In Memoriam Amoroso Katamsi.

Foto; Google.

A M O R O S O
(Batavia, 21 Oktober 1938 – Jakarta 17 April 2018).

Oleh Noorca Massardi.

(Bagian 1).

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — Kabar ihwal kritisnya kondisi dokter Amoroso Katamsi kami terima Selasa, 10 April 2018, ketika kami tengah mengurus jenazah alm Danarto di RS Fatmawati. Saat itu kami rata-rata tengah fokus untuk menyelesaikan proses administrasi dan dokumen perjalanan bagi keberangkatan Mas Dan menghadap Illahi, menuju pemakaman keluarga di Sragen, Solo.

Karena itulah, saya dan Rayni N. Massardi baru sempat membesuk Mas Amoroso pada Sabtu, 14 April pkl 18.25 wib sesudah jam besuk dibuka pkl 18.00-20.00 wib di Ruang ICU RSAL Mintohardjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Di lantai dua berisi beberapa pasien itu, Mas Amoroso tampak terbaring di atas ranjang ditemani saudara perempuannya dari Jogja.

Saya datang bersama kawan Dicky Darwis, sementara Rayni menunggu di depan pintu masuk. Beberapa saat kemudian datang Mbak Ratna, putri sulung Mas Amoroso, beserta dua putri cucu Mas Amoroso. Rayni selalu menunggu di depan pintu ICU, karena ia tidak tega melihat kondisi pasien. Demikian pula setiap kali kami mengunjungi pasien di rumah sakit. Rayni jarang sekali mau menemui dan mendekat karena tidak sanggup melihat penderitaan orang lain. Kecuali bila kondisinya tidak terlalu parah.

Kondisi Mas Amoroso sendiri sekilas tampak cukup stabil. Tensinya 135/110. Hanya pernapasannya yang tersendat-sendat dan perlu dibantu oksigen melalu kedua lubang hidungnya. Mas Amoroso tampak tertidur. Sesekali kepala dan tubuhnya terguncang, untuk melepaskan batuk. Tapi, tidak membuka mata.

Menurut Mbak Ratna, Februari lalu Mas Amoroso terjatuh di kamar mandi dan patah tulang di sekitar pundak kanan. Setelah dirawat beberapa lama, kemudian boleh dibawa pulang. Pihak keluarga tampaknya tidak mengizinkan operasi penyambungan tulang mengingat kondisi fisik Mas Amoroso yang tidak mendukung, dalam usia menjelang 80 tahun (Oktober nanti).

“Bapak lahir tahun 1938 bukan 1940 seperti yang dituliskan di media,” kata Mbak Ratna.

Karena belakangan tidak mau dan tidak bisa makan, serta kemampuan motoriknya berkurang, maka Mas Amoroso dibawa lagi ke RSAL, tempatnya berpraktek sebagai dokter sebelum pensiun dari Angkatan Laut. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ada cairan yang menggenangi otak. Cairan itu harus dikeluarkan melalui operasi khusus melubangi tengkorak dan disalurkan melalui selang di dalam tubuh ke pencernaan. Namun, sekali lagi, pihak keluarga tidak mau menempuh risiko itu. Termasuk ketika ada usulan melubangi tenggorokan untuk memasang alat bantu pernapasan. Mengingat kondisi fisiknya memang sudah sepuh.

“Kami sudah ikhlas, semua dibiarkan secara alami, tanpa perlu intervensi dokter. Yang penting diberikan bantuan seperlunya, termasuk cairan makanan melalui infus,” kata Mbak Ratna.

“Semoga bisa segera pulih dan kembali pulang,” ya Mbak, kata kami sebelum pamit pulang.

Hari Minggu 15 April, kami di rumah seharian, karena kondisi fisik kami pun menurun. Rayni terkena flu cukup berat, dan saya juga mulai merasa kurang fit. Toh, kami tetap berusaha menulis di komputer. Rayni harus melanjutkan novel thrillernya “Rainbow Cake” sementara saya akan menuliskan obituari Danarto sampai bagian akhir.

Ketika kami tengah duduk di hadapan komputer masing-masing, usai sarapan pagi kopi pahit dan roti, sebuah kabar duka tiba-tiba turun dari langit. Sahabat kami, Mas Suket, yang baru kami kenal Agustus 2017, terkena serangan jantung, dan tengah dilarikan ke RSU Jogja. Istrinya menangis dan terbata-bata mengabarkan hal itu melalui telepon WA. Setengah jam kemudian, sahabat kami Oet Kusmiadi alias Suket Garinggesang meninggal dunia. Istrinya, mbak Meli mengabarkan hal itu melalui WA. Kami shock berat. Untunglah rekan kami Mas Indri Ariefiandi yang kebetulan tengah tugas di Jogja, sempat datang ke rumah duka sore hari. Dan, malam itu juga jenazah Mas Suket dimakamkan hingga selesai pkl 21.00 wib. Malam harinya, sahabat kami Christyan AS juga datang berbagi duka ke rumah keluarga Mas Suket. Begitu pula esok siangnya, Mas Yoppi Smong dan kawan dari Parangtritis KM 14 hadir bertemu keluarga alm.

BACA JUGA :  Teknologi Digital Berlari, Film Analog Menolak Mati.

Sepanjang hari itu kami hanya mampu berkomunikasi melalui media sosial. Umumnya membahas dan memberikan komentar ihwal Mas Danarto (alm) dan kemudian Mas Suket (alm), yang sangat mendadak dipanggil Illahi. Padahal pagi harinya Mas Suket masih berkomunikasi di fb mengomentari status sejumlah sahabat yang juga dahabat fb kami. Dan, saya sendiri masih melanjutkan menulis obituari tentang Mas Suket.

Toh, kabar duka belum berhenti. Senin 16 April sore, sebuah pesan wa diterima Rayni dari HP Awan Sanwani:

“Innalillahi wainnailaihi roji’un. Telah meninggal dunia tadi sore saat melatih teater di teater FISIP UI, Awan Sanwani, Bengkel Teater. Jenazah disemayamkan malam ini di Bengkel Teater Cipayung Depok.”

Sungguh absurd. Pesan kematian Awan disampaikan melalui no hp Awan sendiri? Ternyata, itu dikirimkan kawannya. Mungkin, karena dia tahu bahwa Awan baru berkomunikasi dengan Rayni, maka ia pun berinisiatif mengirimkan pesan itu dari hp Awan, yang kini ada di genggamannya. Ternyata, memang pernah ada pesan dari Awan sebelumnya, kepada Rayni, mengabarkan ihwal meninggalnya Mas Danarto. Rupanya Awan tidak tahu kami sudah seharian ikut menangani jenazah Mas Dan.

Awan Sanwani, yang kami kenal sejak ikut Teater Lisendra, tentu tak asing lagi, walau sudah bertahun-tahun tak jumpa. Sewaktu di Lisendra, ia sempat memainkan lakon saya “Kertanegara” di Teater Arena TIM, dengan sutradara Mas Dharnoto . Waktu itu, sekitar awal 1980-an, beberapa waktu setelah kami pulang dari Paris. Saat itu, kami mengusulkan perubahan konsep artistik kepada Dharnoto dan diterima. Jadilah “Kertanegara” dimainkan dalam gaya punk rock, dengan rambut warna warni, dan sang raja muncul naik sepeda motor ke pentas Teater Arena. Kostum dan make-up dibantu Dimas Mahendra dan perancang busana Adjie Notonegoro, dengan iringan musik rock.

Kabar duka berlanjut. Selasa dinihari, Rayni menerima pesan WA dari Nkis M. Dahana, istrinya Radhar P. Dahana dan Jajangcnoer Pamontjak, setelah sebelumnya, hampir setiap jam terus berkirim kabar tentang kondisi Mas Amoroso:

“Telah berpulang ke Rahmatullah, dr Amoroso Katamsi, Laksamana Pertama (Purn), pada Selasa 17 April 2018 pukul 01.40 wib, di Ruang ICU RSAL Mintohardjo. Rumah duka: Jl Kamper no 9, Komp. AL Pangkalan Jati, Pondok Labu. Kemungkinan dimakamkan ba’da Zhuhur setelah disholatkan di Mesjid Imam Bonjol Pangkalan Jati, Jakarta Selatan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga husnul khotimah, dan amal ibadah almarhum diterima Allah swt. Amin3.”

Toh, mengingat kondisi fisik kami tak memunginkan, dan kami tidak boleh mengabaikan isyarat tubuh, kami pun memutuskan untuk tetap istirahat di rumah. Kami tak bisa melayat dan mengantarkan jenazah aktor Awan Sanwani, dan tak bisa juga mengiringi kepergian aktor Teater Ketjil Amoroso Katamsi. Mohon maaf kami yang sebesar-besarnya, kepada keluarga yang ditinggalkan.

BACA JUGA :  IPW: Kapolri Listyo Sigit Prabowo Kukuhkan Geng Solo.

Perkenalan saya dengan Mas Amoroso jaraknya tidak terlalu berbeda dengan Rayni. Awalnya, tentu saja waktu saya ikut latihan rutin di Teater Ketjil, di Taman Ismail Marzuki, awal 1970-an. Biasanya kami latihan di Teater Arena bila tidak ada pertunjukan atau di Sanggar Huriah Adam, tempat biasa latihan tari.

Suatu sore saya agak terkejut ketika seorang tentara yang gagah dengan seragamnya masuk ke ruang latihan. Ternyata itu Mas Amoroso Katamsi. Seorang dokter berseragam angkatan laut. Saya lupa pangkatnya, yang pasti perwira. Mungkin Letnan Kolonel. Saya mendapat informasi, Mas Amoroso sudah lama berteater dengan Mas Arifin. Mungkin sejak di Jogja. Dengan demikian, ada dua orang perwira yang jadi aktor di Teater Ketjil. Yang satunya lagi adalah Mas Taufiq Effendi, yang saya kenal lebih dulu saat produksi “Perang Troya (Tidak Akan) Meletus,” di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki. (Saya jadi figuran yang dua kali setengah berlari melintasi panggung sambil memaki dalam bahasa Sunda. Ingat?).
Mas Taufiq Effendi adalah seorang perwira kepolisian. Ketika itu, saya pernah diajaknya ke Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, entah dalam urusan apa. Juga rombongan Teater Ketjil pernah datang hajatan ke rumahnya di daerah Ciledug, Kebayoran Lama.

Selepas tugas dari Mabes Polri, Mas Taufiq terjun ke politik dan menjadi pengurus di Partai Demokrat. Setelah SBY terpilih menjadi presiden, ia diangkat menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (2004-2009). Selama menjabat itu saya tidak pernah bertemu. Mungkin sekali dua berpapasan ketika saya menjadi pewarta. Dan baru pada 2 Januari 2018 lalu, usai malam Tahun Baru, saya bertemu Mas Taufiq secara kebetulan, ketika ia hendak makan Sop Ikan Mak Beng di Sanur, Bali.

Pertemuan-pertemuan saya dengan Mas Amoroso dan Mas Taufiq Effendi sangat jarang. Apalagi saya sebagai yunior tidak berani banyak mendekat. Terutama juga karena saya agak alergi dengan baju “seragam.” Walau kedua aktor senior itu sangat ramah tamah dan baik serta santun. Terutama juga, karena saya lebih banyak aktif di Teater Lisendra dan di Teater Bulungan, di GRJS Jakarta Selatan.

Mungkin beberapa kali kami sempat menonton mereka main di panggung bersama Teater Ketjil atau di televisi. Baik sendiri-sendiri maupun berdua. Saya tidak ingat lagi. Sampai kemudian Rayni berangkat ke Paris melanjutkan kuliah di fakultas sinematografi Universite Paris III, Sorbonne Nouvelle, atas biaya orangtuanya. Satu alma mater dengan Ang Jasman yang sudah lebih dulu kuliah di situ karena mendapat beasiswa dari pemerintah Perancis. Saya sendiri baru tiga bulan kemudian bisa menyusul ke Paris, untuk menyambung kembali cinta yang mendadak terputus, karena orangtua Rayni ingin memisahkannya dari saya: gelandangan teater tak bermasa depan!

Sepulang kami dari Paris, Oktober 1981, setelah bermukin hampir enam tahun di sana, Rayni justru lebih merapat dengan semua kalangan di Teater Ketjil, Institut Kesenian Jakarta, dan Taman Ismail Marzuki. Sementara saya sibuk bekerja sebagai pewarta di Harian Kompas dan seterusnya.

Karena Rayni lulusan sinematografi, ketika kami menonton pentas Teater Ketjil, Mas Arifin C. Noer dan Jajang C. Noer mengajak Rayni ikut dalam produksi film kolosal dan monumental “Pengkhianatan G30S/PKI” produksi PPFN, di bawah Direktur Utama G. Dwipayana. Saat itu, Mas Arifin baru menyelesaikan film pertamanya dengan PPFN “Serangan Fajar,” tentang Serangan Umum 1 Maret di Jogja, dengan Soeharto sebagi tokoh utamanya. Tugas awal Rayni adalah ikut melakukan riset dan wawancara dengan sejumlah narasumber. Ternyata, keterangan para narasumber itu tidak ada yang masuk di dalam skenario. Mungkin sekadar proforma, karena semua harus sesuai versi rezim Orde Baru.

BACA JUGA :  Dewa Budjana Rilis Single Kedua “Blue Mansion”.

Ketika syuting dimulai, dari puluhan kru film, hanya ada dua orang perempuan. Pertama, Jajang C. Noer sebagai Pencatat Skrip, dan yang kedua Rayni, sebagai Pencatat Kontinuiti. Keduanya ternyata cocok dan kompak, bahkan sampai sekarang, karena sama-sama “urang awak,” dan pernah tinggal lama di Paris. Nah, ketika itulah Rayni mengenal Mas Amoroso lebih intens, karena peranan Mas Amoroso sebagai Soeharto, melanjutkan perannya di “Serangan Fajar.” Sementara saya hanya sekali dua datang ke lokasi, terutama saat-saat syuting di Studio PPFN, Jatinegara, Jakarta Timur.

Waktu berlalu. Rayni kemudian menjadi asisten dosen D. Djajakusuma (alm) di fakultas film IKJ, sebelum kemudian mengajar sebagai dosen penuh selama satu semester. Kehadiran Rayni di IKJ tak lepas dari peranan Ang Jasman yang sudah lebih dulu pulang dari Perancis, dan mengajar di situ. Juga karena Dekannya adalah Chalid Arifin, alumni sekolah film paling bergengsi di Paris: IDHEC. Bahkan, saya pun, ketika sudah menjadi Pemimpin Redaksi MBB “Jakarta-Jakarta,” (1985-1989), sempat diminta mengajar satu semester di fakultas film IKJ.

Saya mengajar sejarah film Eropa, menggantikan Nasir Tamara (lulusan Perancis juga), yang tidak lagi mengajar di situ. Tak aneh bila kemudian muncul gosip di kalangan mahasiswa IKJ bahwa, IKJ akan “di-Perancis-kan” karena terlalu banyak eks Perancis yang mengajar di situ. Sampai saya dan Rayni tidak melanjutkan mengajar lagi. Apalagi honornya sebagai pengajar lepas sangat kecil, tak sebanding dengan riset saya yang harus saya lakukan sebelum mengajar. Lebih besar honor penulis kolom di majalah yang saya pimpin MBB “Jakarta Jakarta,” he he he.

Bertahun kemudian, Mas Amoroso diangkat menjadi Direktur Utama PPFN, menggantikan G. Dwipayana yang meninggal pada 18 Maret 1990. Ketika itu, sudah setahun saya keluar dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG), mencoba berusaha sendiri, mendirikan PT Jakarta Media Communication (JMC), dan menjadi perwakilan resmi tiga agen foto terbesar di dunia, yang berpusat di Paris: Sygma, Gamma, dan Sipa Press.

Saya meninggalkan Majalah Berita Bergambar “Jakarta-Jakarta” (di dalamnya terdapat saham G. Dwipayana dan Budi Lestari), yang saya luncurkan awal Mei 1985, dengan konsep paduan “Paris Match” (Perancis) dan “Focus” (Jepang), namun dikemas dengan citarasa saya sendiri, hasil belajar jurnalisme di Paris (1978-1981). Dan, kepergian saya dari KKG, itu sempat menggemparkan jagad jurnalisme Indonesia, karena saya mendapat “pesangon” Rp 100 juta, pada 1 April 1989, terbesar sepanjang sejarah republik pers Indonesia. Kepergian itu terpaksa saya lakukan, karena “pengkhianatan” kawan-kawan seiring, minus Tino Saroengallo dan Leila S. Chudori yang kemudian ikut keluar bersama saya, serta penulis lepas Ang Jasman dan Radhar Panca Dahana.

Suatu hari, sekitar Juli 1992, Mas Amoroso menelepon saya, meminta saya datang ke kantornya di PPFN. Padahal, sudah lama sekali kami tidak berkomunikasi dan tidak pernah bertemu. Ada apa gerangan? Untuk urusan apa? Apa rencana Allah untuk saya dan untuk Mas Amoroso?
(NCM-Bb/69).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *