Menyiapkan Kepemimpinan Milenial

Oleh Nurhidayati

GENERASI milenial menarik untuk didiskusikan dalam dunia kerja. Mereka jumlahnya cukup signifikan sebesar 89 juta jiwa (33,75% populasi Indonesia) dan sekitar 57,6 juta jiwa (67,5%) sudah memasuki dunia kerja. Data menyebutkan, komposisi generasi milenial dalam sebuah organisasi bisa mencapai rata-rata 50-60%.

Selanjutnya angka ini diperkirakan terus meningkat sampai 75% di tahun 2025. Terkait dengan posisi manajerial di tempat kerja, saat ini generasi milenial terindikasi sudah mulai menggeser kepemimpinan generasi X. Diperkirakan 5-10 tahun ke depan milenial akan mendominasi kepemimpinan organisasi. Dengan demikian menyiapkan kepemimpinan milenial menjadi sebuah kebutuhan organisasi sekarang.

Kepemimpinan milenial diharapkan lebih baik dalam mengendalikan laju organisasi karena mereka lebih ahli di bidang digital dan tidak rawan konflik dalam hubungan atasan-bawahan karena keragaman komposisi bawahan yang rendah. Salah satu ciri sukses seorang pemimpin adalah berhasil mempersiapkan tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya. Adalah tugas pemimpin saat ini melakukan kaderisasi.

Hal ini penting karena kepemimpinan milenial merupakan harapan sukses organisasi pada masa depan. Di bawah ini didiskusikan beberapa poin terkait kebijakan organisasi dalam mempersiapkan kepemimpinan milenial. Generasi milenial adalah digital native, mereka lahir dibentuk dan dituntut oleh zaman mampu menguasai piranti digital. Mereka memiliki rasa percaya diri terhadap penguasaan teknologi hardskill.

Namun, untuk meningkatkan ketrampilan kepemimpinan, mereka masih perlu difasilitasi dengan praktik kerja tim. Tantangan berkolaborasi dalam proyek kecil, akan menghasilkan pengetahuan dan menghasilkan pengalaman serta semakin mengasah penguasaan hardskill melalui learning by doing.

Selain itu, keterampilan manajerial dan pengambilan keputusan akan semakin matang. Peran sebagai ketua tim juga akan meningkatkan softskill mereka dalam hal komunikasi, mengarahkan bawahan dan merespons perubahan. Hal ini sangat penting bagi pemimpin masa depan, dimana mereka diharapkan paham trend perubahan, bisa berperan sebagai pemimpin cross-functional, berpikir strategis dan berkolaborasi dalam tim secara efektif.

BACA JUGA :  Ganjar Pranowo Masuk Radar Joyoboyo?

Bagi generasi milenial, kejelasan dan kepastian adalah sesuatu yang diharapkan. Dengan demikian menciptakan lingkungan kerja yang transparan dan komunikasi yang jelas merupakan tuntutan. Milenial sejatinya merupakan generasi yang gamang dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga mereka sangat memerlukan panduan dalam memahami pertanyaan ”mengapa” atas kebijakan-kebijakan kerja. Jika mereka sudah mendapatkan pemahaman ini, maka pengambilan keputusan dan cara kerja kepemimpinan mereka semakin efektif dan efisien.

Kepemimpinan juga berarti memengaruhi orang lain dan komunikasi adalah cara mempengaruhi orang lain. Membangun budaya komunikasi digital dengan mengedepankan etika komunikasi seperti kemampuan mendengar, bersimpati dan berempati penting bagi kepemimpinan milenial yang terhubung kerja 24 jam penuh.

Keterampilan emosional dalam berkomunikasi akan menjadi rekam jejak digital yang mengharuskan pemimpin bisa bertutur kata yang baik, sopan, menghindari penggunaan konten yang tidak valid serta menjaga diri dari penyebaran berita hoaks. Memberikan dukungan dan umpan balik positif.

Generasi milenial memiliki harapan dan ambisi kerja tinggi. Hasil survei menunjukkan karakter milenial adalah pekerja keras, ulet dan tangguh. Namun demikian, sebagai generasi pembelajar dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik, potensi ini perlu dimaksimalkan dengan dukungan kerja dan umpan balik. Generasi ini, termasuk generasi tidak baperan, tetapi menyukai kritik dan saran. Dengan demikian, jika milenial menjadi pemimpin, diharapkan mereka bisa menginspirasi bawahan, menghormati perbedaan, cepat merespons perubahan dan inovatif.

Kelonggaran Kerja

Karakter milenial yang cenderung memprioritaskan passion, menyukai kesenangan, dan keseimbangan perlu diberikan dukungan. Kebijakan kerja sekarang ini bisa mengarah pada bentuk kelonggaran dan customize.

Selanjutnya, kepercayaan diberikan sesuai dengan aturan main untuk memastikan efektivitas kebijakan. Sebagai contohnya kebijakan keseimbangan kerja-keluarga (workfamily balance), bekerja sekaligus berpiknik (travelling while working), fleksibilitas kerja (flexible working), bisa dibuatkan konsep dan target penilaian kinerja secara berbeda.

BACA JUGA :  Hidup Harus Lebih Dari Sekedarnya.

Kelonggaran kerja ini bisa menjadi sarana pembelajaran dalam pengaturan waktu, pengelolaan sumber daya dan tanggung jawab mandiri serta pengasahan daya kreativitas yang menjadi syarat bagi calon pemimpin masa depan. Sekarang ini banyak bermunculan tokoh pemimpin dari hasil program mentorship.

Milenial dipasangkan dengan seorang tokoh pemimpin dan milenial tersebut diharapkan bisa menyerap semua ilmu dari sang tokoh tersebut selama 24 jam, baik ilmu manajerial, ilmu kepemimpinan dan ilmu kehidupan. Proses mentoring atau ”nyantrik” ini relevan dalam konteks pembentukan karakter kepemimpinan milenial. Literatur menyebutkan, gaya hidup serba instan dan berorientasi hasil adalah kecenderungan milenial.

Dalam proses ”nyantrik”, milenial diharapkan lebih bisa memahami dan menghargai proses. Penggabungan orientasi proses dan hasil, diharapkan membentuk karakter kuat pemimpin milenial, lebih tangkas, namun bijaksana dan berempati dalam membuat kebijakan. (34)

— Nurhidayati, dosen Fakultas Ekonomi dan Sekprodi PDIM Unissula Semarang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *