kampung halaman, akan tetapi di manapun tempatnya selagi hati kita benar-benar masih terjaga dari kesucian.

“Semoga kita mampu memaknai Idul Fitri bukan hanya dari sisi ritualnya saja, melainkan juga dari nilai spiritualnya juga. Mari kita rayakan Idul Fitri dengan terus menebar kebaikan, saling berbagi bahu dan menjaga nilai-nilai kefitrian, agar kita memiliki jiwa kesalehan sosial demi kepentingan kemaslahatan umat manusia,” ungkapnya. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *