Kurikulum SMK Harus Siap Tiap Saat Diintervensi oleh Industri

SMJkt/Ist

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com – Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto menegaskan kepada kepala sekolah menengah kejuruan (SMK) bahwa kurikulum SMK harus siap setiap saat diintervensi oleh industri.

“Inilah kurikulum yang ingin kita ciptakan bersama. Semoga dalam konteks input, proses output dan outcome ini benar-benar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh industri,” tegas Wikan Sakarinto di Jakarta, Rabu (21/4).

Wikan menyampaikan, pengembangan kurikulum SMK ini tidak bisa lepas dari program link and match yang memuat paket 8+i. “Paket komplit ini senantiasa melibatkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di segala aspek penyelenggaraan pendidikan vokasi,” ujarnya.

Adapun paket 8+i tersebut mencakup kurikulum yang disusun bersama dan berstandar DUDI, pembelajaran berbasis project riil, pengajar dari industri minimal 50 jam per semester per prodi, praktik kerja industri (prakerin/magang) minimal satu semester, sertifikasi kompetensi, training rutin pengajar oleh DUDI, riset terapan bersama DUDI, dan komitmen serapan oleh DUDI. Sementara itu, 8+i adalah beasiswa atau ikatan dinas dari DUDI untuk peserta didik pendidikan vokasi.

Wikan menegaskan pentingnya passion anak dalam menentukan pilihan masuk SMK sebagai pilihan utama untuk menjadi orang yang ahli di bidangnya. Ia juga berharap bersama industri akan lebih memperkuat pola pikir visi calon peserta didik untuk memliih vokasi bukan karena terpaksa, tetapi harus sesuai dengan passion.

“Ini yang harus kita tingkatkan bersama industri, kita mendidik orang tua dan anak-anak generasi muda, milih sekolah itu passion, bukan karena gelar, bukan karena sertifikat tapi passion, tahu visi mau apa masuk SMK,” tegasnya.

Senada dengan Wikan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Perbukuan Kemendikbud, Anindito Aditomo, menyampaikan Kemendikbud telah melakukan persiapan pengembangan kurikulum SMK dengan melibatkan DUDI sesuai dengan kompetensinya masing-masing.

BACA JUGA :  P2G : Model SMK Pusat Unggulan Melalui Skema Afirmasi Tak Selesaikan Masalah

“Pengembangan kurikulum SMK ini bersifat adaptif, fleksibel, dan agile,” kata Anindito.

Beberapa perbaikan dan pengembang kurikulum SMK ke depan, di antaranya konteks mata pelajaran (mapel) teori/akademik menjadi vokasional, mapel yang berdasarkan project based learning, ide kreatif, dan kewirausahaan diadakan selama tiga semester, serta prakerin/magang minimal satu semester.

Selanjutnya, terdapat mapel pilihan, misalnya digital marketing, multimedia, bahasa asing, serta mapel berdasarkan logika dan teknologi digital. “Selain itu, kokurikuler juga wajib diadakan dengan konten bebas yang dikembangkan oleh sekolah dan guru,” tambah Wikan.

Pada bagian lain, Ketua Bidang Pendidikan dan SDM Asperindo, Yakti Suraji merasa antusias dengan adanya kegiatan bersama kepala SMK untuk mereviu kurikulum SMK. Karena merasa lulusan SMK yang ada saat ini belum sesuai dengan kebutuhan industrinya.

“Kalau kegiatan ini akan membetulkan kurikulum SMK menjadi baik, saya semangat. Ayo kita betulkan sehingga outcome-nya sesuai dengan kebutuhan industri,” sambung Yakti Suraji.

Selain menyajikan pemaparan contoh capaian pembelajaran program keahlian tertentu, acara ini juga diisi dengan diskusi kelompok dan kerja mandiri. Nantinya, masing-masing kelompok yang bekerja sama dengan DUDI akan melaporkan hasil diskusinya guna menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi kebutuhan di industri. (nya/69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *