Menparekraf dan Pekerja Seni Bersiap Sukseskan Ekspedisi 30 Summits.

Harry Koko.Santoso (kiri) dan pendukung Ekspedisi 30 Summits.(SM/BB).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Keberadaan Gunung api di Indonesia terbanyak di dunia, atau sebanyak 300 lebih gunung api. Sayangnya, sampai hari ini belum ada lembaga yang berani mendeklare gunung tanggung jawab siapa yang harus merawat dan menjaganya.

Sebelum akhirnya negara hadir di sana via Kemenparekraf yang memberikan dukungan atas Ekspedisi 30 Summits. Kegiatan yang akan dimulai pada Mei 2021 hingga Mei 2022 ini melakukan pendakian 30 puncak gunung di Indonesia sebagai ikhtiar menghidupkan pariwisata di Indonesia.

“Karenanya kami berterima kasih kepada Kemenparekraf, dalam hal ini bapak Sandiaga Salahuddin Uno yang memberikan dukungan pada Ekspedisi 30 Summits. Perjalanan ke 30 gunung dari Sabang sampai Merauke, selama 11 bulan. Sekaligus menjadikan gunung sebagai destinasi wisata baru,” kata Harry “Koko” Santoso inisiator Ekspedisi 30 Summits di Jakarta, Minggu (18/4/2021) petang.

Didampingi Ida Bagus Charma,
Citra Utami, Awe dari Samawe Adventure dan Ananda Sukarlan, Koko menambahkan keberadaan gunung api sangat penting bagi bangsa Indonesia.

“Negeri kita ketahanan airnya ada di gunung. Dan air menjadi sumber kehidupan. Karenanya gunung menjadi penting. Sehingga diharapkan kita mampu mengelola gunung dengan baik, termasuk ketahanan airnya. Sehingga air menjadi berkah, bukan musibah,” imbuh Koko.

Masih menurut Koko, negara hadir dalam pelestarian gunung di ekspedisi ini, dalam wujud yang akan dikonkretkan dalam waktu dekat ini. “Apa wujudnya dari kehadiran Negara? Yang pasti negara menganjurkan kami menjalankan prokes CHSE selama ekspedisi. Besaran dukungan materi belum tahu jumlahnya, masih berproses dalam dua Minggu ini,” kata Koko yang akan mematuhi penerapan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 berbasis CHSE, yaitu Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan)dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan).

BACA JUGA :  Novel Disorder; Akmal Membaik Dengan Sendirinya.

Segendang sepenarian, Ida Bagus Charma, pendaki gunung senior menjelaskan, kegiatan ekspedisi ini menurut dia, sangat penting sekali.

“Apapun kegiatannya, mas Koko yang dicari. Seperti teh botol Sosro. Dari musik sampai mendaki gunung, mas Joko ada di sana. Samawe Adventure juga luar biasa, karenanya harus kita dukung. Karena pada dasarnya, pekerjaan luar ruang sangat bagus. Banyak berkah dari gunung, self spiritual banyak dijumpai di sana,” kata pendaki yang juga kawan akrab Mick Jagger, itu.

Ananda Sukarlan. (SM/BB).

Ananda Sukarlan yang mengaku seumur hidup tidak pernah naik gunung, berharap kegiatan positif ini, berjalan dengan sukses.

“Selama ini saya tinggal di Spanyol, saya bekerja sama dengan Ratu Sofia, ibu suri Spanyol saat ini. Terutama dalam bidang kesenian. Saat pulang ke Indonesia, kita juga menggelar sejumlah even kesenian, dengan menggelar konser ke gunung, danau dan candi. Bekerja sama dengan Dirjen Kebudayaan RI. Konser di gunung Botak, Manokwari Papua sudah dilakukan di sana, juga danau Kalimutu. Dengan piano seberat 900 kg yang dibopong dengan truk. Dari situ saya berkolaborasi dengan keindahan alam. Karenanya, ekspedisi ini bisa melakukan hal yang sama,” terang Ananda Sukarlan sembari menambahkan, intinya semua kegiatan baik, selama memperkenalkan Indonesia lewat budaya. “Harus ada pesan diplomasi kebudayaan,” imbuh dia.

Awe Samawe, motor Samawe Adventure menjelaskan kenapa dirinya memilih mendaki 30 Gunung. “Karena Al Quran ada 30 jus. Sekaligus ingin kataman Qur’an di Gunung. Tapi pada dasarnya keinginan ini berangkat dari kekecewaan pada kotornya gunung,” katanya.

Selama ini, masyarakat, menurut dia, mendaki gunung tanpa edukasi yang cukup, terutama dalam hal menjaga kebersihannya. Termasuk bagaimana menjalankan memanajemen waktu dan logistik saat naik gunung. “Dalam kegiatan nanti, kami sekaligus akan mendokumentasikan gunung dari siai human interest di 30 Gunung itu. Plus pendokumentasian desa adat yang sebenarnya ada ratusan jumlahnya,” katanya lagi.

BACA JUGA :  Presiden Jokowi Tinjau Vaksinasi Massal Bagi Wartawan

Dukungan Kemenparekraf.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, bersama sejumlah seniman juga memberikan dukungannya buat kegiatan Ekspedisi 30 Summits.

“Saya mengucapkan dan mendukung kegiatan anak bangsa bernama Samawe Adventure, yakni Ekspidisi 30 Summit, perjalanan 30 gunung,” kata Sandiaga dalam kata sambutannya yang direkam.

Musisi turut.memberikan dukungan pada Ekspedisi 30 Summits. (SM/BB).

Sandiaga mengatakan kegiatan ini selaras dengan upaya menghidupkan dan menggeliatkan kembali pariwisata di Indonesia. Ia mengapresiasi kegiatan yang di disajikan dalam karya dokumenter berisi eksplorasi keindahan alam serta kearifan budaya dan beragam desa adat di Indonesia.

“Ini mendukung positif mendukung destinasi baru pariwisata di negeri kita. Semoga usaha ini dilancarkan oleh yang Maha Kuasa. Kami memberikan semangat dan motivasi agar kegiatan ini bisa membawa kemaslahatan buat bangsa Indoensia,” imbuh Sandiaga.

Raden Bambang Adi Wijaya, salah satu founder Samawe Adventure sekaligus pendaki utama dalam ekspedisi 30 Summits, menjelaskan kickoff kegiatan ini bakal dilakukan pada 26 Mei mendatang. “Gunung pertama yang akan didaki adalah Gunung Leuser di Aceh,” katanya.

Awe — demikian Raden biasa disapa — menjelaskan ekspedisi ini rencananya berdurasi waktu sekitar 11 bulan. Dari 30 puncak gunung tersebut, nantinya dibagi ke dalam tiga etape pendakian. Pendaki inti yang akan terlibat berjumlah enam orang. Rinciannya adalah masing-masing dua pendaki utama dan pendaki lokal, serta dua orang videografer.

“Etape pertama wilayah Sumatera. Gunung yang didaki rencananya Leuser, Singgalang-Merapi, Kerinci, dan Dempo di Palembang. Selanjutnya etape kedua gunung di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Lalu etape ketiga wilayah Sulawesi, Kalimantan, Ambon, dan Papua,” katanya sembari menambahkan, di setiap pendakian, sebenarnya melibatkan 18 lebih personil. Dengan keahlian masing-masing. Termasuk tim kesehatan.

BACA JUGA :  Pendataan Keluarga 2021 untuk Pemerataan Pembangunan

“Dalam eksepedisi ini kita mencoba merekam semua kondisi faktual dari setiap gunung melalui video. Tapi kami tidak hanya sekadar mendaki saja tetapi ada misi yang bersifat refleksi dengan cara melantunkan ayat Alquran dari atas gunung,” pungkasnya.(bb-69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *