Diperlakukan Berbeda dengan Peserta Lain, Alumni Politeknik ITB Ajukan Protes

Kongres IA ITB

IA ITB

BANDUNG- Kongres Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) yang digelar di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Bandung, 16-17 April 2021 dinilai tidak mengakomodasi peserta secara adil. Sebab, ada anggota yang statusnya dibedakan dengan anggota lain.

Hal itu dialami Ikatan Keluarga Alumni Politeknik Negeri Bandung (IKA Polban)/Poltek ITB. Menurut Ketua Umum IKA Poltek ITB Agus Mulyawan, para Alumni Poltek ITB merupakan satu kesatuan yang utuh sebagai anggota Keluarga Besar Ikatan Alumni ITB, adalah Anggota Biasa sesuai yang dinyatakan dalam AD/ART IA ITB.

“Namun dalam ajang demokrasi ivoting pemilihan ketua umum periode kali ini, hak menyampaikan suara kami menemui berbagai kendala yang berasal dari Panitia Pemilu,” kata Agus Mulyawan, Jumat (16/4/2021).

Agus menjelaskan, kendala yang dialami, di antaranya saat pendaftaran pemilih dinyatakan dibuka, para Alumni Politeknik ITB, tidak diberikan akses ke menu pilihan jurusan/Prodi sehingga sebagian dari anggota banyak memilih Program Profesi Insinyur (PPI) yang itu bukan merupakan Politeknik ITB.

Pihaknya baru diberikan akses sekitar dua minggu kemudian dengan akses menu Pilihan Jurusan : Program Politeknik ITB tanpa menyertakan menu berbagai pilihan jurusan/Prodi. Padahal di PPI dicantumkan berbagai jurusan/Prodi. Mereka melakukan protes dan keberatan.

“Kami Alumni ITB yang berasal dari kampus Politeknik ITB, berkuliah enam semester di kampus Ciwaruga, merasa mendapat perlakuan yang berbeda dengan pemilih Alumni ITB yang lain, khususnya yang berasal dari Program Profesi Insinyur (PPI) yang kuliah hanya dua semester. Perlu diketahui bahwa dalam penyambutan mahasiswa baru dan pelepasan (wisuda) Politeknik ITB saat itu, dilakukan oleh Rektor ITB, serta ijazah kamipun ditandatangani oleh Rektor ITB,” tegas Agus.

Dia mengemukakan, keberatan atas diskriminatifnya panitia kongres dalam pendaftaran pemilih maupun verifikasi daftar pemilih sementara untuk menjadi DPT ivoting Pemilu IA ITB telah disampaikan baik secara individu maupun surat dari Ikatan Alumni Polban/Poltek ITB kepada Panitia.

BACA JUGA :  Kasespim Polri Berikann Pembekalan   Kepada Pasis  Dikreg SESKOAL ANGKATAN KE 58 TA. 2020

Pihaknya juga menyerahkan data alumni Politeknik ITB yang berasal dari BAAK Politeknik Negeri Bandung, yang menyatakan kebenaran daftar nama-nama Alumni Angkatan 1982 – 1998 beserta NIM, tahun masuk, jurusan serta program studinya kepada pihak panitia kongres/pemilu, sebagai Alumni ITB.

Data-data ini disampaikan melalui organisasi IKA Polban/Poltek ITB dalam bentuk buku Direktori dan berikut soft copynya kurang lebih sekitar 5.700-an data alumni ITB untuk djadikan sebagai Daftar Pemilih Sementara (DPS) dalam hal ini benar tidaknya individu tersebut sebagai Alumni ITB sudah terjawab), bukan sebagai Daftar Pemilih Tetap  (DPT), dalam hal ini benar tidaknya alumni ITB tersebut yang menggunakan hak pilih harus diverifikasi/selfi/video liveness/NIK).

“Namun sampai berakhirnya masa pendaftaran DPT pada tanggal 11 April 2021, data yang disampaikan tersebut tidak pernah ada tindak lanjut sama-sekali, yang menyebabkan ribuan alumni Politeknik tidak bisa mendaftar,” lanjutnya.

Lebih jauh Agus menyampaikan bahwa pada 12 April 2021, pihaknya mendeteksi adanya penambahan akses pilihan jurusan: Program D3 Politeknik ITB dan berisi data-data DPS Alumni ITB yang berasal dari Data BAAK Politeknik Negeri Bandung. Namun pada tanggal tersebut pendaftaran sudah tidak dapat dilakukan karena sudah diluar batas pendaftaran  yang ditutup pada tanggal 11 April 2021 pukul 23.59 WIB.

“Akibatnya kami merasa malu dan marah, karena dengan penerapan teknologi maju dalam proses pemilihan ketua umum pengurus pusat IA ITB kali ini, yang di dalam kepanitiaannya diisi oleh putra-putri terbaik bangsa, justru malah menyebabkan Alumni Politeknik ITB mengalami kehilangan hak suara akibat pengurusnya sangat tidak professional dan benar-benar tidak memperhatikan ketentuan pasal-pasal AD/ART IA ITB tersebut,” ujarnya.

Menurut Agus, beberapa jawaban dari panitia pemilu IA ITB, yang menyatakan masih menunggu surat balasan atau jawaban dari pihak Rektorat ITB ataupun dari kampus Politeknik ITB Ciwaruga, berkesan melemparkan tanggung jawab atau lari dari tanggunng jawab bahwa verifikasi merupakan tanggung jawab panitia pemilu IA ITB, bukan pihak Kampus ITB.

BACA JUGA :  Digitalisasi Sekolah Jadi Salah Satu Prioritas Kemendikbudristek dalam Merdeka Belajar

“Dalam hal ini kami beserta BAAK Politeknik Negeri Bandung dan sebagai organisasi Alumni Poltek ITB/Polban sudah turut membantu menyediakan data-data tersebut sehingga memudahkan panitia kongres untuk verifikasi kealumnian menjadi DPS,” tambahnya.

Keberatan lain yang disampaikan Agus adalah adalah karena tidak dapat mendaftarkan ribuan Alumni Politeknik ITB sebagai DPT Pemilu IA ITB tersebut, maka menilai bahwa jika pemilu tetap dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, bukan hanya akan mencedari perasaan namun juga telah melukai proses demokrasi pemilu IA ITB tersebut dan berakibat lemahnya legitimasi dan keguyuban organisasi IA ITB yang sedang gencar-gencarnya dikampanyekan.

Untuk itu, pihaknya memohon supaya semua pihak menjaga asas pemilu yang langsung umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil dan tentunya menghindari diskriminasi pemilih karena sama-sama anggota Alumni ITB.

“Dengan demikian kami berharap penjelasan yang jujur dan terbuka oleh pengurus dan atau panitia kongres IA ITB perihal poin-poin tersebut,” tegasnya.

Kongres IA ITB digelar dengan agenda pemilihan Ketua Umum (Pemilu) IA ITB periode 2021-2026. Kegiatan Pemilu diikuti delapan kandidat. (bal/68)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *