Menguji “Kesaktian” Aziz Syamsuddin

 

Oleh: Karyudi Sutajah Putra

KANTORNYA sudah digeledah. Rumahnya pun sama. Dicegah keluar negeri pula. Akankah berujung pada penetapan tersangka?

Nanti dulu. Janganlah opini digiring ke sana. Dia bukan orang biasa. Dia sudah terbukti “sakti mandraguna”.

Sesuai namanya, Aziz yang berarti perkasa, Aziz Syamsuddin memang bukan orang biasa. Selain Wakil Ketua DPR, Aziz Syamsuddin juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar. Jangankan kini, tahun 2013 lalu saja, ketika namanya disebut-sebut dalam kasus korupsi Simulator SIM tahun 2011-2012 yang melibatkan Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Djoko Susilo, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun tidak berani menyentuhnya. Padahal saat itu ia “hanya” Wakil Ketua Komisi III DPR, bukan Wakil Ketua DPR seperti saat ini.

Jangankan Polri atau Kejaksaan Agung, KPK yang “power full” dan independen saja “tidak berani” menyentuhnya. Aziz adalah “untouchable man”.

Mengapa penggeledahan rumah atau kantor harus berujung penetapan tersangka? Tak sedikit saksi kasus korupsi yang digeledah rumah atau kantornya, tetapi tak berujung menjadi tersangka. Jadi, jangan terlalu berharap Aziz menjadi tersangka. Menjadi saksi saja sudah bagus.

Mengapa pencegahan keluar negeri harus berujung tersangka? Tak sedikit saksi kasus korupsi yang dicegah keluar negeri tetapi tidak berujung menjadi tersangka. Jadi, lagi-lagi, jangan berharap Aziz menjadi tersangka. Dicegah keluar negeri saja sudah lumayan.

Memang, sudah ratusan anggota DPR yang digulung KPK karena korupsi. Tapi Aziz Syamsuddin bukan sembarang politisi. Ia sangat kuat, bahkan terlalu kuat untuk KPK sekalipun.

Kalau tidak kuat, bagaimana bisa ia menembus dinding KPK yang kedap suara sehingga tahu lembaga antirasuah itu sedang menyelidiki kasus dugaan korupsi di Tanjungbalai?

Kalau tidak kuat, bagaimana bisa ia memanggil Robin yang merupakan penyidik KPK? Sebenarnya ia tak boleh menelepon penyidik KPK, karena bisa mengintervensi. Kalau menelepon komisioner KPK justru bisa, karena DPR mitra kerja KPK. Tentu hanya untuk hal-hal normatif, tidak menyangkut teknis. Jadi, secara struktural, Aziz memang kuat posisinya.

BACA JUGA :  Serudukan Banteng Membangunkan Macan Tidur

Mungkin karena merasa kuat itulah, Aziz pun percaya diri. Segencar apa pun isu yang menerpanya, ia tetap tenang saja. Ia tak pernah emosional apalagi meledak-ledak. Tutur katanya halus, santun dan terukur laiknya sang senior, Akbar Tandjung.

Simak saja apa komentarnya saat namanya disebut dalam persidangan kasus Simulator SIM. Kita tunggu saja perkembangannya, kata dia, hukum itu soal data dan fakta.

Ketika diminta komentar soal kasus dugaan suap Robin yang menyeret namanya, Aziz pun hanya menjawab singkat, “Bismillah, Al Fatihah,” seperti yang beredar luas di media.

Datanya? Hanya KPK yang tahu. Faktanya? Aziz tak pernah menjadi tersangka. Aziz memang “sakti mandraguna”.

Equality Before The Law

Tapi baiklah. Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan kawal juga. Apalagi jika KPK konsisten dengan asas “equality before the law”. Tidak hanya konsisten dengan asas “presumption of innocent” yang kini juga dipegang teguh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), yang memang tidak bisa diharapkan. Di sinilah “kesaktian” Aziz Syamsuddin akan kembali diuji.

Di mata hukum, tak ada orang kuat atau lemah. Yang ada orang benar atau salah. Selemah apa pun, kalau mamang benar, hukum tak akan menyentuhnya.

Sekuat apa pun, kalau memang salah, orang tak bisa berkutik. Setya Novanto adalah presedennya. Ketua DPR sekaligus Ketua Umum Partai Golkar itu tak berdaya ketika ditetapkan KPK sebagai tersangka korupsi proyek e-KTP di Kementerian Dalam Negeri tahun 2016 lalu.

Secara ekonomi dan politik, saat itu posisi Novanto lebih kuat daripada Aziz saat ini. Tapi ia toh tak berdaya ketika dinyatakan bersalah. Itu terjadi karena KPK konsisten dengan prinsip “equality before the law”.

BACA JUGA :  Masterplan, Sudahkah Jadi Pedoman?

Kini, pimpinan KPK sudah berganti. Akankah KPK masih konsisten dengan prinsip “equality before the law” atau justru tebang pilih? Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, penggeledahan ruang kerja dan rumah dinas serta pencegahan Aziz keluar negeri merupakan sinyal bagus dari KPK.

Diberitakan, KPK tengah mendalami peran Azis Syamsuddin dalam kasus dugaan suap Wali Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, M Syahrial kepada penyidik KPK AKP Stepanus Robin Pattuju. Musababnya, perkenalan Syahrial dengan Robin dilakukan di rumah jabatan Azis di Kuningan, Jakarta Selatan, Oktober 2020. Syahrial diduga menyuap Robin Rp 1,3 miliar agar perkara dugaan korupsi yang membelit dirinya dihentikan penyelidikannya oleh KPK. Aziz disebut memerintahkan ajudannya menelepon Robin agar datang ke rumahnya.

Apakah Aziz bertindak sebagai “markus” (makelar kasus)? Apakah ada aliran dana dari Syahrial ke Aziz? Kita tidak tahu pasti. Dalam soal hukum, biarlah data dan fakta yang bicara, seperti pernah diungkapkan Aziz.

Selain kasus Simulator SIM, nama Aziz juga pernah disebut dalam sejumlah kasus. Sebut saja kasus Red Notice yang melibatkan mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte.

Lalu, kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lampung Tengah. Aziz Syamsuddin dilaporkan Perhimpunan Advokat Pro-Demokrasi, Agus Rihat ke MKD DPR atas dugaan suap dalam pengesahan DAK Lampung Tengah tahun 2017, saat Aziz menjabat Ketua Badan Anggaran DPR. Perkara ini menyeret mantan Bupati Lampung Tengah Mustafa.

Namun, semua itu dibantah Aziz, dan terbukti ia tak terlibat. Faktanya, hingga kini ia masih aman-aman saja. MKD pun tak pernah memeriksanya.

Akankah kasus suap Syahrial ke Robin mengakhiri “kesaktian” Aziz? Mengapa Robin bertindak laiknya Robin Hood, padahal untuk hal yang salah? Adakah penyidik lain atau bahkan komisioner KPK diduga terlibat? Benarkah selentingan Syahrial juga berkomunikasi dengan salah satu komisioner KPK?

BACA JUGA :  BI Diduga masih akan pertahankan bunga: Oleh Ryan Kiryanto,Pengamat Ekonomi

Itulah “PR” buat KPK. Selebihnya, biarlah waktu yang bicara.

Karyudi Sutajah Putra, pegiat media, tinggal di Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *