Maybank Indonesia Catat Laba Sebelum Pajak (PBT) Rp501 Miliar di Kuartal I 2021, Dorong Pertumbuhan Perbankan Digital

Ikhtisar Laporan Keuangan Konsolidasian per 31 Maret 2021
(Angka yang dipaparkan dibawah ini adalah kinerja Bank pada kuartal I yang berakhir 31 Maret 2021, dibandingkan tiga bulan pertama 2020 (Y-o-Y), kecuali dinyatakan berbeda)

Ikhtisar pertumbuhan Kuartal I 2021 dibandingkan Kuartal I 2020

Laba sebelum pajak tercatat Rp501 miliar, turun sebesar 31,8% dari Rp735 miliar pada tahun lalu
Fee-based income turun 24% menjadi Rp453 miliar, dikarenakan penurunan pada fee Global Market
Pertumbuhan pendapatan Bancassurance yang kuat (89,7%), dan pendapatan Wealth Management (33,8%)
Pengelolaan biaya yang efektif sehingga biaya overhead turun 11,4%
Likuiditas yang kuat dengan Giro dan tabungan (CASA) bertumbuh 9,6% dan rasio CASA meningkat menjadi 41,0% dari 37,4%
Posisi modal yang kuat dengan Rasio Kecukupan Modal (CAR) sebesar 25,3%
Pertumbuhan pada Unit Usaha Syariah:
Laba sebelum pajak Unit Usaha Syariah meningkat signifikan sebesar 58,2% menjadi Rp173 miliar
Total aset Unit Usaha Syariah tumbuh 12,9% menjadi Rp35,9 triliun
Simpanan nasabah Unit Usaha Syariah tumbuh 13,2% menjadi Rp29,5 triliun
Pertumbuhan signifikan pada perbankan digital:
Total simpanan nasabah yang terhimpun melalui Maybank2u (M2U) naik 150% dibanding tahun sebelumnya.
Jumlah transaksi melalui M2U naik sebesar 55%

Jakarta, Suara Merdeka.Com. – PT Bank Maybank Indonesia, Tbk. (Maybank Indonesia atau Bank) hari ini mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasian kuartal I yang berakhir 31 Maret 2021 dengan Laba sebelum pajak (PBT) tercatat sebesar Rp501 miliar, turun 31,8% dibanding tahun sebelumnya. Sementara, laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) turun dari Rp538 miliar di Kuartal I 2020 menjadi Rp381 miliar di Kuartal I 2021. Hal ini disebabkan oleh dampak pandemi Covid-19 yang berkelanjutan sejak Kuartal I 2020.

Meski demikian, dilihat kuartal per kuartal, Bank berhasil membukukan peningkatan PATAMI sebesar 127,6% didukung upaya Bank, yang secara selektif, memanfaatkan peluang pasar yang tengah bertumbuh melalui layanan perbankan digital. Credit cost (biaya kredit) juga menurun dibanding kuartal sebelumnya, seiring kebijakan Bank yang tetap disiplin dalam menjaga kualitas asetnya.

Net Interest Income (NII), atau Pendapatan Bunga Bersih juga menurun sebesar 13,7% menjadi Rp1,7 triliun oleh karena menurunnya loan balance (saldo kredit) sementara Bank juga melihat adanya perbaikan kredit. Meskipun demikian, Bank tetap mengambil langkah untuk mempertahankan strategi pertumbuhan kredit secara selektif akibat dari pandemi.

Net Interest Margin (NIM), atau Margin Bunga Bersih juga turun sebesar 61 basis poin menjadi 4,35% di kuartal I 2021, dibandingkan 4,96% pada Maret 2020 sebagai akibat dari penurunan imbal hasil kredit. Penurunan imbal hasil kredit ini seiring dengan turunnya suku bunga Bank Indonesia dan sebagai akibat dari program restrukturisasi kredit kepada nasabah yang bisnisnya terdampak pandemi. Selain itu, Bank berhasil menurunkan biaya bunga (cost of funds) sebesar 126 basis poin dengan berfokus pada pertumbuhan likuiditas CASA untuk menjaga tekanan pada marjin.

BACA JUGA :  PJF 2021, Ikhtiar Menjaga Ekosistem Musik Indonesia

Fee-based income turun 24% menjadi Rp453 Miliar akibat menurunnya fee income terkait Global Market. Turunnya pendapatan fee-based tertahan oleh naiknya pendapatan fees terkait Bancassurance dan Wealth Management sebesar 89,7% menjadi Rp65 miliar dan 33,8% menjadi Rp40 miliar.

Tetap bersikap hati-hati

Pada kuartal I tahun 2021, Bank menempuh langkah yang lebih konservatif, dan hati-hati dalam melakukan ekspansi kredit di tengah dampak disrupsi pasar akibat wabah Covid-19. Hal ini menyebabkan penyaluran kredit Maybank Indonesia turun 17,2% menjadi Rp101,7 triliun per 31 Maret 2021 dibanding Rp122,9 triliun per 31 Maret 2020. 

Meski demikian, Maybank Indonesia akan terus menempuh langkah proaktif untuk membantu nasabah menghadapi tantangan dan fokus pada restrukturisasi kredit untuk memastikan dan memperhatikan keberlangsungan bisnis nasabah serta menjaga kualitas aset Bank.

Biaya overhead terkendali

Pada kuartal I, Maybank Indonesia melakukan berbagai langkah untuk mengelola biaya Overhead (OHC), sehingga dapat diturunkan 11,4% menjadi Rp1,4 triliun. Hal ini didukung oleh berbagai upaya perbaikan terkait manajemen biaya Bank dan berbagai kebijakan manajemen untuk menekan biaya pada seluruh lini bisnis Bank, sehubungan dengan diberlakukannya work from home selama pandemi.

Peningkatan kenyamanan layanan perbankan digital
 
Bank senantiasa berupaya untuk mengedepankan perbankan digital dengan menyediakan fasilitas terbaik bagi nasabah dalam mengelola dan merencanakan keuangannya, beragam pengembangan fitur baru pada aplikasi Maybank2U (M2U) telah dilakukan selama kuartal I 2021.

M2U adalah aplikasi all-in-one yang menyediakan kemudahan bagi nasabah dan mendukung gaya hidup masa kini yang bebas repot dan nyaman. Nasabah dapat membuka rekening dengan cepat melalui ‘Know Your Customer’ (KYC) secara digital, melakukan pembayaran melalui QR Pay, pembayaran berbagai tagihan, hingga saluran donasi online.

Kini aplikasi M2U juga sudah dilengkapi dengan fitur yang dapat membantu nasabah merencanakan keuangan pribadi dan investasi secara mandiri, termasuk pembelian produk reksadana Konvensional dan Syariah, SBN retail dan produk perlindungan asuransi kesehatan. Dari sisi keamanan, kini M2U telah dilengkapi fitur pengaman tambahan Secure2u untuk transaksi perbankan yang lebih mudah, cepat dan aman.

Ke depannya, M2U akan diperkaya lagi dengan beragam fitur-fitur baru untuk lebih mempermudah nasabah dalam pengelolaan pengeluaran, perencanaan keuangan, memantau pengeluaran autodebet bulanan, hingga pembelian beragam produk lifestyle dan banyak lagi fitur-fitur baru lainnya.

Transformasi Perbankan Digital kian menunjukan hasil yang menggembirakan, seperti tercermin pada peningkatan akuisisi nasabah dan volume transaksi. Transaksi finansial yang dilakukan melalui aplikasi M2U meningkat lebih dari 55% menjadi lebih dari 3 juta transaksi pada kuartal pertama 2021. Lebih dari 32.000 rekening tabungan/simpanan baru dibuka secara online melalui M2U selama periode tersebut. Total Dana Pihak Ketiga yang terhimpun mencapai lebih dari Rp4 triliun dan hal ini menopang Bank dari sisi pendanaan secara signifikan.

Unit Usaha Syariah

Strategi ‘Sharia First’ dan implementasi Leverage Model pada Unit Usaha Syariah berkontribusi pada peningkatan kinerja Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia secara signifikan.

BACA JUGA :  Jurus Ampuh Digitalisasi Maybank

Unit Usaha Syariah Maybank Indonesia mencatat laba sebelum pajak yang kuat, naik 58,2% menjadi Rp173 miliar. Pembiayaan Unit Usaha Syariah bertumbuh sebesar 3,5% menjadi Rp25,3 triliun dari Rp24,4 triliun. 

Total Dana Pihak Ketiga Unit Usaha Syariah tumbuh 13,2% menjadi Rp29,5 triliun dari Rp26,1 triliun, ditopang pertumbuhan dana murah (CASA) Syariah sebesar 42,6%. 

Sementara, Financing to Deposit Ratio (FDR), atau rasio pembiayaan terhadap pendanaan Unit Usaha Syariah membaik menjadi 85,5% per 31 Maret 2021 dari 93,8% tahun lalu.  Total aset Unit Usaha Syariah naik 12,9% menjadi Rp35,9 triliun, menyumbang sebesar 20,7% dari total aset konsolidasian Bank per 31 Maret 2021, dibanding 17,5% di periode yang sama tahun lalu.

Rasio keuangan terjaga

Meskipun di tengah kondisi yang menantang, rasio keuangan Bank relatif stabil. Hal ini tercermin dari tingkat Non-Performing Loan (NPL) Bank yang berada pada 4,2% (gross) dan 2,4% (net) per Maret 2021, dibandingkan dengan tingkat NPL kuartal IV 2020 yang berada pada 4,0% (gross) dan 2,5% (net). Rasio Kredit terhadap Simpanan/Loan to Deposit (LDR Bank saja) juga tercatat sehat pada level 76,0%, sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR Bank saja), atau Rasio Kecukupan Likuiditas, tercatat sebesar 202,0% per kuartal I 2021, jauh di atas ketentuan minimum sebesar 100%.

Dana Pihak Ketiga Maybank Indonesia relatif stabil, yakni tercatat sebesar Rp117,1 triliun pada Maret 2021. CASA bertumbuh 9,6% menjadi Rp48,0 triliun, dimotori kenaikan rekening giro sebesar 23,3%. Rasio CASA pun membaik menjadi 41,0% dari 37,4% tahun sebelumnya.

Posisi permodalan Bank tumbuh lebih kuat dengan Rasio Kecukupan Modal/Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 25,3% per Maret 2021, dibandingkan 20,6% periode yang sama tahun lalu. Total modal tercatat naik menjadi Rp26,9 triliun dari Rp 26,2 triliun.

Dukungan Bank terhadap masyarakat dan nasabah

Sejak dampak pandemi Covid-19 mulai dirasakan pada kuartal II 2020, Bank senantiasa memantau asetnya di seluruh segmen bisnis dan juga proaktif membantu debitur dalam menganalisa dampak pandemi terhadap bisnis mereka dan menilai apakah diperlukan restrukturisasi dan penjadwalan ulang (R&R) untuk menjaga kelangsungan bisnis debitur.

Untuk meningkatkan akses nasabah terhadap jasa layanan Unit Usaha Syariah, Bank membuka tiga kantor cabang Syariah di Jambi, Malang, dan Aceh di kuartal I 2021. Kini Maybank Indonesia memiliki 18 kantor cabang Syariah di Indonesia.

Bank juga aktif melaksanakan program pelatihan pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas dan komunitas marjinal melalui program RISE (Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship) 2.0 guna membantu mereka yang terdampak pandemi agar tetap dapat menjalankan usaha. Sebanyak 47 program pelatihan telah dilaksanakan di 20 kota, dengan jumlah peserta mencapai 2.123 orang.
Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan: “Pencapaian kinerja kami (per kuartal I 2021) mencerminkan kondisi ekonomi yang masih menantang di awal tahun ini. Kami akan terus memonitor resiko terhadap portofolio kami, dan di saat sama, terus mengejar peluang-peluang yang ada, khususnya terkait layanan perbankan digital kami.”
“Namun demikian, kami senantiasa bersikap hati-hati dan sigap dalam mengantisipasi dan memitigasi dampak lanjutan dari pandemi beberapa waktu ke depan, selain juga terus memberikan dukungan kepada nasabah untuk memastikan keberlangsungan bisnis mereka,” kata Taswin.

BACA JUGA :  BTN Jajaki Kerjasama Dengan Perusahaan Jepang

Taswin juga optimis bahwa ekonomi akan kembali pulih tahun ini, didukung oleh program stimulus pemerintah dan vaksinasi Covid-19.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Datuk Abdul Farid Alias mengatakan, “Terlepas dari gejolak pasar yang tengah terjadi, kami yakin kekuatan dalam mengelola aset dan liabilitas, didukung oleh permodalan yang kuat dan level likuiditas yang solid, dapat membantu kami menghadapi tantangan pada kuartal mendatang. Kami berhasil meningkatkan pertumbuhan pembiayaan Syariah, yang didukung oleh implementasi strategi ‘Sharia First’. Pengalaman kami mengajarkan untuk terus fokus dalam mengubah tantangan menjadi peluang. Di saat yang sama, kami berupaya untuk memperkuat posisi brand dengan meningkatkan layanan perbankan digital dan tetap fokus pada pelayanan nasabah dimana hal ini dapat memperkuat pijakan kami ketika ekonomi membaik.”

Anak Perusahaan

PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance)

Laba sebelum pajak (PBT) PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance) turun 12,8% menjadi Rp106 miliar pada periode kuartal I 2021, seiring penurunan pembiayaan roda empat sebesar 19,9%, dikarenakan daya beli masyarakat melemah.

Kualitas aset tetap sehat, meskipun NPL meningkat tipis menjadi 0,41% (gross) dan 0,20% (net) per Maret 2021, dibandingkan dengan 0,26% (gross) dan 0,15% (net) pada periode yang sama tahun lalu.

Meskipun kinerja di kuartal I masih lemah, Maybank Finance tetap optimis pertumbuhan pembiayaan kendaraan roda empat dapat bangkit tahun ini, didorong oleh pemberian insentif PPnBM (Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah) untuk penjualan kendaraan roda empat yang baru-baru ini diumumkan oleh pemerintah. Insentif yang sudah berlaku sejak 1 Maret 2021 ini, diperkirakan berdampak positif pada penjualan mobil di Indonesia.

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM)

Meskipun pandemi menyebabkan penurunan daya beli masyarakat secara umum serta mempengaruhi industri pembiayaan sepeda motor, WOM berhasil membukukan laba sebelum pajak (PBT) sebesar Rp31 miliar pada Maret 2021. Angka ini menurun dibandingkan Rp57 miliar pada Maret 2020.

Total pembiayaan konsumen (WOM saja) turun 40,8% menjadi Rp4,3 triliun dari Rp7,2 triliun.  Tingkat NPL WOM juga meningkat menjadi 2,48% (gross) dan 1,16% (net) pada Maret 2021, dibandingkan dengan 2,12% (gross) dan 0,68% (net) pada Maret 2020.(budi nugraha/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *