Membuka Ilmu dengan Niat

Oleh Multazam Ahmad

SELAGI manusia masih hidup di dunia, pasti ia akan melakukan kegiatan atau aktivitas dalam kesehariannya. Disadari atau tidak, manusia melakukan kegiatan atau aktivitas tersebut pasti akan ada harapan yang akan dicapai. Dalam proses pencapaian tersebut ada dua hal yang perlu kita ketahui dalam pencapaian yaitu antara berhasil dan gagal.

Oleh karena itu, bisa berhasil atau tidak harus didasari dengan niat, karena niat adalah inti dari segala sesuatu. Dalam konteks mencari ilmu pun harus dilandasi dengan niat untuk mengukur adanya kemanfaatan ilmu itu sendiri setelah diperoleh.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw ”Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya” Dalam konteks menuntut ilmu, seorang pelajar, murid, dan santri hendaknya berniat untuk mencari ridha Allah Swt.

Kesalahan niat untuk mencari ilmu akan mendatangkan ketidakbaikan bagi pencari ilmu itu sendiri. Misalnya, seorang murid seharusnya berniat dalam menuntut ilmu sebagai bentuk mensyukuri nikmat akal dan tubuh. Bukan berniat untuk mencari perhatian orang lain, memperkaya diri dengan materi duniawi atau untuk mencari kedudukan.

Tetapi apabila ia mencari kedudukan itu untuk tujuan amar ma’ruf nahi munkar atau membela kebenaran dan memuliakan agama dan bukan untuk kepentingan pribadi, maka hal itu masih diperbolehkan.

Dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar hendaknya penuntut ilmu jangan sampai mengarahkannya yang orientasinya pada tujuan duniawi yang fana. Karena ilmu tidak hanya sebagai bekal dunia dan akhirat, tetapi untuk menghilangkan dan membasmi kebodohan, menghidupkan agama, dan menegakkan Islam. Islam bisa berkembang dan tegak hanya dapat didekati dengan adanya ilmu.

Pencari ilmu hendaknya memilih bidang yang terbaik yang dibutuhkan dalam menjalankan agamanya saat itu, setelah itu kemudian memilih apa yang dibutuhkan kelak. Dan dalam hal ini yang perlu didahulukan adalah ilmu tauhid dan ma’rifah untuk mengenali Allah Swt dengan dalilnya, karena keimanan seorang muqalid meskipun dianggap sah tetapi akan berdosa bila tidak mempelajari dasar-dasarnya yang kuat. Dalam segala urusan seorang murid atau pelajar sudah sepantasnya bermusyawarah dalam segala hal.

BACA JUGA :  Nasib Rakyat Desa di Palu MK

Oleh karena itu perilaku sopan, lemah lembut, bermusyawarah adalah merupakan sikap yang harus dimiliki seorang murid atau santri. Sebagaimana Allah Swt menyuruh Rasulullah Saw untuk bermusyawarah dalam segala perkara. ”Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.

Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”(QS .Ali Imran:159).

Bermusyawarah merupakan lebih penting dan wajib karena mencari ilmu adalah termasuk kepentingan tertinggi dan paling sulit. Di balik itu semua dasar utama segala sesuatu adalah kesabaran dan ketekunan tetapi hal ini jarang ditemui.

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair ”Setiap orang berupaya menggapai kedudukan yang tertinggi. Tetapi jarang sekali di kalangan orang-orang itu yang bertahan” Maka dari itu, seorang pelajar hendaknya tekun dan bersabar menghadapi buku pelajarannya, hingga ia tidak meninggalkan sama sekali. Begitu juga terhadap mata pelajaran yang ia tekuni, hingga ia tidak sibuk dengan mata pelajaran lain sebelum benar-benar memahami mata pelajaran yang pertama.

Dalam gubahan syair Imam Ali bin Abi Thalib ra. Dikatakan: ”Ketahuilah engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Aku akan memberitahumu seluruhnya secara terperinci. Enam perkara tersebut adalah kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya, nasihat guru, dan masa yang lama” Seorang murid dalam mencari teman hendaknya memilih teman yang serius dalam belajar, waraí dan yang saleh/shalehah. Dan jauhi teman yang malas, pembuat onar, banyak bicara, perusak dan pembawa fitnah. Seorang penyair berkata ”Janganlah engkau menemani pemalas dalam keadaan ini.

BACA JUGA :  Harta, Takhta, dan Pemuda

Berapa banyak orang saleh/shalehah yang rusak karena kerusakan orang lain. Orang bodoh lebih cepat menularkan kebodohannya pada orang pintar. Seperti bara api yang diletakkan pada abu, ia akan cepat padam” Maka, hendaknya seseorang pelajar dalam menuntut ilmu harus meniatkan diri mencari ridha Allah Swt dan tekun serta bersabar agar ia dapat mengambil segala yang bermanfaat untuk dirinya dan menjauhi segala yang berbahaya baginya.(34)

— Multazam Ahmad, Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *