Cokelatin Signature; Mendekatkan Cokelat Ke Publik Tanah Air.

Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra. (SM/BB).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Bagaimana dan sejauh mana posisi cokelat dalam skenografi kuliner di Indonesia? Serta sejauh mana antusiasme masyarakat Indonesia terhadap cokelat, yang notabene sangat banyak bahannya di Indonesia.

Sebagaimana kita maklumi, Kakao (Theobroma cacao L.) adalah pohon budidaya di perkebunan yang banyak tumbuh di Indonesia. Tercatat, dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat.

Indonesia berada di peringkat tiga besar dunia sebagai penghasil biji cokelat, setelah Pantai Gading dan Gana. Tapi mengapa produk cokelat justru lahir dan lebih terkenal di manca negara. Terutama di Swiss, Belgia hingga Belanda. Yang ironisnya, di negara Eropa Barat itu, belum tentu pohon cokelat atau Kakao tumbuh.

Meski sebenarnya, mereka mendapatkan bahan cokelat atau biji Kakao justru dari Indonesia, juga negara Afrika dan Asia lainnya.

Berangkat dari keprihatinan itulah. Pasangan suami istri Irena Surosoputra dan Nugroho Surosoputra mendirikan Cokelatin Signature. Sebuah UMKM yang menjual produk bubuk cokelat untuk kemudian dijual ke pasar bebas. Meski untuk saat ini hanya menjual produk bubuk cokelat untuk diseduh sebagai minuman. Dan minuman cokelat siap saji dalam kemasan.

“Ke depan, bukan tidak mungkin kami menjual produk coklat batangan. Yang selama ini diidentikkan dengan produk dari manca negara,” kata Nugroho Surosoputra, co founder Cokelatin Signature saat membuka secara resmi toko offline pertama mereka di Ruko Griya Permata A1/6 Tangerang Kota, Minggu (18/4/2021).

Menghadirkan Varian Dark Chocolate, Sweet Classic, Creamy Latte, dan Java Criollo sebagai produk unggulan. Nugroho telah meyiapkan berbagai langkah strategis agar unit usaha mereka yang berdiri dari 2016, diharapkan akan semakin dekat dan dikenal publik Indonesia.

BACA JUGA :  Neraca Perdagangan Februari Kembali Surplus
Peresmian toko offline pertama Cokelatin Signature. (SM/BB).

Terutama produk terbaru mereka, bernama Java Criollo. Dijelaskan Nugroho cokelat jenis Criollo, keberadaannya hanya sebesar 10 persen di dunia. Di angka 10 persen itu, diantaranya tumbuh di Indonesia. Terutama di Jember dan Banyuwangi, di Jatim, paling banyak tumbuh Kakao super ini.

“Indonesia punya harta Karun terpendam bernama Criollo. Apa yang istimewa dari varian cokelat istimewa ini? Kelebihannya, kadar bitterness atau kepaitannya sangat rendah. Aromanya soft dan smooth, sehingga disebut fine tasted cocoa. Karenanya, harganya paling mahal,” kata Nugroho.

Dia menjelaskan, harga pasaran biji cokelat normal, dalam bentuk bubuk, rerata 50 ribu per kilo. Sedangkan harga Criolla bisa tiga sampai empat kali lipat harga cokelat standar. Karena penambahan manisnya sangat sedikit.

“Gula kurang baik bagi kesehatan. Jadi bukan coklatnya yang bikin gemuk, tapi gulanya. Salah paham publik acap terjadi dalam hal ini. Jadi, bukan cokelatnya yang bikin gemuk. Tapi gulanya. Nah, dalam Criolla, unsur gula itu sangat sedikit,” terang Nugroho.

Ayah tiga putri itu melanjutkan, pemahaman publik di Indonesia tentang Criollo sangat rendah sekali. Turunannya, selama ini cokelat varian Criollo lebih banyak diekspor ke AS dan Eropa.

“Kita ingin membangun kesadaran ini. Agar dikenal sebagai spesial bubuk minuman asli dari Indonesia,” kata Nugroho, yang selama ini menjajakan produk Cokelatin Signature via online. Serta mengikuti sejumlah pameran, baik di dalam maupun di luar negeri. Termasuk mulai menjajakan produk minuman cokelat dalam bentuk minuman jadi.

“Sampai saat ini tanggapan pasar sangat baik. Hampir tidak ada yang bilang tidak enak. Apalagi harga sangat bersaing. Antara 18.000-25.000 rupiah, per 250 mili,” katanya.

BACA JUGA :  Fiersa Besari Tak Pernah Mati.

Nugroho memastikan produk bubuk cokelat dan minuman siap sajinya,
sudah lolos uji kesehatan dengan mendapatkan sertifikat pangan dari SP-IRT (Sertikat Pangan Industri Rumah Tangga) dari Dinkes, plus sertifikat halal dari MUI.

Karenanya, dia berharap omzet per bulan di angka 50 jutaan rupiah di tengah kondisi pandemi, dapat dipertahankan sebaik mungkin. “Alhamdulillah, sejauh ini permintaan ke dari luar negeri seperti Hong Kong, Malaysia dan Singapura, masih datang, meski dalam jumlah terbatas,” katanya lagi. Sembari menyebut sejumlah granprix pameran diaikuti. Seperti pada tahun 2019 sudah ikut pameran di China Asean Expo di kota Nanning, China. Dan hebatnya produknya diterima oleh masyarakat lokal. Meski harganya dipatok di angka premium, atau seharga, 120-160 ribu.

Selama ini, Cokelatin Signature menggunakan sistem beli putus dengan petani cokelat di sejumlah tempat di Indonesia. Baik dari petani cokelat di Sulawesi, Bali, Jember dan Banyuwangi. “Kita mengambil bubuk cokelat dengan spesifikasi yang kita minta, seperti kadar air tertentu,” katanya.

Mengedukasi Publik.

Irena Surosoputra, Founder Cokelatin menambahkan. Salah satu prinsip dasar dia dan suami tercinta mendirikan line busines-nya, karena ingin memberikan dan berbagi ilmu pengetahuan ihwal betapa cokelat sangat banyak di Indonesia.

“Mengedukasi publik, Cokelatin Signature ingin menyajikan cokelat yang aman, dengan kadar gula yang rendah. Dengan palm sugar (gula aren) dan gula organik. dengan index glukemiknya rendah,” Irena sembari menjelaskan varian Dark Cokelat produknya, masih memakai gula putih atau gula pasir sebagai campuran, dalam kadar tertentu.

Irena Surosoputra dan produk Cokelatin Signature. (SM/BB).

Tapi dia berani memastikan, pada dasarnya produk cokelatnya tidak mengandung tepung atau gloten free, serta vegetarian friendly, meski belum masuk ke level vegan friendly.

Irena berpromosi, siapapun yang mengasup bubuk cokelat produksinya akan mendapatkan mood buster yang setimpal. “Bikin rileks lah,” katanya sembari menjelaskan. Sampai sejauh ini Cokelatin Signature memproduksi
1,5 ton bubuk cokelat sebulan, sambil menyerukan kampanye #BanggaCokelatIndonesia.

Berdasarkan data dari Kemendag, masyarakat Indonesia per average, atau rerata mengkonsumsi 0,4 kg per tahun per kapita. Sedangkan Singapura dan Malaysia bisa di angka 1-2 kg per tahun per kapita di atas tahun 2016 an .

“Intinya konsumsi cokelat di Indonesia sangat sedikit. Eropa dan AS bahkan bisa di angka 8 kg per orang per tahun. Ini terjadi karena cokelat dari Indonesia 85 persen diekspor ke manca negara, dan 15 persen sisanya diolah di dalam negeri,” pungkas Irena Surosoputra. (Bb-69).

BACA JUGA :  Sebanyak 6.821 Karyawan dan Pensiunan Petrokimia Gresik Ikuti Vaksinasi Bersama Kementerian BUMN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *