Julian Afferino : Hadapi Covid-19 Varian Ganda India, Pemerintah Harus Tinjau Ulang Prokes

JAKARTA,SuaraMerdekaJkt.Com-Ditemukannya tiga kasus Covid-19 varian ganda India di Jakarta akibat eksodusnya sejumlah warga India ke Indonesia beberapa waktu lalu menjadi alarm bagi pemerintah Indonesia agar mengkaji ulang penerapan protokol kesehatan selama ini. Pemerhati kesehatan, Julian Afferino menilai protokol kesehatan (prokes) selama ini diterapkan setengah hati dan cenderung akal-akalan.

‘’Penyebaran Covid-19 varian ganda India (B1617) dan varian Inggris (B117) akan sulit dicegah jika Indonesia tidak menutup pintu masuk warga asing dari kedua negara tersebut, bahkan jika perlu kita juga harus menutup pintu kedatangan untuk warga yang berasal dari negara tetangga,’’ ungkap Julian kepada SuaraMerdekaJkt.Com hari ini.

Menurut Julian, kedua varian tersebut, baik yang berasal dari India maupun Inggris ada kemungkinan sudah menyebar di Malaysia dan Singapura. Bahkan saat ini kedua varian tersebut mungkin saja sudah sampai ke Jakarta. Jika ini terjadi maka lonjakan kasus penyebaran infeksi Covid-19 akan mengalami rebound yang dapat menyebabkan fasilitas kesehatan (faskes) mengalami kelebihan kapasitas.

Warga Indonesia dan India memiliki kesamaan perilaku dalam hal relijiusitas. Terutama dalam pelaksanaan peribadatan yang cenderung menciptakan kerumunan. Social distancing dan physical distancing tidak akan efektif jika kita mengartikannya hanya sebagai upaya menjaga jarak. Keduanya haruslah dipahami sebagai suatu pembatasan keseluruhan aktifitas. Protokol kesehatan berupa social distancing dan physical distancing bukan berarti kita diperbolehkan mengadakan acara hajatan atau acara pernikahan dengan tetap menjaga jarak, pergi kepusat perbelanjaan dengan menggunakan masker, hal ini tidak benar dan akal-akalan.

‘’Inilah yang menjadi potensi terjadinya periodisasi lonjakan Covid-19 yang nyata kita hadapi, dan kita bisa melihat bagaimana prilaku sosial warga India telah menyebabkan terjadinya lonjakan penyebaran Covid-19 dengan angka kematian terbesar kedua setelah Amerika,’’ tutur Julian.

BACA JUGA :  Petrokimia Gresik Optimalkan Peran Pertanian Gresik Melalui "Demplot Dambaan" Phonska Oca di 21 Titik

Menurut Julian, Covid-19 varian ganda India (B1617) memiliki dua mutasi, yaitu pada E484Q dan L452R. Karena memiliki dua mutase itulah maka varian B1617 disebut sebagai varian ganda. Diduga karena adanya dua mutasi itu varian B1617 memiliki kecepatan penularan yang lebih tinggi. Meskipun demikian, factor komorbid tetap menjadi penyebab tingginya tingkat fatalitas, sementara kecepatan penularan B1617 mengakibatkan lonjakan yang tinggi dan tidak sebanding dengan daya tampung fasilitas kesehatan yang tersedia. Sehingga banyak penderita Covid-19 yang tidak dapat pelayanan memadai.

Belajar dari kasus di India itu hendaknya pemerintah mengkaji ulang pemberlakukan protokol kesehatan yang sedang berjalan. Hendaknya social distancing dan physical distancing harus difahami sebagai upaya pembatasan keseluruhan aktifitas dan bukan sekedar akal-akalan.

‘’Jika masih juga ada izin yang diterbitkan terhadap suatu aktifitas yang dapat menimbulkan kerumunan, maka upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 akan menjadi sia-sia. Covid-19 tidak mengenal izin instansi berwenang, ini pandemic dan tidak ada dispensasi untuk pandemic,’’ ungkap Julian yang menyayangkan kehadiran sejumlah pejabat tinggi, termasuk Presiden Jokowi dalam upcara pernikahan seorang artis beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut dikatakan, berdasarkan informasi sudah ada tiga penderita yang terinfeksi varian ganda B1617. Mengingat tingkat penularannya yang tinggi, bisa jadi ini sebagai gunung es penyebaran varian ganda tersebut.

‘’Tentu ini akan menjadi pekerjaan tambahan bagi kita, mengingat mobilitas warga yang cukup tinggi sehubungan dengan mudik lebaran dan pulang kampung. Bagaimanapun upaya yang dilakukan pemerintah tidak akan berhasil dengan baik jika tidak diikuti dengan kesadaran (awareness) semua pihak. Bukan hanya kesadaran masyarakat yang dituntut tetapi juga kesadaran pihak yang berwenang agar tidak bermain-main dengan surat dispensasi,’’ tegas Julian.

BACA JUGA :  Komunitas Otomotif Toyota Sienta Community Indonesia ( TOSCA ) Chapter PURWASUKA ( Purwakarta Subang Karawang ) melaksanakan kegiatan bakti sosial Peduli Banjir di wilayah karangilar Karawang

Masuknya varian ganda India B1617 dan Inggris B 117 yang memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi tentu akan bisa menimbulkan dampak lonjakan Covid-19 yang luar biasa. Jika prokes yang berlaku sekarang tidak dikaji ulang, bukan mustahil lonjakan Covid-19 akan jauh melampaui ketersediaan fasilitas kesehatan yang ada dan ini akan menjadikan Indonesia mengalami risiko fatalitas yang tidak terbayangkan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *