Happy Birthday Sahabatku.

Oleh Yon Moeis.

JAKARTA, Suaramerdekajkt.com — “TUHAN, aku mohon ampun dan maaf, izinkan hari ini saya kembali memuji dia, seperti yang setiap tahun saya lakukan …

Erwiyantoro Cocomeo Cacamarica ; kawan, sahabat, saudaraku yang berhati singa ini, hari ini dia berulang tahun yang, sudah melewati ‘kepala enam’. Pencapaian yang sungguh luar biasa”.

Hampir 40 tahun saya mengenal – luar dan dalam, tentu saja – sosok yang satu ini sejak pertama kali kami bertemu di “Lenteng Agung of University” pada 1981. Teman satu kampus, satu profesi (kami satu liputan; olahraga), satu permainan, dan satu perasaan, terutama yang menyangkut kuliner, musik, dan memahami isi hati wanita.

Saya banyak belajar dari dia. Sosok pemberani, cerdas, dan tentu saja penyayang. Dia pandai membuka akses kepada siapa pun dan dimana pun. Sangat menghargai pertemanan dan setia kawan.

Dia adalah pembisik banyak tokoh di negeri ini; termasuk walikota, bupati, gubernur. Bahkan, tembok istana yang kokoh pun bisa dia tembus hanya tuk menyampaikan “bisikan” yang ngeri-ngeri sedap.

Dia memang kontroversial. Tapi dia tak henti memunculkan ide-ide cemerlang. Gagasan-gagasan yang ia kemas hanya untuk membahagiakan banyak orang, siapa pun.

Kami pergi kemana-mana; menikmati sepak bola, keindahan-keindahan alam di negeri ini, dan kuliner — misalnya, hanya tuk ingin menikmati soto segeer, kami harus berangkat ke Boyolali atau hanya tuk segelas wine, kami pergi ke Canggu, Bali.

Dia adalah kawan yang menyenangkan. Pola hidupnya ia jalani dengan memperagakan “total football” milik Rinus Mitchel, dengan tanpa harus berperan sebagai Johan Cruyff. Berjalan apa adanya dan ia jalani dengan langkah-langkah kakinya; sekali pun perjalanan yang ia harus lalui itu terjal, tajam, dan berliku.

BACA JUGA :  Nasionalisme Milenial.

Dia adalah manusia kuat; ingat ketika dia merintih menahan sakit ketika harus istirahat di ruang Cempaka Rumah Sakit Cipto Mangunkusoemo. Dia mampu menghadapi situasi sulit dan keluar dari sana. Tapi, sesungguhnya dia adalah manusia lemah yang bisa “kalah” dan “dikalahkan” jika dia dihadapkan pada persoalan teman.

Bertahun-tahun bersamanya, bisa jadi saya adalah salah satu kawan yang bisa leluasa mengintip isi dan suasana hatinya. Dia adalah kawan yang bisa menyebalkan, sahabat dalam suka dan duka, dan saudara yang memahami perasaan masing-masing; soal sepak bola, kuliner, dan wanita, sudah pasti, kami satu suara dan satu perasaan.

Hari ini, tidak ada alasan tuk saya tidak mengirim doa untuknya.

“Toro, sahabat, saudaraku, happy birthday, sehat-sehat dan terus bahagia bersama orang-orang tercinta …. ” (Bb-69).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *