Idu Geni Yusuf Susilo Hartono.

Gurit Saidu; Antalogi Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer (2021). (SM/BB).

Gurit Saidu; Antalogi Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer (2021).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com
Melihat mas Yusuf Susilo Hartono (YSH) (63) adalah melihat puisi itu sendiri. YSH adalah puisi berjalan. Pelukis, penyair dan pewarta senior ini, adalah puisi hidup. Paling tidak demikianlah sedekat pengamatan saya, yang nyaris dua dasawarsa mengenalnya.

Pernah sebuah saat dia menggubah atau mengalih mediakan sebuah lakon teater dalam sebuah lukisan. YSH bersitekun di bibir panggung TIM, Jakarta, mengamati lakon teater, sembari melukis salah sebuah adegan yang menancap di benaknya.

Setelah lakon teater purna nyaris dua jam, demikian juga pembacaannya atas lakon itu pada sebuah kanvas. YSH bersajak via lukisannya.

Di lain waktu, tetiba dia membagikan buku geguritanya. Ditulis dalam bahasa Jawa yang bening. Ngoko dan Alus. Yang kemudian memenangi Hadiah Sastra (Jawa) Rancage pada 2012. Di momen lainnya lagi, dia menggelar pameran lukisan, atau sketsa di beberapa kota. Yang terkini, lahir Gurit Saidu; Antalogi Puisi Jawa (Geguritan) Kontemporer (2021).

Berbeda dengan penyair kebanyakan. Yang galib petentang petenteng, atau petatah petitih dengan urusan estetika, juga isi. Tapi aku liriknya cenderung berpunggungan, bahkan berseberangan dengan aku penyair, tidak demikian dengan puisi (gurit) dan YSH. Sehingga acap diungkapkan dengan ujaran; lepaskan puisi dengan penyairnya. Hal itu tidak berlaku dengan YSH dan Geguritannya.

Ia menyatu, manunggal dan masing-masing tidak menjadikan liyan. Saling menguatkan. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

YSH (Doc Pribadi).

Karena puisi YSH adalah amalan yang dijalankan Aku Penyair dalam keseharian. Sebagaimana personanya, aku lirik gurit YSH sejalan dengan tingkah polah personanya. Sama-sama sopan, tenang, menep, tidak berkobar-kobar, dan sesak makna kiasan.

BACA JUGA :  Tempat Pariwisata Wajib Penuhi Protokol CHSE.

Buahnya tidak mengherankan jika Gurit Saidu YSH malih rupa menjelma Idu Geni. Ludah Api. Yang bersiap menyambar siap saja, tanpa terkecuali, dengan catatan mudeng (mengerti) dengan kedalaman lirik guritnya yang rapi, pepat, rapat tapi dalem.

Meski dalam hemat saya, sayangnya, di tujuh bab yang ada di buku ini, tidak ada bab tentang; Penguasa. Saya berharap menemukan pamlet dalam gurit ini, sehingga YSH menjelma resi yang kawi, kemudian dengan kesaktian guritnya mengingatkan kekuasaan yang cenderung alpa di rezim mana saja.

Meski tetap ada yang nyerempet-nyerempet. Seperti gurit berjudul; Kuwalat. //Dolanan rakyat/kuwalat wekasane//. (Mempermainkan rakyat/Bencana akhirnya). Juga gurit berjudul; Syahwat. //Sing Abang/ Iku Syahwat//. (Yang merah/Itu Syahwat). Diikuti gurit; Tumindak // Sing elok/ Iku Tumindak//. (Yang indah/ itu perbuatan).

Kita akan berlebihan jika menafsirkan Abang adalah warna sebuah partai besar di Indonesia. Yang kemudian Menterinya Korupsi Bansos. Bancakan uang malingan milik rakyat. Makanya dia kuwalat. Karena syahwat malingnya nggegirisi. Tumindaknya ngga ada indah-indahnya sama sekali. Asu kabeh.

Ya, tafsir ini tentu bisa jadi tidak sejalan dengan maksud aku penyair.
Tapi bukankah menafsir adalah pekerjaan paling sulit dan muskil. Tapi dalam kemuskilan itu, tetap ada ruang merdeka dalam menerjemahkan makna. Berdasarkan deretan teks (gurit) yang ada? Karenanya, pembacaan saya, tidak mengada-ngada. Bisa jadi benar adanya, berangkat dari teks yang ada. Wallaualam Bisowab.

Yang pasti aku penyair memang gemar berbagi. Sebagaimana gurit berjudul; Paweweh. //Sing Pinuji/Iku Paweweh//. (Yang terpuji/Itu Sedekah). Ya, YSH seringkali seperti para nabi, gemar berbagi. Termasuk berbagi gurit ini secara free kepada saya. Percuma. Gratis tis. Sebagaimana bukunya terdahulu. Gemar berbagai ilmu seperti para guru. Aku jadi terharu.

BACA JUGA :  Rumah Amal Unnes Bantu Mahasiswa Korban Kebakaran

Kemudian sebagai pewarta, ada gurit berjudul; Wartawan. //Wartawan mati/Tulisane Urip//. (Wartawan mati/Tulisannya hidup). Bukan sekedar tulisan, cerita YSH juga mempunyai kehidupan tak kalah panjangnya.

Dulu, dulu sekali YSH pernah bercerita. Saat masih di Bojonegoro, Jatim, harus mengantar salah seorang Penulis Besar Indonesia, yang belum lama telah pulang ke rumah Gusti Yesus, ke rumah bordil. Alih-alih turut melunaskan kenakalan, YSH bersitekun menunggu jawara satu ini sampai syahwatnya lunas, tuntas. Kemudian menyimak cerita jagoan Wira Carita ini, ihwal organ intim pekerja seks yang dikencaninya…sehingga menerbitkan tawa sampai jauh.

Demikianlah YSH penyair alim yang tidak ulama, tapi kedalamannya tak kalah dengan guru ngaji. Kelakuannya malah harum sekali. Makanya lahir Gurit Idu Geni, ini. Nggegirisi. (Bb-69).

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *