Tempat Pariwisata Wajib Penuhi Protokol CHSE.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno. (SM/BB).

Extended Weekly Press Briefing”.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Masyarakat harus selektif terkait obyek wisata yang akan dikunjungi di masa liburan Lebaran, di masa pandemi. Idealnya, tempat wisata yang akan dikunjungi wisatawan, baik di ibukota maupun di daerah, harus selaras dengan standar CHSE.

CHSE adalah singkatan dari Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan). CHSE mulai diterapkan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia sejak September 2020, dan makin digalakkan hingga kini.

Bahkan diperkuat berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Protokol Kesehatan di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

“Karenanya, sertifikat CHSE yang telah menjadi standar pariwisata, diharapkan memberikan rasa aman bagi pemilik tempat wisata dan wisatawan, secara bersamaan,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, dalam  “Extended Weekly Press Briefing” secara virtual di Jakarta, Senin (3/5/2021) petang.

Sandi Uno menambahkan, dengan merangkul semua pemangku kepentingan, atau pentahelix, protokol CHSE akan menemui tujuan utamanya. Yaitu menghidupkan kembali pariwisata di tengah pandemi.

“Tanpa dukungan pentahelix dan masyarakat luas, akan sulit mensukseskan pariwisata di masa pandemi. Sekaligus memulihkan ekonomi kita,” imbuh Sandi Uno.

Dia menegaskan, pentingnya protokol kesehatan CHSE menjadi tanggung jawab bersama, dan tidak dapat ditawar lagi. Karenanya pihanya tidak segan segan merekomendasikan penutupan tempat pariwisata, jika tidak mengindahkan standar CHSE.

“Jika ada tempat pariwisata melanggar protokol CHSE, akan direview ulang oleh pemerintah pusat, bahkan jika perlukan akan diberikan sangsi. Meski demikian, keputusan dibuka atau tidaknya tempat wisata di daerah bergantung pemerintah daerah yang bersangkutan juga,” kata Sandi Uno.

BACA JUGA :  PPMTI dan STI Berbagi Bersama Anak-Anak Yatim
Extended Weekly Press Briefing. (SM/BB).

Berkenaan dengan keberadaan kota tua di Jakarta, yang ditolak sebagi cagar budaya oleh UNESCO, pemerintah akan memoles ulang, sehingga menjadi heritage tourism. Sehingga menjadi destinasi favorit, dengan melakukan penataan kembali.

“Atau revitalisasi sehingga mampu memadupadankan kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Rizki Handayani Mustafa, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events).

Mudik Dilarang.

Berkenaan dengan keputusan pemerintah yang mengatakan bahwasanya mudik Lebaran dilarang. Demi menekan persebaran virus Covid-19, sehingga sempat ditengarai oleh PHRI membuat tingkat hunian hotel menjadi menurun drastis. Karena banyak terjadi cancel kamar hotel, menurut Kemenparekraf, merupakan dampak yang tidak dapat dihindari.

“Kesehatan nomor satu, dan itu tidak bisa ditawar. Kemenparekraf tetap mendorong industri perhotelan menciptakan paket staycation. Artinya, walau tidak mudik, tetap dibawa asyik,” kata Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I Kemparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu.

Ditambahkan Angela Tanoesoedibjo, selaku Wakil Menteri Parekraf, meski Mudik di masa lebaran ditiadakan, masyarakat tetap dapat menikmati kekayaan kuliner di tempatnya masing-masing. Karenanya, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan “Michelin Guide”.

“Ya, kita sudah ketemu dengan Michelin, menjajaki wisata gastronomi, karena salah satu tujuan berwisata, adalah makan. Indonesia adalah surga makanan. Dan Michellin mempunyi komunitas yang besar dalam persoalan makanan di dunia,” pungkasnya. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *