Film Tjoet Nja’ Dhien is Back.

Christine Hakim seusai preview terbatas film Tjoet Nja’ Dhien di Jakarta. (SM/BB).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Film Tjoet Nja’ Dhien akan kembali diputar ulang di sejumlah bioskop di Tanah Air, mulai tanggal 20 Mei 2021. Atau bertepatan dengan Hari kebangkitan Nasional.

Kepastian penayangan ulang film yang skenario dan penyutradaraanya digarap Eros Djarot, itu dikatakan oleh Christine Hakim (65). Yang juga berlakon sebagai sosok Tjoet Nja’ Dhien, di film yang pernah diedarkan di tahun 1988, itu.

“Setelah direstorasi di Belanda, film Tjoet Nja’ Dhien akan kami putar di sejumlah bioskop di Tanah Air, mulai tanggal 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional,” kata Christine Hakim seusai preview terbatas film yang sempat mendapatkan delapan (8) piala Citra di FFI 1988, di Setia Budi XXI Jakarta, Kamis (29/4/2021).

Christine manambahkan, setelah direstorasi atau dipugar di Belanda, film berdurasi 106 menit ini — setelah dipotong dari versi aslinya berdurasi 130 menit — detil gambarnya menjadi jauh lebih bagus. Selain menjadi lebih tajam gambarnya, detil warna juga makin benderang, dan jernih.

Di atas itu semua, pesan dalam film ini, masih sangat terkoneksi dengan kehidupan masa kini.

Terutama kepada generasi muda dan generasi milenial saat ini. Agar dapat menyaksikan semangat kepahlawan, dengan berbagai dinamika yang mengikutinya. Juga pengkianatan yang biasanya bersembunyi dalam selimut perjuangan.

Intinya, pesan dan kekayaan filsafati dalam film ini sangat sulit ditemui di sejumlah film Indonesia kebanyakan.

Eros Djarot (bertopi), Viva Westy dan CH. (SM/BB).

Sembari menunggu penyempurnaan lainnya, seperti menambahkan teks berbahasa Indonesia, untuk menerjemahkan penggunaan bahasa Aceh dan bahasa Belanda. Film ini, juga harus dilaraskan dengan teknis pemutaran film di bioskop masa kini. Menimbang pada 1988, saat itu film ini diedarkan dalam format siluloid.

“Selain itu, kami juga akan turut menggalakkan program yang sedang dilakukan Pemerintah via Kemenparekraf dan sejumlah Kementrian terkait, yaitu kembali ke bioskop untuk menonton film Indonesia atau film Nasional,” kata Christine Hakim lagi.

Sebagai langkah awal, pada tanggal 20 Mei besok, film Tjoet Nja’ Dhien, akan diedarkan di lima (5) layar bioskop dulu di Jakarta. “Jika tanggapan publik baik, kami akan meminta tambahan layar ke pihak bioskop,” imbuh Christine Hakim yang saat melakoni sosok Tjoet Nja’ Dhien masih berusia 28 tahun.

BACA JUGA :  Innalillahi...Komedian Sapri Pantun Meninggal Dunia
Wina Armada (bertopi bawah), Eros Djarot (bertopi atas), Viva Westi.dan CH. (SM/BB).

Eros Djarot (71) menambahkan, film ini akan memberikan wawasan berbeda kepada penonton film nasional saat ini. Bukan semata bernarasi tentang arti kepahlawan dan pengorbanan, tapi juga semangat kemanusiaan dengan semua unsur yang menyertainya.

“Banyak cerita heroik saat saya menggarap film ini. Bahkan pada saat menulis skenarionya juga banyak kejutan di sana. Time flies, ngga terasa ini pernah diedarkan pada 1988, meski prosesnya dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya. Termasuk harus mendatangkan mas Slamet (Rahardjo) yang saat itu masih ada di Amerika Serikat, untuk segera balik ke Jakarta, agar berlakon sebagai Teuku Umar. Kemudian saya drill di tengah hutan Aceh, agar bisa segera bisa berbahasa Aceh,”  cerita Eros Djarot.

Segendang sepenarian dengan Christine Hakim, Eros mengatakan, film ini bukan semata bernarasi tentang arti penting perjuangan, dan kerelaan berkorban demi meraih kebebasan. Tapi juga bagaimana sepatutnya menghadapi intrik dan pengkianatan dari kawan seiring. Yang notabene masih dan acap terjadi di perikehidupan masa kini. Apalagi dalam dunia politik dan kebangsaan.

CH dan Ibunda. (SM/BB)

Eros dan Christine Hakim juga mengucapkan terima kasih kepada pihak XXI yang masih memberikan kesempatan film Tjoet Nja’ Dhien untuk bertemu kembali dengan penontonnya.

Karena bukan tidak mungkin, setelah diputar di Jakarta, film yang ditabalkan sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik  (Eros Djarot), Pemeran Wanita Terbaik (Christine Hakim), Skenario Terbaik (Eros Djarot), Cerita Asli Terbaik ( Eros Djarot), Tata Sinematografi Terbaik  (George Kamarullah), Tata Artistik Terbaik (Benny Benhardi),  dan Tata Musik Terbaik (Idris Sardi) pada FFI 1988, ini akan diputar di sejumlah kota besar lainnya di Indonesia. Seperti di Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, serta berbagai kota besar lainnya.

BACA JUGA :  Cinta Subuh Rilis First Look.

Film yang pada masanya diproduseri Alwin Abdullah, Alwin Arifin
dan Sugeng Djarot (nama asli Eros Djarot), ini selain dilakoni Christine Hakim, dan Slamet Rahardjo
juga diperankan oleh Piet Burnama, Rudy Wowor, Rosihan Anwar, Ibrahim Kadir, dan banyak nama lainnya. (Bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *