Made Kaek Datang Keindahan Menjelang.

Made Kaek. (Istimewa).

Made Kaek Pameran Tunggal di Jimbaran Hub, Sajikan 48 Karya Periode 2019-2021.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
PANDEMI Covid-19 tak menyurutkan geliat seniman berkarya. Para perupa pun selalu intens memamerkan karyanya.

Sejak virus ini mewabah setahun lalu, pameran senirupa tetap digelar setiap saat. Kali ini, perupa Made Kaek menggelar pameran tunggal di Jimbaran Hub, Jl. Karang Mas, Jimbaran, Bali, bertajuk “Amorf Made Kaek”.

Dalam pameran ini Made Kaek menampilkan 48 karya rupa terpilihnya dari periode cipta 2019 hingga 2021.

Pameran ini berlangsung 8-29 Mei 2021, serangkaian Jimbaran Art Festival.

Melalui series lukisannya tersebut, pendiri Rumah Paros Gallery ini menyuguhkan sisi lain dunia batin atau pra sadarnya. Karya-karyanya juga cerminan diri Kaek yang soliter dan mempribadi, menggenapi sisi pribadi sehari-harinya yang dikenal solider; supel bergaul, ringan berbagi, dan hangat bersahabat.

“Ini merupakan pameran tunggal kelima saya. Yang terakhir tahun 2017, merayakan setengah abad usia saya. Melalui pameran kali ini saya menghadirkan karya-karya yang mencerminkan pencarian dan penemuan stilistik juga estetik dari periode demi periode lukisan saya, ” ungkap Made Kaek, Kamis (6/5/2021).

Putu Agung Prianta, salah satu founder Jimbaran Hub mengungkapkan, acara Jimbaran Hub Art Festival JHUB Artfest ini adalah untuk memberi semangat dan ruang baru dalam era baru ini, memberi semangat kepada para seniman Bali, nasional dan internasional yang sedang berada di Bali.

“Semoga kegiatan ini dapat memberikan energi positif bagi seniman untuk berkarya, baik seni musik maupun seni rupa, sekaligus memberi energi kepada masyarakat Bali dan internasional yang ada di Bali untuk tetap bersemangat, stay positive, dan terus berkarya, “ tutur Putu Agung Prianta.

BACA JUGA :  AirNav Indonesia Salurkan Bantuan Kepada Pewarta Yang Terdampak Pandemi

Jimbaran Hub adalah pusat kegiatan untuk komunitas kreatif, inovatif dan aktif di Bali yang berada di kawasan Jimbaran Hijau.

Made Kaek juga mengapresiasi inisiatif dari Jimbaran Hub untuk menyelenggarakan pameran di tengah masa pandemi.

“Ini adalah sebuah upaya yang baik untuk tetap menjaga semangat kreativitas dan elan penciptaan, terutama untuk para seniman ya,” ujar Kaek.

Pameran “Amorf Made Kaek” ini dikurasi oleh penyair dan kurator Warih Wisatsana.

Menurut Warih, yang telah mengurasi berbagai pameran, termasuk pameran Mural Serangkaian World Culture Forum di Bali (2016) dan Pameran Bali Megarupa (2019-2020), bukan perkara mudah untuk meraih karya yang unik otentik dengan capaian stilistik dan estetik seperti dilakukan Made Kaek.

Kaek, yang dilahirkan di Denpasar, 23 Januari 1967 ini, mulanya berangkat dari langgam abstraksi. Proses kreatifnya ini semata sebuah upaya sublimasi dari realita atau kejadian yang ditelaahnya secara pandangan langsung.

Berbeda dengan periode-periode sebelumnya, yang lebih mengedepankan deformasi bentuk, keleluasaan eksplorasi warna, berikut kemudian mengejar dan menggali monokrom hitam putih, pada karya-karyanya kali ini Made Kaek terlihat begitu lepas bebas merefleksikan wujud rupa yang terbilang ‘amorf ’.

Merujuk Amorf sebagai istilah, melahirkan pengertian adanya unsur-unsur ‘wujud’ yang bentuk sesungguhnya tidak pernah permanen; adalah zat yang hakikatnya tidak memiliki struktur baku atau amorphous (a:tidak, morf:bentuk).

“Sekilas, amorf Kaek mengingatkan pada Basquiat. Namun sebenarnya berbeda karena titik mula ekspresi atau tendensi penciptaannya yang berlainan. Bila pada Basquait adalah menyiratkan sekaligus menyuratkan protes sosial dari kaum hitam jalanan yang terpinggirkan; pada Kaek lebih sebagai lantunan solilokui dirinya, “ demikian diungkapkan Warih Wisatsana.

Kosa rupa amorf ini bisa juga ditelusuri pada karya-karya Art Brut, dicetuskan Jean Dubuffet. Ia mengumpulkan karya Art Brut, termasuk buah cipta pasien rumah sakit jiwa Adolf Wolfli (1864-1930), dan melangkah lebih jauh melahirkan Museum Collection d’Art Brut di Laussane, Switzerland, menampung karya Art Brut dunia, termasuk Ni Tanjung (Bali).

BACA JUGA :  Buku Bacaan Gratis untuk 10 Ribu Anak Panti Asuhan Indonesia.

Art Brut mengedepankan karya seniman dengan gangguan skizofrenia. Mencerminkan pribadi obsesif, sosok-sosok yang ada dalam kanvas merupakan luapan naluri purba di bawah rundungan delirium.

Sedangkan seri amorf lukisan Kaek justru adalah menggambarkan capaian proses ‘ekstase’, di mana tarikan garis, warna, dan goresan aneka rupa tetap dalam paduan kecakapan teknis yang pada ghalibnya sudah menjadi sesuatu yang organis dengan dirinya.

Ekstase dalam proses cipta berkesenian ini pada tataran tertentu seakan mirip seseorang yang tengah dirasuki delirium. Namun bila para Art Brut adalah gambaran ketidaksadaran laten, sebaliknya pengalaman serupa Kaek bahkan melahirkan kesadaran atau meraih kejernihan diri, gambaran pribadi yang ringan batin.

Seri rupa terkini Made Kaek, lanjut Warih, boleh dikata tidak lagi terbebani pesan atau pernyataan-pernyataan tentang kenyataan. Yang mengemuka adalah sosok-sosok atau wujud yang tidak sepenuhnya dapat diidentifikasi sebagai rupa flora, fauna, atau manusia, bukan juga mahluk-mahluk mitologis yang berpretensi mistis-magis.

“Seri amorf Kaek ini menandai tahapan penciptaan penuh kemungkinan dari seniman yang berumah di kawasan seni Sukawati ini. Capaian stilistik dan estetiknya menunjukkan kematangan tersendiri dirinya, baik sebagai perupa maupun pribadi, yang boleh dikata sudah tak muda lagi, “ pungkas Warih Wisatsana. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *