Lanjutkan Tren Positif, Penyaluran Pembiayaan BFI Finance Tumbuh 35,3 Persen

Kantor BFI Finance. (Foto istimewa)

TANGERANG SELATAN– Harapan baru dengan pola hidup dan kebiasaan yang baru di 2021 membuahkan sinyal positif bagi PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance), yang ditandai dengan kinerja yang baik di kuartal pertama ini.

Penyaluran pembiayaan baru (booking) perusahaan tercatat meningkat 35,3% sebesar Rp2,93 triliun dibandingkan booking pada kuartal IV/2020. Peningkatan nilai ini turut mengerek kenaikan laba bersih sebesar 26,8% menjadi Rp230 miliar dibandingkan triwulan akhir 2020.

Meskipun BFI Finance sudah membuka semua lini produk pembiayaannya, perusahaan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian mengingat perekonomian belum sepenuhnya stabil. Menurut Finance Director BFI Finance Sudjono, peningkatan penyaluran pembiayaan ini menandakan ekonomi masyarakat mulai bergerak.

“Titik jenuh masyarakat untuk melawan dan bangkit dengan pola hidup yang baru semakin besar. Namun demikian, perhitungan terhadap semua risiko tetap kami lakukan secara cermat untuk menjaga kinerja Perusahaan yang sehat,” tutur Sudjono melalui keterangannya, Jumat (23/4).

Terdapat peningkatan rasio Non-Performing Financing (NPF) QoQ sebesar 55 basis points menjadi 2,3% dari sebelumnya 1,7%, yang terjadi sebagai dampak dari program restrukturisasi di mana terdapat konsumen yang tidak dapat memenuhi komitmen pembayaran angsurannya. Porsi piutang restrukturisasi per 31 Maret 2021 sendiri telah mencapai Rp3,6 triliun atau 26,5% dari Total Piutang yang Dikelola. Jumlah tersebut menurun dari nilai tertinggi sebesar Rp5,3 triliun di kuartal III/2020.

“Penurunan saldo piutang yang direstrukturisasi sebesar 32,2% tersebut menunjukkan upaya maksimal yang telah dilakukan oleh Perusahaan untuk menangani kontrak restrukturisasi sekaligus memitigasi risiko yang timbul,” tutur Sudjono.

Selanjutnya, perusahaan juga telah mengantisipasi kenaikan NPF tersebut dengan meningkatkan jumlah Cadangan Kerugian Piutang dari 7,1% di akhir 2020, menjadi 7,5% di kuartal I/2021. Hal ini membuktikan bahwa Perusahaan tidak pernah lengah dalam menjaga manajemen risiko yang hati-hati dan bijaksana di tengah kondisi saat ini. “Tingkat cadangan mencapai 3,3x besarnya piutang yang bermasalah (NPF). Dua kali rata-rata industri, yang berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan, tercatat sebesar 1,6x,” terang Sudjono.

BACA JUGA :  Lola Amaria: Film Asing Menjadi Tuan Rumah di Indonesia.

Sementara itu, Pendapatan Bersih Perusahaan turun 1,1% QoQ menjadi Rp780 miliar. Penurunan ini dikarenakan adanya penurunan rata-rata saldo piutang dan penurunan selisih bunga bersih.

Porsi pembiayaan paling besar adalah pembiayaan mobil bekas sebesar 72,1% disusul oleh alat berat dan mesin sebesar 13,9%.

Untuk pembiayaan motor bekas, Perusahaan mencatat porsi 9,1%, dilanjuti pembiayaan mobil baru sebesar 1,9%. Sedangkan property- backed financing (pembiayaan agunan properti) dan lainnya menyumbangkan 3% dari Total Piutang Pembiayaan Dikelola senilai Rp13,6 triliun.

Selain pembiayaan mobil bekas, alat berat juga menjadi penyumbang portofolio penyaluran kredit cukup besar. Lebih lanjut, Sudjono mengungkapkan bahwa BFI Finance menargetkan pembiayaan alat berat sebesar 20% dengan melihat bahwa sektor konstruksi, pertambangan, agrikultur, dan kehutanan mulai menunjukkan geliat positif meski konservatif. “Di kuartal II dan seterusnya nanti, kinerja baik ini akan terus kami pertahankan dan tingkatkan, dengan tetap mengawasi kelolaan risiko manajemen yang ketat karena bisnis pasca-pandemi akan memiliki tantangan yang berbeda,” jelasnya. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *